One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab 22 : Didalam Game



Aku membuka mata di dunia yang dipenuhi darah dan daging. Ada gelang besar di tanganku yang menyatu dengan pisau panjang.


Di pinggangku ada senapan panjang sepertinya tipe senapan serbu. Sekarang apa yang harus kulakukan?


Aku berjalan ke depan mengikuti lorong daging dan darah ini. Tidak menemukan apapun baik monster maupun anak itu.


Sambil jalan aku mengecek tubuhku, aku mengenakan baju besi yang menutupi tubuhku sampai terasa berat.


Juga menggunakan helm yang anehnya tidak ada kacanya serta tas besi yang menempel di punggungku yang sama aja beratnya.


Tas itu terkunci dengan pin, aku gak tahu kombinasi angkanya. Apa mungkin benda ini yang jadi masalah saat kehabisan peluru?


Aku berhenti karena menemukan jalan buntu, aku berbalik dan berjalan ke persimpangan yang aku lihat sebelumnya.


Ada belokan ke kiri membuatku berpikir untuk terus lurus ke simpang 3 didepan atau belok saja.


Masih aku berpikir di kejauhan monster besar dengan 3 mulut dan 4 tangan muncul. Monster itu merayap di tanah dan langsung menatap ke arahku.


"Oh sial" aku langsung berlari ke kiri dan monster itu mengejar dibelakang. Aku mempersiapkan senjataku dan berbalik.


Monster itu sudah di punggungku dan membuka mulutnya, aku hanya sempat bertahan dengan tanganku.


Tanganku digigit sampai putus, dengan tangan yang tersisa aku menembaki wajah monster itu sampai peluruku habis.


Monster itu jatuh dan mati, tanganku hilang dan senapanku kehabisan peluru. Aku duduk di lantai sambil memegangi lenganku.


Aku sudah terlalu terbiasa seperti ini, memang dasar sekolah terkutuk. Aku meletakkan senjataku dan berusaha mengutak-atiknya.


Senjata ini terkunci dengan sandi huruf jadi aku tidak bisa mengeluarkan magazine nya. Bagaimana cara aku mengisi pelurunya kalau begini.


Aku berusaha berdiri tapi tangan merah keluar dari lantai dan menahan kakiku. Aku berusaha membebaskan diri sebelum monster datang.


Tapi aku terlambat, monster dengan jenis yang sama sudah datang mendekat di sekelilingku. Bahkan sebelum aku sempat berteriak mereka sudah maju dan mengoyak tubuhku.


Aku membuka mata dengan tangan yang masih lengkap dan senjata yang berbeda. Apa ini Shotgun?


Kali ini aku tidak bergerak dulu, aku memutuskan untuk mengecek seluruh tubuhku.


Di gelangku ternyata ada tombol yang akan memunculkan layar hologram yang isinya....Soal.


Benar soal, tepatnya ada 3 soal dengan mata pelajaran yang berbeda. Bahasa inggris, bahasa Indonesia dan matematika.


Apa-apaan ini? Jawaban dari ketiga soal tadi akan membuka 3 fungsi utama dari perlengkapanku.


Yang matematika akan membuka tas di punggungku, yang bahasa inggris akan membuka fungsi navigator dan sistem bantuan serta bahasa indonesia akan membuka kunci senjataku.


Aku menyelesaikan kedua soal itu yang tidak terlalu sulit, masalahnya soal Matematika yang akan benar-benar menghambatku.


Dan lagi monster itu sudah datang, monster itu berjalan ke arahku. Aku membuka peta hologram dan berlari mengikuti tanda yang diberikan peta.


Monster itu berlari mengejarku, aku berbelok di persimpangan yang kutemui dan berhenti di ujung jalan itu.


Begitu monster itu muncul aku langsung menembak wajahnya. Aku kembali berlari lagi, aku melewati persimpangan demi persimpangan.


Dan monster yang mengejarku semakin banyak, aku hanya menembak disaat yang tepat membuatku menghemat peluru yang akan kugunakan.


Dinding dan lantai mengeluarkan tentakel dan tangan untuk menangkapku. Aku terpaksa menembak beberapa kali agar tidak menghalangi jalanku.


Di lorong yang panjang aku mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru sepertinya pemilik langkah kaki itu sedang berlari.


Ternyata itu adalah manusia yang memakai baju yang sama sepertiku "KETEMU!!! CEPAT KESINI!!!" Aku langsung menarik tangannya dan menyeretnya ke arah persimpangan.


"Lari duluan. Aku akan menahan mereka sebentar" Aku menembakkan senjataku kearah monster yang muncul.


Setelah 3 tembakan peluruku habis memaksaku untuk berlari lagi. Tidak menunggu lama aku berhasil menyusulnya.


Berlari sambil mengisi peluru itu benar-benar melelahkan. Aku berhasil menggapai tangannya.


"Kesini!!" Aku menembakkan senapanku kearah dinding dan menghilangkan lapisan darah menunjukkan sebuah pintu.


Aku menyeret dia masuk kedalam dan menutup pintunya. Gelap keadaan ruangan itu sangat gelap.


Di labirin ini tersebar beberapa ruangan yang ditutupi lapisan darah pada dinding. Jadi tidak mungkin bisa menemukan setiap ruangan itu.


"Apa kamu tidak apa-apa?" Dia berlutut sambil mengambil nafas menunjukkan kalau dia kelelahan


"Ak...Aku... Baik...Baik saja...hosh..hosh, Siapa kamu? Ini pertama kalinya aku melihatmu" Dia menatap ke arahku


Aku juga duduk dan mulai mengutak atik sandi di tasku.


Sepertinya aku harus membuka tas ini untuk menyelesaikan game ini. Untungnya dia diam saja, melihatku sibuk.


Aku salah beberapa kali tapi akhirnya bisa terbuka. Didalam tas berisi 20 buah granat lempar, 10 kotak peluru senjataku dan 1 buah bom tempel besar.


Selain itu ada kertas yang berisi misiku yang isinya cara untuk menyelesaikan game ini, cara untuk menyelesaikannya adalah mencari ruangan yang berisi inti labirin ini dan memasang bom disana. Ternyata tidak begitu sulit kecuali bagian mencari ruangan yang mana.


Ada ratusan ruangan di labirin ini, setiap ruangan berisi persediaan atau jebakan. Hanya satu yang berisi inti labirin.


"Apa kamu tidak membuka perlengkapanmu dulu?" Aku bertanya melihat semua perlengkapannya terkunci.


"Setelah kematian ketiga aku berhenti membukanya. Soal-soal yang harus dikerjakan benar-benar sulit dan aku tidak mengerti"


Sepertinya dia juga frustasi tentang itu. Aku akan membantu menjawab soal itu mengingat aku tidak bisa melihat soalnya.


Ada 3 soal yang mengunci perlengkapannya.


Bahasa inggris yang mengunci senjata, matematika yang mengunci tas dan fisika yang mengunci navigasi.


Aku tidak bisa membantu yang fisika, tapi berkat ini dia bisa kembali memakai senjatanya.


Kami berdiri dan bersiap untuk kembali keluar.


Tapi tiba-tiba muncul tentakel yang mengikat leher dan kepala dia dan menyeretnya.


Aku mengejarnya dan menembakkan senjataku ke tentakel itu.


Begitu tentakelnya lepas dia langsung berlari kearah pintu dan menembak pintunya. Aku langsung menyusulnya sebelum tentakel mengikatku.


Perjalanan semakin mudah mengingat dia bisa menggunakan senjata dan membantuku. Dia ini bernama Hendra anak baru kelas 1 IPA.


Diperjalanan aku menceritakan sedikit tentang sekolah dan tantangan yang menunggunya disekolah.


Kami memasuki ruangan demi ruangan beberapa kali menemukan ruangan yang berisi banyak monster. Tetapi banyak juga yang berisi persediaan berupa peluru dan granat.


Setelah puluhan ruangan kami buka, Akhirnya kami berhasil menemukan ruangan yang berisi inti dari labirin.


Beberapa kali kami harus bertarung setelah keluar dari ruangan membuatku sangat lelah dan akhirnya kami berhasil menemukannya.


Ditengah-tengah ruangan ada pilar merah yang ditengah pilar itu ada bola darah raksasa. Disekitar bola itu ada beberapa monster yang langsung menyerang kita.


Hendra maju dan menembaki monster itu.


"Kamu pasang bomnya aku yang akan mengatasi monsternya"


"Aku mengerti, awasi pintunya siapa tahu mereka masuk lewat situ" aku melempar granat dan membuat ledakan disitu.


Aku berlari kearah pilar itu sementara Hendra melindungiku dengan menembaki monster yang mendekat.


Aku sampai, aku meletakkan bom itu dan layar hologram muncul berisi soal matematika.


"Lagi? Aku harus menyelesaikan ini untuk memasang bom?"


Ternyata soalnya lebih dari satu, setiap angka benar yang kudapat akan jadi angka untuk kode bom.


Jika salah sekali aku harus mengulanginya, membuat ini semakin menyulitkan. Suara ledakan terjadi itu berasal dari pintu yang rubuh.


Hendra berlari ke arahku "cepat selesaikan itu!! Aku akan melindungimu" Tentakel muncul dari pilar dan mengikatku keatas.


"ALDI!!!" Aku mengangkat senjataku dan menembak tentakel itu membuatku jatuh kebawah.


Badanku sakit, tapi aku tetap mengerjakan soal ini. Setelah soal kesepuluh selesai bom menyala. Berarti sekarang tinggal...


"KITA PERGI DARI SINI !!!" Aku dan Hendra menerobos kumpulan monster kearah pintu keluar.


Tapi monster tidak ada habisnya tidak perduli berapa kali kita menembak. Akhirnya kami berhasil keluar tapi tidak berhasil selamat.


Karena bom itu meledak menghancurkan semuanya termasuk kami berdua. Menyebalkan...


Aku membuka mataku dan sekarang aku berada di ruang guru berhadapan dengan Hendra yang juga baru membuka matanya.


AKU BERHASIL!!!