One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab.34 Buntu



Aku tidak bisa menemukan informasi lain setelah kejadian dengan setan kepala sekolah.


Baik guru, kepala sekolah atau siapapun yang ada disekolah tidak mengerti soal ini.


Bahkan setan perpustakaan saja tidak tahu apa yang kumaksud dengan pilar. Aku berusaha mencari banyak infomasi baik dari film, legenda rakyat, mitos untuk mendapat petunjuk.


Tapi percuma saja tidak ada yang sama membuatku merasa kalau aku sudah mencapai batasnya.


Aku sudah tidak bisa melakukan apapun lagi, semuanya sudah aku kerahkan dan disinilah aku berakhir.


Sebenarnya ada cara lain yaitu mencari orang pintar ataupun dukun untuk hal seperti ini. Tapi kalau semua sejarah sekolah ini benar, hal itu seperti menyelamatkan orang dari kandang macan dan menyerahkannya pada serigala.


Selain itu aku rasa hal ini tidak bisa diatasi oleh dukun biasa. Sempat aku memikirkan ahli soal agama, tapi tempat ini sudah membelokkan semua hal soal agama.


Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa aku harus terus berjuang seperti ini.


Untuk ingatanku kah? Untuk adik kelasku? Guruku? Keluargaku? Atau bahkan egoku?


Mungkin saja ini semua karena ego ku.


Aku sudah banyak berjuang setiap harinya selama 2 tahun, banyak anak yang aku tolong, semua guru dan murid yang ada mengenalku.


Aku tidak mau dilupakan dan aku juga tidak mau melupakan itu semua. Karena itu aku berpikir jika bisa melepas kutukan terbesar disekolah ini.


Mungkin saja semua jasaku bakal dikenang oleh semua yang masih bertahan ditempat ini.


Semua murid ataupun guru masih bakal mengingatku.


Jadi saat kita bertemu di masa depan saat kita semua sudah mengambil jalan masing-masing.


Kita bisa saling bercerita tertawa dan ketakutan bersamaan sambil melihat sekolah ini yang sudah jadi sekolah biasa.


Tapi sayang sekali aku sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Karena itu aku cuma bisa menuliskan kegiatan dan ingatanku dalam buku diari, supaya meski melupakannya aku masih bisa membacanya dan bertanya-tanya apa memang semua itu terjadi?


Waktu sudah lama berlalu penghujung akhir semester 1 sebentar lagi. Belajar di kelas ini sangat berat dan semakin lama waktu berlalu semakin aku merasa enggan.


Aku berpikir mungkin aku bisa melakukan sesuatu lagi. Tapi ternyata sudah tidak ada yang bisa kulakukan, aku menolak menyerah tapi tidak ada lagi yang bisa kulakukan.


Apa ini yang namanya putus asa?


Hari ini adalah hari dimana aku kena lagi oleh setan di kelasku.


Menjadi orang yang terakhir pulang dari sekolah ini. Jujur saja ini menyebalkan, sampai jam setengah 7 baru aku bisa bergerak.


Jika aku pergi disaat ini aku bisa babak belur lagi. Aku iseng membuka buku diariku dan membacanya lagi.


Aku jadi teringat saat pertama kali aku kesekolah saat malam hari hal itu sudah 2 tahun lalu tapi masih teringat seperti baru kemarin.


Begitu sudah jam 7 aku memakai tasku dan turun kebawah. Tidak ada setan yang menyerang aku sampai aku di lantai 1.


Aku berhenti saat melihat setan penjaga sekolah yang berbadan besar membawa tongkat kayu besar dan punggungnya yang dipenuhi bambu runcing.


Dia membawa siswi yang anehnya badannya terlihat transparan seperti air. Apa murid yang terkena Nightmare Class?


Kayaknya ada satu deh anak kelas 10. Sayangnya aku tidak bisa melakukan apapun soal ini.


Metode waktu itu hanya mengumpulkan penderitaan jadi satu saja tidak menyelesaikannya.


"Habis ini mau ke perpus? Apa keruang kepala sekolah lagi?" Mendengar pertanyaan Rizal aku menatap kearahnya.


"Udah gak" Rizal mematung "kenapa? Biasanya kamu sibuk soal begituan" aku melanjutkan makanku "Aku udah buntu, gak ada lagi yang bisa kulakukan".


"Bener-bener gak ada lagi? Jadi kamu gagal ngilangin kutukan sekolah ini dong?"


Pertanyaan Rizal membuatku berpikir


Apa benar aku sudah berjuang sekuat tenaga?


Entahlah yang jelas aku sudah tidak bisa melakukan apapun lagi.


"Ya udah gak ada. Aku udah tahu alasan kutukan sekolah ini tapi aku tidak bisa menemukan cara menghilangkannya. Tidak perduli meski aku nanya sama setan perpustakaan ataupun kepala sekolah".


"Kayanya cuma bisa pakai dukun" Perkataan Rizal ada benarnya. "bagaimana kalau dukunnya yang mati? Kaya dulu, aku pernah cerita soal itu kan"


Aku jadi teringat waktu masih di kelas 2 saat dukun ke sekolah ini dan yang tersisa cuma keris dan genangan darahnya saja.


Meski aku tidak tahu benar atau tidaknya dia mati, tapi aku yakin dia pasti tidak akan berani lagi kesini.


"Benar juga. Coba kalau kamu anak indigo gitu mungkin bisa ketemu jalannya" Perkataan Rizal membuatku mikir.


Emangnya Indigo apa enggak disini ada bedanya? "Entahlah, kayaknya meski aku jadi indigo sekalipun aku gak bakal takut sama setan"


"Ya iyalah, setan disini lebih serem udah serem bisa bunuh juga lagi" Aku dan Rizal tertawa sambil membersihkan meja dan kembali ke kelas.


Setelah pulang sekolah aku masih berada disekolah mencari pilar itu. Aku masih tidak rela untuk menyerah sekarang.


Pilar apa yang dimaksud sebenarnya? Apakah tiang besar seperti tiang listrik? Atau cuma patokan saja?


Tapi tidak perduli apa yang aku lakukan aku tidak bisa menemukan pilar itu. Aku ke perpustakaan untuk bertanya dengan setan perpustakaan.


Yang bisa kudapat cuma aku tidak bisa melihatnya. Mungkin memang harus orang dengan indera keenam dan juga murid sekolah ini untuk bisa menemukannya.


Tapi disekolah ini tidak ada anak indigo atau sejenisnya yang bisa dimintai tolong. Jadi aku cuma bisa mengandalkan diriku saja.


Aku mencari cara dari internet untuk membuka mata batin yang tentu saja semuanya tidak ada gunanya.


Memang ini sudah berakhir, aku tidak bisa melakukan apapun lagi. Ujian akhir semester 1 sebentar lagi karena itu aku pergi ke perpustakaan dan belajar disana.


Tersisa kurang dari 4 bulan lagi sebelum aku lulus, dengan kemampuanku sekarang baik ujian akhir semester 1 atau 2 bahkan try out dan ujian nasional bukanlah masalah.


Tapi kehilangan semua ingatan selama 3 tahun itu yang membuatku tidak rela "Coba saja aku bisa membuka mata batin, mungkin semuanya akan berbeda"


Setan perpustakaan menatap kearahku. Apa tadi aku keceplosan? Setan perpustakaan mengambil buku biologi dan menunjuk gambar mata.


Kemudian membalik buku menunjuk gambar laboratorium. Lab ya, di sekolah ini ada 2 lab kimia atau biologi dan keduanya sudah di gembok saat siang hari.


Yang biologi dijaga sama perempuan tanpa mata dan kimia dijaga guru kimia 2 wajah. Keduanya sama-sama seram.


Tapi kalau lab jawabannya yang kupikirkan cuma lab biologi, tapi aku tidak bisa masuk kesana oleh wanita tanpa mata kan?


Tapi mungkin itu adalah kesempatan terakhirku, aku akan mencobanya


#berhasil ga ya guys.... ditunggu akhir ceritanya yess