One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab 19. Kelas misterius



Oh ya, sejak kejadian 2 life streamer itu. Banyak paranormal dan dukun yang ke sekolah saat malam.


Meski itu cuma rumor saja, bahkan saat aku disekolah malam jarang aku ketemu dengan mereka.


Karena itu aku bingung saat melihat pria paruh baya dengan pakaian hitam, blankon hitam memegang keris yang ada digudang olahraga ini.


Karena memperhatikan dia aku menarik Sheila menjauh dari sana. Aku bisa melihat dia melawan para setan yang ada disekitarnya.


Setan bergantian menyerangnya dan aku meninggalkannya saja, lagipula aku disini memiliki urusan dengan Sheila.


Sheila malah bolak-balik menatap ke arahku dan gudang itu "kamu yakin gak mau nolong dia?"


Aku cuma menatap Sheila sedikit


"Gak ada untungnya dan merugikan saja. Lebih baik cari saja kelas itu" "Ya deh. Di buku tertulis setelah kelas sebelas B belok kiri" Sheila memegang buku tebal ditangannya.


Buku itu disebut Class Diary, ada cerita tentang buku itu. Dulu ada satu kelas yang dibuat untuk murid-murid yang menderita penyakit.


Jadi semua murid disana sakit-sakitan. Jujur saja aku bingung kenapa dibuat kelas itu, ada yang bilang itu karena keinginan semua murid disana untuk tetap sekolah meski itu merupakan saat terakhirnya.


Karena itu dibuatlah buku ini. Buku ini berisi catatan baik tugas atau materi bahkan sampai kejadian dikelas itu selama jam pelajaran.


Jadi semua murid yang tidak bisa hadir bisa melihat ringkasan dan mempelajari dari buku itu. Karena itu dinamakan Class Diary


Tapi setelah beberapa lama kelas itu dihilangkan setelah semua murid disana meninggal karena satu murid yang terkena penyakit menular.


Membuat seluruh kelas tidak masuk dan akhirnya saat mereka tertular adalah hari terakhir mereka.


Setelah itu kelas tersebut dihilangkan dan dihapus, tidak ada lagi jejaknya dan bentuknya bahkan di denah sekolah lama, denah sekolah tua, denah sekolah terdahulu, sampai denah sekolah masa penjajahan sebelum jadi kuburan.


Tapi berkat keinginan muridnya, diari itu hadir disembarang kelas untuk mencatat pelajaran disana. Masalahnya adalah kutukan yang menyertainya.


Kutukan ini membuat satu persatu murid dikelas itu sakit. Sebelum itu terjadi perwakilan yang menemukan diari ini harus mengembalikan diari itu ke kelas yang hilang.


Diari ini akan menuliskan letak kelasnya hanya saja setiap kutukan itu terjadi letak kelasnya akan berubah.


Ya itu tidak sulit sama sekali. Jika tidak harus mencatat semua pelajaran disitu, benar itu adalah syarat pelepasan kutukannya.


Menulis semua catatan mata pelajaran selama 1 bulan sebelum kutukan ini terjadi. Berkat hal itu Shelina yang terkena kutukan dan aku yang paling pemberani disini sekarang.


Kami sampai di kelas yang aneh. Pertama kelas sebelas itu berderet A dan B. Tapi sekarang ada lorong yang memisahkan mereka.


Dan diujung lorong itu ada pintu kelas yang berangka X-XI-XII dan dibawahnya tertulis


'Kami selalu disini'


Melihat ini membuatku merinding. Aku membuka pintu kelas yang ternyata tidak ada setannya.


"Lebih baik cepat mulai, dan cepat selesai" Sheila langsung duduk di baris pertama, membuka buku diarinya dan mengeluarkan belasan buku catatan.


Sheila mulai menulis, aku duduk disebelahnya dan melihat ke papan tulis. Aku terdiam melihat papan tulis tertulis tulisan yang sama seperti yang ditulis Sheila.


Jika aku mendengar dengan seksama aku bisa mendengar suara coretan pada kertas seperti orang menulis di belakangku.


Juga ada suara sayup-sayup "AL....!!!!" "Ayam-ayam.... Sheila udah kubilang jangan ngagetin, apalagi pake teriak segala"


Sheila memberikan pulpen padaku "Salah sendiri bengong, udah tahu disini serem, berhantu, angker lagi. Lanjutin capek aku"


Aku melanjutkan catatan dari Sheila "Nulis semua ini kayaknya bakal makan waktu berminggu-minggu"


Sheila akhirnya mengeluh juga "Memangnya kamu gak tahu kengerian kutukan sekolah ini?


Sheila tersentak mendengar itu "Beneran?" Sheila mengeluarkan Handphonenya. Tapi tidak bisa menyala sama sekali.


"Percuma saja, semua yang masuk kesini kecuali tulisan yang kita tulis tidak akan mengalami perubahan apapun. Karena kamu masuk dalam hp keadaan mati, maka akan terus mati".


Aku lanjut menulis dengan tenang sambil menunggu jawaban dari Sheila "Be...be...berarti, kalau gak selesai kita gak bisa keluar dong?"


"Begitulah" "arghhh.... Bisa gila aku kalau terus begini... Tapi kok kamu bisa tahu semua itu, bukanya ini juga pertama kalinya?" Sheila bertanya sambil menatap tajam kearahku.


Membuatku salah tingkah "Kaya gak tahu siapa aku aja. Aku sudah cari tahu semua tentang ini tahu".


Itu benar aku sampai bertanya sama kakak kelas dan guru soal ini. Untungnya selain mencatat pelajaran selama sebulan gak ada gangguan lainnya.


Aku dan Sheila bergantian menulis catatan, aku sampai lupa berapa kali kita bergantian. Sejujurnya tidak ada rasa pegal atau lelah pada tangan begitu juga pada mata.


Tapi tetap saja mental kita lelah selama menulis, makanya sering kali kita bercanda, bercerita, bergosip disini untuk menjaga agar pikiran kita tetap waras.


Sheila menyelesaikan catatan terakhir, sambil menaruh pulpen Sheila melakukan peregangan


"Akhirnya selesai juga. Ngomong-ngomong ujian kenaikan kelas seminggu lagi ya. Kamu udah belajar?"


"Ini kan juga bisa dibilang belajar. Ayo balik, ngapain kita pacaran di kelas berhantu begini"


Sheila terlihat bergidik.


"Kamu ini ya, lagi bicara serius juga" Aku dan Sheila keluar dari kelas. Begitu sudah keluar lorong saat aku berbalik lorong yang memisahkan kelas sebelas A dan B menghilang seperti tidak pernah ada.


"Beneran lo jamnya gak jalan. Masa baru 10 menit kita disana" Sheila berbicara secara tiba-tiba membuatku kaget aja.


"Sama kamu bisa buat aku mati muda. Dibuat jantungan mulu dari tadi" "kamunya yang kagetan" Sheila menimpali kata-kata ku begitu saja.


Aku dan Sheila turun dan berjalan menuju gerbang sekolah. Aku terdiam melihat genangan darah di lapangan beserta keris disitu.


Aku memperhatikan Sheila yang acuh soal itu. Sepertinya cuma terlihat dimataku saja, ngapain mikirin beginian aku mau cepat pulang dan istirahat bersiap untuk ujian nanti.


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat ujian kenaikan kelas yang terasa lama sekaligus cepat berakhir juga.


Mentalku juga berantakan saat ujian itu dimulai, para setan malah semakin menggangu seolah-olah tidak membiarkan semuanya berlalu dengan aman.


Dan lucunya tidak ada pengawas selama ujian, guru cuma datang memberikan soal ujian dan pergi.


Meski begitu tidak ada dari kami yang bisa curang apalagi mencontek. Jika kami menyontek tulisan di kertas akan hilang secara langsung.


Bahkan beberapa kali seluruh murid di kelas kehilangan suara saat berisik membuat ujian ini semakin menyebalkan.


Seolah belum cukup, alat tulis diatas meja sering hilang begitu saja saat mau dipakai dan kembali saat tidak dibutuhkan lagi.


Yang jelas aku bersyukur semua ini sudah berakhir. Minggu depan ibuku akan kesini untuk mengambil raport dan mengakhiri statusku sebagai anak baru.


Harusnya aku bersiap untuk liburan sekarang kan? Kenapa aku berada di jalan menuju sekolah pada malam hari lagi? Andai saja aku tidak ceroboh meninggalkan handphone ku begitu saja.


Sekolah darisini terlihat terang dengan cahaya merah. Memang dasarnya sekolah angker, semakin mendekati gerbang aku bisa melihat sesosok bayangan didepan gerbang.


Aku langsung bersembunyi instingku merasakan kalau dia bukan manusia biasa yang cari mati ke sekolah itu.


Karena gelap aku tidak bisa melihat baik wajahnya atau pakaian yang dia kenakan. Tapi aku melihat dia memegang sesuatu ditangannya.


Aku bisa mendengar dia bicara. Suaranya seperti laki-laki "Aku tidak menyangka sekolah ini akan memberikanku banyak hal. Mungkin tidak lama lagi bencana besar bisa lahir disini, aku jadi tidak sabar lagi"


Sosok itu pergi kearah sebaliknya dari tempatku berada dan menghilang di dalam kegelapan. Siapa sebenarnya dia?