One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab 10 Pantulan cermin



Aku kembali ke sekolah setelah 2 hari tidak masuk dan berada dirumah. Ibu marah besar setelah sampai dirumah sampai ingin memindahkan aku dari sekolah ini.


Awalnya sih aku setuju, apalagi sekolah itu semakin mengerikan saja. Tapi aku langsung berubah pikiran saat melihat kaca jendelaku ada makhluk aneh yang berdiri di belakang ibu.


Makhluk itu seluruh tubuhnya hanya ada jubah hitam, tangan ataupun kakinya tidak terlihat tapi yang menarik perhatianku pisau tajam yang ada di bayangan leher ibu.


Aku langsung membatalkan niat ibu untuk memindahkan ku, meski sedikit berdebat dan berakhir setelah aku berjanji akan mengabari ibu sesaat sebelum pulang sekolah.


Di kelas sebelum masuk aku banyak melamun. Banyak setan dikelas ini yang masih teringat di kepalaku.


"Aldi!!!" "Ayam-ayam-ayam... goreng. KAMU LAGI RIZALLLL...." Pelaku yang membuatku kaget malah hanya tertawa saja.


"Maaf... sumpah kamu lucu banget waktu latah. Sama setan gak kaget, gak takut. Dikagetin malah begitu" Rizal masih menahan tawa setelah bicara.


Benar-benar menarik hasratku untuk menendangnya "eh Al. Aku masih penasaran kok setan di perpustakaan nurut sama kamu?"


Aku mengabaikan Rizal "Jawab ke Aldi" Aku mulai jengkel pada Rizal "Aku gak tahu. OK, kalau tahu pun, gak bakal ku kasih tahu".


Akhirnya Rizal diam "oh gitu ya" Atau tidak "Aku dengar kamu disekolah semalaman ya? Ngapain? Ada apa disekolah?"


Aku jadi semakin kesal saja dengan Rizal ini "Kalau mau tahu dateng aja sendiri kenapa pake ganggu aku sih. Ngeselin banget jadi orang".


"Ya maaf... Aku gak tahu kalau kamu risih". Meski Rizal meminta maaf aku mengabaikannya. Mood aku lagi hancur, dia dateng malah bikin aku darah tinggi aja.


Bel masuk berbunyi dan pelajaran dimulai. Menjelang istirahat adalah pelajaran olahraga semua temanku sudah ganti baju dan berbaris di lapangan.


Kelas dimulai dengan pemanasan sebentar


"Aldi, Rizal tolong ambilkan matras di gudang olahraga"


Aku merasakan firasat buruk "Maaf pak, apa harus saya?" Guru olahraga itu menatap balik aku.


"Tinggal ambil aja kok repot" Aku dan Rizal pergi ke gudang olahraga. Gudang itu menyimpan berbagai alat untuk olahraga.


Dari matras, bola, raket, bahkan gawang dan net juga ada "Al kamu masih marah? Aku udah minta maaf kan?"


Nih anak satu, dia aja gak tahu salahnya dimana. Aku mengabaikan Rizal dan menarik matras yang diatasnya ada berbagai benda olahraga.


Ada cermin disini? Aku melihat cermin sebesar yang biasa ditaruh di meja rias dibawah matras


"Apa ini?" Aku mengambil cermin itu dan bingung.


Ini beneran cermin kan? Gak ada bayanganku disini. Tiba-tiba tangan muncul dari cermin dan itu bukan tanganku.


Langsung muncul wajah aku dengan keadaan tersayat-sayat. Aku terkejut dan menjatuhkan cermin itu.


Cerminnya tidak pecah saat jatuh. Tapi aku masih sedikit gemetar "Ada apa Aldi?" Rizal yang tadinya entah darimana mendatangiku.


"Aku nemu cermin dibawah matras" Rizal melihat cermin yang jatuh tadi, sepertinya Rizal curiga dengan...


"Berhantu ya?" Aku kaget mendengar pertanyaan itu "iya...Enggak siapa yang bilang cerminya berhantu"


Rizal menatap curiga padaku "Kayaknya memang berhantu. Tapi aku tidak menyangka ada disini kukira ada di gudang".


Aku bingung mendengar hal itu "Apaan? Cermin?" Rizal hanya melirik sebentar ke arahku.


"Ya. Terakhir kali itu ada di gudang 3 tahun lalu lah, Alumni sekolah ini. Dulu yang sempat melihat pantulan wajahnya seorang siswi waktu itu. Dan dia meninggal sebelum lulus sekolah ini".


Aku menatap tidak percaya pada Rizal "itu bohong kan? Berita Hoaks kan?" Rizal menggelengkan kepalanya.


"gak itu bukan bohong. Beritanya pernah ada di televisi. Menurut dia yang melihat cermin itu, akan terpantul bayangannya terakhir melihat cermin."


Rizal mengambil cermin itu tapi tidak menghadap keatas "Dan kamu tahu apa yang lebih mengerikannya?"


Entah kenapa aku jadi penasaran "Apa itu?"


Rizal memperhatikanku dengan seksama


"Kamu tadi melihat pantulan bayanganmu ya?"


"Tunggu dulu... Kamu bercanda kan?" Rizal mengacuhkanku dan berjalan ke tumpukan kardus.


Memasukkan cermin itu kedalam sana dan kembali "Kita keluarin dulu matrasnya. Baru kamu bisa ke toilet nanti, ngaca di cermin."


Aku cuma mengangguk membantu Rizal mengeluarkan matras. Karena huruf absenku yang pertama, aku duluan yang mulai ambil nilai.


Setelah itu aku pergi ke toilet, seingetku didekat toilet ada wastafel dengan cermin disitu. Aku sampai di toilet, begitu aku melihat bayanganku, aku jatuh terduduk.


"Apa-apaan ini?" Wajahku tersayat-sayat seperti luka bekas goresan benda tajam tapi tidak besar.


Kaya terkena pecahan cermin. Baju yang kupakai juga dipenuhi darah, begitu juga wajahku.


Sedangkan tanganku ada luka tebasan di sepanjang lenganku. Ini mengerikan, aku harus cari cara melepas kutukan ini.


Kalau tidak aku tidak akan bisa melihat bayangan cermin dan kaca lagi. Aku kembali ke lapangan melihat temanku yang lain mengambil nilai.


Setelah kelas olahraga adalah jam istirahat. Aku pergi ke perpustakaan mengembalikan buku yang sempat aku pinjam sebelum UTS.


Mendadak buku itu berhenti menjerit setelah UTS karena itu aku sampai lupa akan keberadaan buku itu.


Erna melihat buku di tanganku dan terkejut "Tumben ada yang telat mengembalikan buku? Memang tidak terganggu?"


"Entahlah buku itu mendadak diam" Erna terkejut bukan main sampai mematung karena aku menjawabnya.


Erna menunjuk kebelakang aku. Aku berbalik dan melihat setan perpustakaan, aneh. Aku sempat melihat setan itu tersentak sebentar.


Aku berjalan melewati setan itu yang lagi-lagi hal itu membuat Erna terkejut. Seingatku ada cermin disini.


Bukan milik perpustakaan tapi milik siswi yang sempat aku lihat saat dia masuk ke perpustakaan.


Siswi itu meninggalkan cermin kecil di antara buku. Seingatku di rak ini deh, aku berhasil menemukannya.


Aku melihat bayanganku yang lebih buruk dari sebelumnya. Kulit di wajahku jadi hitam, semua luka sayatan itu seperti terlihat membusuk.


Tunggu,, kalau terus begini, apa nanti yang muncul di cermin adalah mayatku? Yang benar saja.


"Kamu tahu soal ini?" Meski tidak terlihat di cermin, aku tahu setan perpustakaan itu sudah di belakang punggungku.


Aku berbalik menatap setan perpustakaan yang ada di belakang punggungku. Setan itu langsung menghilang dari hadapanku.


Semoga benar kamu tahu sesuatu, aku pergi ke rak buku untuk mencari sejarah sekolah ini atau apapun yang berhubungan dengan cermin.


Percuma aku tidak tahu apa yang harus kucari.


Harusnya aku mencari rumor atau cerita hantu yang ada.


Tapi soal cermin itu pun hanya sedikit yang tahu. Meski cermin yang tadi kuambil masih terlihat di mata, aku tidak berani mendekatinya.


Karena takut melihat bayanganku di cermin nanti. Harusnya aku pergi keluar dan bertanya kepada para murid atau guru.


Tapi aku merasa tidak yakin mereka tahu. Satu-satunya yang kupikir akan tahu adalah kepala sekolah.


Tapi kepala sekolah sedang pergi dan tidak ada disekolah ini. Bel masuk berbunyi, padahal setan perpustakaan belum kembali.


Cuma dia satu-satunya harapanku. Mungkin dia tahu sesuatu, aku menghela nafas dan berjalan kearah pintu keluar yang lagi-lagi sudah dihalangi Erna.


"Gak minjem buku?" Aku menatap Erna "enggak. Minggir sana! Aku mau keluar" Erna mematung dan menunjuk kebelakang.


Setan perpustakaan sudah di belakangku. Dia memberikanku sebuah buku yang berisi data siswa setiap tahun.


Yang dia tunjukkan adalah data siswa tahun 1997. Data anak kelas 11 yang menurutku normal saja.


Semoga ada sesuatu disitu yang akan membantuku....


#semangat berpuasa yaa guys.... 😉