One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab 8 Cara mengakhiri Nightmare class



Aku membuka mataku dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Aku masih hidup? Rasa sakit saat badanku di tebas, di cambuk, dibakar seolah-olah masih menempel dengan jelas di ingatanku.


Terutama saat aku dibakar hidup-hidup dan harus menjawab soal yang membutuhkan konsentrasi tinggi.


Melihat jam yang menunjukkan pukul 8 pagi. Masih ada 4 jam sebelum aku berangkat sekolah, apalagi wali kelas memberikanku izin untuk libur seminggu.


Tapi meski begitu aku tidak mau menanggung kelas itu lagi 6 hari ke depan. Aku mengambil handphone ku dan menelpon Bu Endang.


"Siapa ini?" Suara bu Endang terdengar diseberang sana "Bu, apa ada waktu?"


"Nak Aldi ya? Apa kamu baik-baik saja?"


Suaranya terdengar khawatir dan cemas "Aku merasa akan gila kalau ikut kelas itu lagi. Bu bisa kita bertemu?"


Tidak ada jawaban dari sana. Sampai 5 menit kemudian "Tapi sekarang lagi jam pelajaran, dan ibu mengajar disekolah. Apa gak papa kamu ke sekolah?"


Mungkin bu Endang mengira aku akan depresi kali ya "Kalau gitu, aku langsung berangkat kesana. Aku matiin dulu ya bu".


Aku mematikan sambungan telepon dan bersiap pergi ke sekolah. Aku berpapasan dengan ibu saat aku keluar dari kamar.


"Baru bangun kamu? Terus sekarang mau kemana?" "Ke sekolah" Ibu menunjukkan wajah bingung.


"Bukanya kamu sekolah siang ya? Ehh Bu Endang udah hubungin ibu ya kalau kamu libur seminggu"


"Nanti ibu bisa tanya aja sama bu Endang. Aku berangkat ya" Aku langsung pergi tanpa mendengar jawaban ibu.


Aku sudah sampai disekolah. Gerbang sekolah ditutup dan proses belajar mengajar sudah dimulai.


Sekolah ini dibagi jadi 2 pagi dan siang. Yang pagi merupakan sekolah untuk anak SD dan SMP, sedangkan siang untuk anak SMA.


Aku gak kebayang anak kecil sudah ngalamin penderitaan di sekolah ini. Satpam mengawasi dari dalam sekolah.


Aku mendatanginya "Pak saya boleh masuk?".


Satpam itu memandangiku dengan teliti "Kamu anak SMA kan? SMA mulainya nanti siang".


Satpam itu menjawab sekenanya "Aku ada urusan didalam sama Bu Endang" Satpam itu tidak bicara lagi. Melainkan membukakan gerbang.


Aku masuk kedalam sekolah... dan... Apa menurutku aja, apa memang sekolah ini makin angker ya?


Di lantai 2 aku melihat anak SD yang ngegantung di dinding, Di kelas lainnya ada anak SMP yang lehernya patah dan menatap ke arahku.


Tidak jauh dariku ada guru wanita dengan wajah yang hancur sebelah, tangan yang patah dan berjalan sambil menyeret kakinya yang bengkok.


Aku gak pernah liat mereka sebelumnya. Apa kisah horor sekolah ini berbeda versi SMP dan SD serta yang SMA?


Aku mengetuk ruang guru dan masuk kedalam. Didalam ruang guru ada beberapa orang saja termasuk bu Endang yang kucari


"Nak Aldi... Duduk sini" mengikuti perkataan bu Endang aku duduk diseberang bu Endang.


"Maaf menyingung ya nak Aldi. Semalem gimana?"


Aku bergidik mengingat penderitaanku semalam "aku gak mau lagi ikut kelas itu"


Bu Endang cuma bisa menghela nafas.


"Gak bisa nak Aldi. Cuma ada 2 pilihanmu ikut secara langsung waktu malem disekolah. Atau dibawa paksa kaya kemarin".


Aku mengusap wajahku kasar "Kalau saya tahu tuh setan ada dimana, saya samperin" Bu Endang cuma terdiam saja.


Aku sering mendengar tentang Nightmare class.


Tapi anehnya tidak dengan setannya, semua orang yang mengalaminya tidak pernah melihat setannya secara langsung.


Aku sempat berpikir kalau setannya itu yang tubuhnya ditusuk-tusuk dengan bambu. Tapi anehnya aku merasa bukan dia.


Soalnya dia punya kisah yang berbeda "Bu Endang tidak tahu?" Aku menatap bu Endang dengan seksama.


"Gak ada yang tahu nak Aldi. Semua yang ngalamin hal itu, maupun guru yang dulunya lulusan sini juga gak tahu".


"Setahu ibu sih gak ada" Coba aja ada datanya pasti aku gak pusing kaya gini. Tunggu dulu data? Berarti perpustakaan kan?


Tapi gak mungkin itu ada disana. Meski begitu aku tetap pergi ke perpustakaan, untung saja yang menjaga merupakan guru, bukan Erna.


Aku mencari sesuatu yang bisa kucari kalau aku tahu apa yang aku cari. Saat sedang mencari sambil berpikir tiba-tiba setan perpustakaan muncul didepan mukaku.


Secara refleks aku berteriak, aku langsung menutup mulutku, tapi anehnya setan itu diam saja.


Setan itu memberikanku sebuah buku tebal. Ini buku Antropologi. Apa setan itu ingin aku belajar?


Apa pelajaran ini yang akan diujikan nanti malam? Setan itu berbalik "ahhh tunggu, apa kamu tahu kemana aku harus pergi kalau mau ketemu guru yang mengujiku?"


Setan itu menatapku sebentar sebelum pergi


Apa sih? Seputus asa itu aku sampai bertanya sama setan?


Aku mengambil banyak buku yang merupakan buku pelajaran. Pelajaran yang membuatku dalam situasi seperti ini.


Aku membaca buku Geografi saat aku menoleh, aku berteriak. Setan perpustakaan sudah di sampingku membawa buku tua yang gosong sedikit dan dimakan serangga.


"Buku apa itu?" Setan itu menaruh buku itu diatas meja. Dan seketika itu juga. Buku membuka halaman terakhir dimana ada denah disitu.


Apa ini denah sekolah? Tapi luas sekolah ini beda jauh. Bisa puluhan meter bedanya. Setan perpustakaan menunjuk sebuah rumah yang cukup jauh dari sekolah.


Jangan bilang kalau setan yang menarik ku ke kelas neraka tidak berada di sekolah? Terus gimana cara aku menemuinya?


Setan perpustakaan sudah hilang begitu saja. Aku menatap buku itu, meski tidak membuahkan hasil. Mungkin aku bisa tahu cara menemui setan itu dengan buku ini.


Aku melanjutkan belajarku, aku tidak mungkin menggangu bu Endang yang mengajar jadi aku meneruskan belajar.


Bel istirahat terdengar. Aku memanfaatkan hal itu untuk menemui bu Endang. Singkat cerita aku menjelaskan sedikit pertemuan dengan setan perpustakaan itu.


Bu Endang memperhatikan denah itu "kalau ibu gak salah. Itu kan rumah orang bukan sekolah"


"Coba aja ada yang bisa jelasin maksudnya ini? Bu Endang bilang lulusan sekolah ini masuk kesini jadi guru kan? Mungkin ada yang tahu"


Bu Endang menggelengkan kepala "Gak ada yang tahu. Ini denah sekolah tahun kapan? Dulu waktu ibu mulai ngajar kebanyakan yang lulusan sekolah ini gak tahu denah ini. Menurut mereka sekolah ini gak berubah banyak".


Terus ini denah darimana? Aku gak bisa baca tulisannya lagi


"Apa gak ada lulusan tertua gitu yang kesini jadi guru?" "Kalau guru gak ada. Tapi seingetku yang lulusan paling lama itu kepala sekolah".


Aku tercengang ternyata kepala sekolah juga lulusan sekolah ini. Aku dan bu Endang menemui kepala sekolah.


Kepala sekolah merupakan lulusan sekolah ini 30 tahun lalu. Melihat buku yang kubawa, kepala sekolah terdiam.


"Udah lama ini. Dulu memang sekolah ini sebesar yang ada di buku itu cuma itu udah lama sekali. Kamu tahu ga sekolah ini tuh dibangun tahun 1987".


Aku kembali tercengang sedangkan pak kepala sekolah hanya tertawa kecil saja "tempat yang kamu tunjuk itu bukan kawasan sekolah itu rumah pribadi seorang guru. Kayaknya dia juga jadi setan disekolah ini ya?" Apakah kepala sekolah mengenalnya?


"Ya. Guru itu yang membuka nightmare class".


"Sayang sekali tidak ada yang tersisa dari guru itu baik peninggalan bahkan namanya. Tapi aku ingat kalau dia itu guru yang keras. Semua siswa takut sama dia bahkan aku".


Kenapa jadi dengerin kepala sekolah cerita....?


"Jadi ada cara untuk menemuinya?"


Kepala sekolah tersenyum "gak ada. Kamu harus melalui Nightmare class lagi".


"HAH yang benar saja" Kepala sekolah melihat keluar "Dia itu guru yang sangat disiplin jadi mau cara apapun yang kamu gunakan tidak akan berguna. Tapi dia suka ditantang, katakan saja kalau kamu mau semua ujian disatukan hitung-hitung menyelesaikan kelas dengan cepat kan?"


Ya kepala sekolah benar juga. Sepertinya cuma itu jalannya.....


#makin penasaran kan....??😁


Ditunggu kelanjutannya yaa guys.....