One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab. 31 Hari belajar pertama dikelas 3



Tidak menunggu lama guru datang dan pelajaran dimulai. Sebentar lagi jam istirahat dan kepalaku rasanya udah hampir meledak.


Suara teriakan teman sekelasku kembali terdengar, itu adalah yang ke 20 kalinya. Kami semua berusaha mengacuhkan hal itu kalau tidak tempat ini akan jadi neraka.


Aku meremehkan hal ini, aku terlalu sombong dan aku menyesal telat bertanya pada Tasya soal hal ini.


Tiba-tiba wajah muncul di mejaku membuatku secara refleks berteriak. Inilah maksudku bahkan memikirkan hal lain selain materi pelajaran saja dilarang.


Setelah beberapa jam penuh penderitaan akhirnya bel istirahat berbunyi. Semua yang ada di kelas termasuk aku bergegas keluar kelas.


Bahkan karena terburu-buru meja guru sampai jatuh karena ditabrak. Masalahnya semua yang ada diatas meja jatuh berceceran dilantai.


Termasuk tinta spidol yang tumpah dan membuat lantai jadi hitam. Melihat ini kami semua berkeringat, dan melihat pintu keluar yang dihalangi setan siswi berkaca mata yang matanya mengeluarkan darah dan kedua tangannya yang hitam.


Akhirnya terpaksa kami sekelas membantu membersihkan kekacauan itu dan membuat waktu istirahat berkurang.


Tidak ada yang mau berada di kelas saat istirahat mengingat banyaknya setan menyebalkan disana.


Jadi kantin kami tempati seluruhnya, aku dan Rizal berada disalah satu meja kami mengobrol sambil makan.


"Memikirkan akan menjalani kelas mengerikan seperti itu diakhir tahun sekolah benar-benar mengerikan" Rizal menjawab seadanya saja.


"Cuma kamu saja yang bisa beradaptasi dengan mudah disekolah ini" "Sepertinya aku tidak bisa disekolah sampai malam seperti sebelum-sebelumnya".


Rizal menjawab tanpa melihat ke arahku "Ya, iyalah. Kasian yang jadi murid terakhir"


"murid terakhir yaa... Kira-kira gimana ya kakak kelas tahun kemarin selamat dari semua itu. Kemarin saja aku hampir mati saat berusaha melarikan diri"


"Kayaknya cuma kamu aja yang ngalamin hal kaya gitu" Aku berhenti makan, berkedip bahkan menahan nafasku mendengar perkataan Rizal.


"Apa maksudnya itu?" Rizal sudah selesai makan "Kebanyakan setan di sekolah ini sudah mengenal dan membencimu tahu. Tidak ada murid lain yang dengan sengaja mencari masalah bahkan anak yang sekarang sudah kelas 2 aja tidak seberani kamu"


Kalau dipikir-pikir perkataan Rizal benar juga.


"Tapi tetap saja tidak mungkin berhasil lari saat malam disini. Semua yang pernah merasakan sekolah malam pasti tahu soal itu"


Aku sudah menyelesaikan makanku dan menunggu jawaban Rizal "Sebenarnya ada kesalahan dalam artian siswa terakhir. Kira-kira waktu dimana siswa pasti pulang itu saat kapan?"


Pertanyaan Rizal membuatku berpikir sejenak.


"Bel pulang? Memang ada lagi?" Rizal mengganguk "itu benar tapi bukan cuma bel pulang melainkan bel masuk juga. Tepatnya bel masuk untuk siswa di jam berbeda".


Ahhh... Aku mengerti sekarang. Disekolah ini ada 2 waktu pelajaran pagi dan siang. Bel pulang pada waktu pelajaran pagi dan bel masuk pada waktu pelajaran siang mengharuskan murid di jam pelajaran pagi untuk pulang.


Tidak mungkin anak kelas 3 akan terjaga sampai pagi kalau mau aman pulang sekolah.


"Bukanya itu tidak mungkin ya? Bel pagi kan jauh banget dari bel sore. Bisa nginep dong disekolah"


Rizal menepuk jidatnya "Gak salah sih, tapi juga kaga bener. Disekolah kita kan ada sekolah malam" Perkataan Rizal membuatku mengingat sekolah saat malam.


"Ehh... Benar juga. Berati kalau bertahan sampai jam 7 bakal aman?" Rizal mengganguk "begitulah. Yuk balik kelas nanti gak bisa masuk lagi".


Aku dan Rizal kembali kekelas sebelum bel masuk berbunyi. Dan pelajaran menegangkan kembali dimulai.


Bel pulang sekolah berbunyi setelah semua keributan saat dikelas akhirnya berakhir. Guru belum bersiap keluar kelas kita semua sudah berdiri.


Aku mencari temanku yang mana cukup tidak beruntung dan terkena kutukannya. Dan ketemulah dia, yang ternyata itu adalah Rizal.


Setelah guru keluar semua temanku keluar kecuali aku dan Rizal. Aku menghampiri Rizal dan melihat sosok dibelakang Rizal.


Sosok itu adalah pria berbadan besar dengan kulit hitam legam, perut sampai dadanya terbuka lebar dan keluar rantai dan tangan hitam dari sana mengikat tubuh Rizal sepenuhnya.


"Jadi kamu yang kena nih?" Rizal menatap kesal kearahku "pulang sana, cari sekalian anak yang belum pulang dan suruh pulang. Biar aku juga bisa pulang, kalau sampai jam 6 belum pergi aku harus nunggu jam 7 dulu disini"


"Yaudah selamat menunggu. Aku mau ketemu kepala sekolah dulu" Rizal mematung mendengar perkataanku.


"Ehh??... Aldi, memangnya harus hari ini ya? Besok kan bisa. Besok aja ya" "Maaf ya Rizal aku udah janji sama kepala sekolah. Lagi pula kalau lagi jam belajar kan keganggu sama setan disini. Jadi ya... Semangat".


Aku turun mengabaikan teriakan Rizal memintaku untuk pulang. Aku harus menanyakan soal kutukan sekolah ini kepada kepala sekolah.


Mungkin saja ada rahasia yang cuma diketahui kepala sekolah kan mengingat beliau ini kepala sekolah.


Semua ini juga ada hubungannya dengan petunjuk dari setan perpustakaan yang menunjukan foto kepala sekolah.


Kalau bukan kepala sekolah, aku harus cari tahu kemana? Bukanya wajar kalau kepala sekolah tahu semua keadaan di sekolah?


Meski tidak tahu sebanyak itu aku harap kepala sekolah mengetahui beberapa informasi soal kutukan ini dan memudahkan aku mencari informasi lebih lengkap lagi.


Meski bakal lebih baik kalau kepala sekolah bisa tahu dengan jelas. Yang sebenarnya tidak mungkin mengingat kepala sekolah bukanlah kepala sekolah pertama di sekolah ini.


Siapa tahu aku juga bisa tahu sejarah sekolah ini kan? Sepanjang jalan menuju kantor kepala sekolah tidak ada terlihat satupun manusia.


Sepertinya cuma aku dan kepala sekolah saja yang ada disini. Untung buat Rizal yang bisa pulang setelah pertemuan ini berakhir.


#ditunggu up selanjutnya yaa guys 😁