One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab 26. Gudang terbengkalai



Hari sudah gelap dan kami sudah bersiap dari tadi. Karena banyak orang suasana tidak semenyeramkan saat sendirian, meski masih banyak setan yang bermunculan.


"Baiklah sebelum berangkat, aku akan memberitahu sedikit soal sekolah ini saat malam hari. Disini banyak setan yang cukup agresif dan menyerang sembarangan mereka kebanyakan adalah setan murid. Selain itu ada beberapa setan yang tidak agresif tapi terbatas sebut saja setan khusus, yang terakhir adalah setan yang berada di satu tempat saja tapi agresif jika kita mendekat sebut saja setan guru. Meski kalian diserang dan seperti akan mati, akan tetap baik-baik saja itu adalah kutukan umum sekolah saat malam. Jadi tidak perlu khawatir meski kehilangan salah satu anggota tubuh".


Deni mengangkat tangannya "bagaimana jika kita mati disini?" "Jujur saja setelah berulang kali kesini, aku tidak pernah mati sih. Jadi menurutku tidak mungkin kita akan mati disini, ada lagi?"


Salah satu guru mengangkat tangannya. Beliau ini bernama Kris, dia guru yang berkata kalau gudang itu kosong.


"Bagaimana jika gak ada di gudang itu? Pencarian ini jauh lebih berbahaya daripada siang hari"


"Tenang saja pak, kalau memang tidak ada disana. Aku tahu harus kemana mencarinya aku sudah menyelidiki itu semua. Ada lagi?"


Guru lain mengangkat tangannya. Guru ini merupakan guruku juga yang merupakan wali kelas dari kelas Ani.


Bernama Arnold "kalau kita terjebak disini bagaimana?" Pertanyaan itu... Jujur saja aku juga tidak tahu sih, tapi aku punya tebakan.


"Ingat tentang insiden Vlogger yang kesini malam hari? Mungkin kita akan terjebak selama 2 hari disini sebelum jadi gila, atau bisa saja kita akan tertahan disini sampai subuh. Aku sendiri tidak tahu soal itu. Baiklah sekarang aku akan memberi tahu rute teraman dari sini"


Ada 2 rute menuju gudang disana, meski dibilang dibelakang kelas 12 A IPA sebenarnya gudang itu ada di bawah sedangkan kelas 12 ada di lantai 2.


Alasan dibilang seperti itu adalah bagian bawah kelas 12 ditutup dan disemen. Aku tidak tahu alasannya tapi di sekolah malam ini ada kelas disana yang sangat mengerikan.


Ada 2 rute yang bisa diambil lewat toilet dan menuju ke samping lewat sana atau berputar lewat depan disamping ruang guru.


Rute yang kusarankan lewat sana yang lebih aman daripada rute toilet. Selain karena setan toilet ada juga setan cermin yang masih meninggalkan trauma padaku.


Dibelakang sana ada kuntilanak merah yang berada di taman belakang dibawah pohon mangga.


Hanya dia satu-satunya setan di daerah itu. Dulu aku sempat bertemu dengannya waktu berusaha melepas kutukan Rizal.


Seharusnya dia tidak akan menyerang jika melihatku. Setelah selesai membicarakan semua itu kita langsung bersiap berangkat.


Tapi Deni tiba-tiba membeku dan menunjuk ke langit-langit yang membuatku secara refleks berbalik.


Di Langit-langit ada makhluk aneh yang seperti gumpalan daging dengan kepala manusia yang sebesar badan manusia.


Menatap kearah kami. Aku juga membeku karena tidak menyangka melihat itu, aku pernah mendengar tentang itu dari cerita bu Endang.


Tapi belum pernah melihatnya. Benda itu disebut kepala sekolah malam, keberadaanya tidak jelas dan begitu juga kemunculannya.


Tapi sekarang aku bisa menebak salah satunya, dia akan muncul saat ada banyak orang yang berada disekolah saat malam hari.


Dia tetap diam hanya mengawasi membuatku memberi isyarat untuk keluar perlahan.


Baru menghela nafas karena berhasil keluar, benda itu sudah menempel di dinding dan mengawasi kita.


Untuk sekarang aku cuma bisa mengabaikan hal itu karena banyak setan murid yang melihat kita.


"LARI!!!" Aku berlari kearah ruang guru. Mereka semua mengikutiku, sampai ada setan yang menerkam Deni dan mencakar wajahnya.


Aku memukul setan itu dan membantu Deni berdiri "pergi duluan!!" Deni mulai pergi diikuti para guru sedangkan aku diterkam banyak setan sekaligus.


Untungnya ini bukan pertama kalinya, meski tanganku ditembus banyak kuku para setan begitu juga kulitku. Aku masih bisa menyingkirkan mereka dan mengejar Deni dan para guru


"AWAS!!!" Tapi aku terlambat, Pak Arnold terkena tabrakan setan berbadan besar. Dibelakang Pak Arnold ada setan siswi yang aku kenal.


4 tangan merah darah menyatu menjadi tangan raksasa yang menyerang kearah Pak Arnold. Tapi hal itu hanya mengenai setan berbadan besar yang menindih Pak Arnold.


Aku langsung kesana menolong pak Arnold.


"Ayo cepat pak" Setan siswi itu menyerang sembarang ke sekitarku tapi tidak menggangguku sama sekali.


"Terima kasih" aku cuma bisa berterima kasih dengan suara pelan saja sambil berlari kearah Deni dan 2 guru lain yang dihadang beberapa setan sekaligus.


Tangan darah raksasa muncul dan menggenggam semua setan itu. Dari perpustakaan keluar setan lain yang kutahu.


Memanfaatkan hal itu, kami langsung melewati mereka dan pergi ke lorong itu. Sedangkan setan perpustakaan menghalangi ujung lorong itu.


Kami istirahat sebentar, apalagi keadaan pak Arnold yang sedikit mengkhawatirkan. Tubuhnya tadi sempat terpental dan menghantam tanah saat ditabrak setan itu.


Aku takut ada yang salah dengan tulangnya.


"Apa kamu selalu mengalami hal ini? Itu semua mengerikan jauh lebih mengerikan daripada saat siang hari"


Pak Kris bicara sambil meringis karena tangannya berdarah "Aldi darahmu" Berkat perkataan Deni aku baru menyadari keadaanku tidak lebih baik.


Kami sudah sampai di taman kecil belakang sekolah. Disini dipenuhi bunga merah darah, meski semua bunga itu berbeda jenis tapi warnanya tetap merah.


Dibawah pohon ada wanita yang memiliki tangan berdarah, baju berdarah dan melayang yang menatap....


Sekarang dia muncul didepan mukaku dan menyentuh wajahku sebelum tiba-tiba menghilang.


"Ta....Ta...Tadi itu kuntilanak?" Deni sampai tergagap melihat itu "kenapa dia tidak menyerang? Aku yakin kalau dia menyerang kita pasti akan tamat disini"


Pak Arnold yang sudah duduk saja berkata begitu "aku punya sedikit hubungan dengannya. Gudangnya sudah terlihat, ayo lebih cepat lebih baik"


Gudang itu dekat dengan pohon mangga. Gudang itu dari bata dan hanya memiliki satu pintu dan satu jendela.


Tidak digembok tapi terkunci "Nih Linggis, kayaknya udah bilang deh sama Pak Didi untuk digembok" Pak Kris memberikan linggis yang entah darimana.


"Semua berbeda saat siang dan malam. Itu merupakan hal wajar" Ada suara tangisan didalam gudang meski hanya terdengar sayup-sayup.


Aku memukul gagang pintu beserta tepi pintunya sampai hancur. Baru aku membuka pintu itu.


Didalam ada 2 badan. Yang satunya siswi dan satunya siswa dengan tubuh kurus kering seperti tulang dan tidak memiliki kulit di bagian rahangnya.


Hanya terlihat giginya saja. Benda itu menerkam ke arahku, karena terkejut aku tidak sempat bertahan dan sudah jatuh ketanah.


"Ma..Ka..Nan" Makhluk itu mengigit wajahku dan merobek pipiku.


Rasa sakitnya mengerikan yang lebih parah dia tidak bisa disingkirkan. Pak Kris memukul makhluk itu dengan linggis membuatnya melepaskanku dan menerkam kearah pak Kris.


Aku berdiri didepan Pak Kris dan menahan Makhluk itu dengan tanganku, tapi makhluk itu merobek daging di lenganku.


Belum juga bereaksi makhluk itu dipukul tongkat raksasa sampai tenggelam ketanah. Dan pelakunya merupakan setan guru besar dengan bambu yang menancap di punggungnya.


#bagaimana kelanjutannya? so stay tune yaa....