
Sudah seminggu setelah hari itu, hari pemakaman guru yang meninggal saat dirumah sakit.
Tidak ada lagi yang memikirkan untuk pindah atau mencoba untuk pindah sekolah. Tidak ada masalah yang berarti pada proses mengajar dan belajar.
Membuat hari-hari terasa lebih damai sampai hari itu, dimana aku melihat sesosok setan yang tubuhnya basah kuyup.
Menggunakan seragam sekolah sini dan lehernya yang patah serta pincang. Setan yang kulihat itu adalah setan siswi yang entah kenapa terkesan baru pertama kulihat tapi secara bersamaan terlihat familiar.
Aku mengabaikan hal itu dan kembali ke kelas karena sebentar lagi bel masuk berbunyi. Setelah bel masuk berbunyi dan aku sudah didalam kelas.
Tidak ada guru yang masuk membuatku khawatir setan guru itu masuk. Seluruh kelas mengganguk dan menunjuk Rizal.
"Aku?!" Rizal bertanya dengan bingung. Sejak lama kelas menyepakati satu hal, jika guru terlambat atau tidak hadir, Salah satu dari kami harus turun ke ruang guru dan meminta tugas atau menjemput guru yang terlambat.
Jika tidak begitu setan guru itu masuk, kami semua akan menderita. Rizal berdiri dan pergi ke ruang guru.
Setelah beberapa menit Rizal kembali sambil berkucuran keringat "ALDI ada kejadian aneh di ruang guru?!" Teriakan Rizal membuat seluruh kelas sedikit kaget.
Termasuk aku, apalagi setan dikelas berada disampingku "Sialan kamu Rizal" Seolah tahu apa yang menunggunya Rizal langsung keluar kelas.
Berbeda dengan aku yang sudah keburu di cekik oleh setan itu dan diseret keluar. Aku dibuang begitu saja keluar kelas.
Aku berdiri setelah membersihkan bajuku.
"Ayo Aldi cepet!!" Ternyata tuh anak ada disini.
"Apa sih? Sampai membuatku terusir begini?"
"Itu di ruang guru lagi heboh. Pak Tony muncul sebagai setan" aku membeku. Tidak ada yang tidak mengenal Pak Tony yang merupakan salah satu guru yang mengajarku juga yang baru seminggu lalu dimakamkan.
"Yang bener kamu?" Aku pergi duluan kebawah. Hanya untuk melihat kumpulan anak-anak kelas 1 A yang berkerumun.
"Ada apa?" Aku bertanya pada salah satu murid di depanku "Itu Ani anak kelasku balik lagi ke sekolah" Anak itu menjawab sambil melihatku.
Ani? Anak yang hilang di sungai itu? "Coba permisi dulu" Aku mendorong anak-anak di depanku.
"Aldi gimana ruang gurunya?" Suara Rizal terdengar dari kejauhan "Nanti aku kesana" Aku berteriak juga sambil memaksa lewat.
Aku sudah berada dirombongan anak kelas 1 A tepat didepan pintu kelas yang setahun lalu merupakan kelasku.
Aku mengintip kedalam kelas, disana didalam kelas hanya ada satu orang. Bukan melainkan satu setan duduk di bangku tengah.
Itu setan sama yang aku lihat sebelumnya. Setelah melihat setan itu aku berbalik dan pergi.
Menemui Ani dalam wujud seperti itu tidak mengubah apapun kan?
Setelah menerobos kerumunan, aku berhasil keluar dari koridor dan berjalan kearah ruang guru.
Dimana semua gurunya juga berada diluar. Aku melihat Rizal disana. Baru juga aku mau bertanya, suara guru di sampingku membuatku kaget.
"Aldi" Yang ternyata pemilik suara itu wali kelasku bu Siska "Iya bu, itu.. Benar bu pak Tony"
"Ya Aldi, pak Tony muncul di ruang guru tadi waktu bel masuk" Bu Siska menunjuk kedalam ruang guru.
Aku mengintip ruang guru dan terlihat setan yang memang memiliki penampakan pak Tony.
Hanya saja tidak mengeluarkan asap. Karena aku tidak tahu harus bagaimana begitu juga guru yang lain.
Awalnya seluruh murid yang ada di luar disuruh masuk ke kelas untuk mulai belajar. Hanya saja para murid di kelas 1 tidak mau belajar bersama Ani yang secara teknis sudah jadi setan.
Guru juga tidak mau berada di ruang guru karena tidak nyaman dengan pak Tony. Akhirnya diputuskan untuk memulangkan murid-murid saja dan keesokan harinya akan diberikan pengarahan.
Sedangkan aku masih tertahan di sekolah sampai malam hari. Hal itu untuk memastikan setan mereka berdua.
Anehnya meski ada tambahan 2 setan lain sekolah itu tidak berubah saat malam hari.
Bahkan Ani dan pak Tony yang merupakan setan baru terlihat seperti sudah lama disana.
Merasa tidak bisa melakukan apapun aku pulang kerumah. Keesokan harinya baik pak Tony maupun Ani tidak terlihat lagi di sekolah.
Meski begitu ada perasaan takut kepada semua murid terutama para guru yang melihat rekan kerjanya seperti itu.
Berbeda dengan murid yang setelah lulus akan bebas dari sekolah ini. Guru berbeda bisa saja ada guru yang tetap mengajar disekolah ini dalam 5 tahun bahkan 10 tahun.
Tidak ada dari mereka yang merasa yakin kalau mereka akan tetap sehat selama itu. Ya meski banyak kejadian lain kaya gitu.
Hal itu tidak membawa perubahan baru pada kelasku secara menyeluruh hanya pada guru dan anak kelas 1.
Hari-hari berlalu dengan cepat, hingga tibalah waktu kelulusan anak kelas 12. Aku sudah berbicara dengan Tasya soal setan yang ada disana.
Bersamaan dengan ucapan selamat atas kelulusannya, aku menemuinya di sebuah kafe kecil sambil mencatat beberapa hal soal setan di kelas itu.
"Al.. Apa kamu tidak bingung kenapa tidak ada cerita soal sekolah itu yang berhantu? Padahal sekolah itu udah hampir 20 tahun".
Pertanyaan Tasya membuatku berpikir dan juga tertarik "Entahlah, aku juga tidak paham. Mungkin agar cerita soal sekolah itu tidak tersebar"
"Sepertinya bukan, kamu sendiri sadar ga kenapa aku minta bertemu secepat ini? Padahal acara perpisahan saja belum".
Yang satu itu entah kenapa tidak membuatku tertarik "Entahlah, soal itu cuma kamu yang tahu."
Tasya menatap kearahku "Soalnya ingatanku tentang sekolah itu semakin kabur" Perkataan itu sukses membuatku memperhatikannya.
"Tunggu dulu. Apa maksudnya itu?" "Aku sudah tidak bisa mengingat setan apa saja yang ada di kelasku dulu waktu kelas 1. Bahkan sebagian setan yang kutemui saat kelas 2 juga mulai tidak jelas, aku takutnya setelah aku lulus semua ingatan berhantu soal sekolah itu hilang".
Perkataan Tasya membuatku merasa lebih jelas.
Seperti kata Tasya sekolah itu sudah lama banget ada.
Pasti ada alumni sekolah itu yang sudah memiliki anak dan menyekolahkannya disana, kenapa harus disitu? Padahal mereka dulu juga menderita disana.
Tapi kalau alumni sekolah itu melupakan sekolah yang berhantu itu, bukankah semuanya masuk akal?
"Ada satu hal yang kutakutkan juga. Aku takut setelah aku meninggal aku akan kembali ke sekolah itu" Perkataan Tasya membuatku paham kalau dia kepikiran soal pak Tony dan Ani.
Hanya saja aku tidak bisa menghibur atau melakukan apapun untuk meringankan soal itu.
#Nah lhoo... ditunggu kelanjutannya yaa guys 😁