One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab 2 Kelas berdarah



Kami sudah memulai kegiatan belajar. Memperhatikan guru yang menulis di papan tulis dan menerangkan materi pelajaran


Kelasku tidak banyak siswanya cuma ada 15 orang termasuk aku dan Rizal. Jam pelajaran terasa membosankan


Sampai aku melihat keluar dan memperhatikan seluruh kelas. Aku melihat sesuatu yang mengalir di dinding


Apa itu? Begitu aku memperhatikannya lebih jelas "Aldi! Kalau guru nerangin ya perhatikan jangan ngeliatin cewek mulu kamu"


Aku terkejut mendengar suara guru dan baru kusadari kalau yang didekat dinding itu teman sekelas perempuanku Nabila


"Enggak ko tadi itu cuma...." Astaga malunya diriku ini seluruh kelas tertawa tepatnya menertawakanku


Pelajaran berlangsung cepat dan aku tidak bisa fokus. Setiap aku tidak sengaja melirik ke dinding cairan keluar dari sana


Tapi begitu aku menatap tajam ke dinding tidak ada apa-apa disitu membuat bulu kudukku merinding


Kalau cuma sekali dua kali bisa saja aku salah lihat. Tapi jika setiap kali aku melirik? Yang salah mataku atau dindingnya?


Bel istirahat berbunyi dan aku langsung pergi ke kantin. Memesan mie instan dan teh manis sambil duduk di dekat dinding


"Mataku normal ko?" Apa sih yang terjadi sebenarnya? "Di!!" "Ayam....Ayam... Mie ayam.. Rizal lu tuh ngagetin terus kerjaanya"


Rizal yang kutegur malah tertawa dengan keras


"Maaf Di... Abis kamu kalau dikagetin begitu. Meski ini yang pertama sih" Aku membuang muka dan mengacuhkan Rizal


"Ketawa aja sepuas lu". "Iya, iya maaf" Rizal duduk disampingku "Kamu kenapa sih Di?" Aku diam saja sambil memakan mie ku


"Gak papa" "Iya kamu tuh di kelas gak konsen kaya gitu. Selalu ngelirik ke Nabila sampe tuh anak ilfeel sama kamu. Kalau suka ya ngomonglah" Ternyata Rizal sama aja


"Aku tuh gak liatin Nabila tau". "Apanya... Aku kan disampingmu, setiap ada waktu kamu ngelirik ke sana bahkan sampe melotot"


Apa segitunya kah? Kayaknya gak sampe begitu deh "Aku liatin dinding di samping Nabila bukan Nabilanya"


"Di.. Kalau cemburu yang wajar dong masa iya sama dinding" nih anak... Emang gua apaan dah cemburu sama dinding


"Gua cerita sama kamu doang nih ya. Tadi gua liat dinding disamping Nabila keluar air"


"Air? Beneran kamu?" Siapa sih yang bakal percaya


"Aku serius" "Bukan air kali" Rizal mendekatkan mulutnya ke kupingku "Darah kali" Aku terperanjat


"Apaan sih.. Jangan nakutin dong" "Aku serius. Aku udah ceritakan kalau dulu sekolah ini bekas kuburan? Nah katanya gak semua jenazahnya bisa ke pindah. Ada beberapa yang udah jadi tulang bahkan disatuin sama semen buat jadi pondasi"


Mana ada hal kaya gitu? Ceritanya makin ngawur aja "Mana ada.. Masa tulang dijadiin pondasi bangunan? Siapa yang bakal percaya?"


Tiba-tiba bau amis tercium "Emang disini ada lauk ikan ya?" Rizal menunjukkan wajah bingung


"Mana ada kantin yang menyediakan ikan?"


"Ko bau amis?" Rizal mengendus dengan hidungnya "Gak amis ko" Tapi bau amis ini beda sama bau amis ikan lebih kearah anyir atau amis darah


"Aku serius baunya dari si-" Aku menoleh dan menyadari disampingku dinding. Darah keluar dari dinding itu dan langsung menciprat ke wajahku


Aku sontak mundur dan terpelanting kursi hingga jatuh kebelakang dengan kepalaku lebih dulu mengenai lantai.


Aku langsung menggerang kesakitan sambil memegangi kepalaku "Di? Kamu gak papa? Aku bantu ke UKS" Rizal membopongku ke UKS


Rizal membantuku duduk diatas tempat tidur di UKS


"Kepalaku sakit banget" Rizal duduk disamping tempat tidurku "Kamu kenapa sih?" Kejadian tadi masih terbayang


Untung saja setelah masuk UKS dinding tidak jadi merah lagi "Tadi waktu aku lihat kedinding. Ada Darah ngalir disitu yang langsung menciprat ke wajahku"


Aku menatap wajah Rizal menunggu reaksinya. Anehnya dia gak ketawa atau bilang aku menghayal atau sejenisnya.


Tiba-tiba aku jadi teringat waktu aku jatuh tadi selain kaget wajah semua yang ada disitu lebih ke khawatir


Ya wajar sih tapi menurutku aneh aja gitu "Untung kamu gak papa Di" Perkataan Rizal malah membuatku jadi panik


"Maksudnya apa Zal?" Rizal menghela nafas "Cerita yang aku ceritain itu terkenal bukan karena horornya. Tapi emang banyak yang liat setiap satu anak dari satu kelas pasti ada yang ngeliat, biasanya selalu berakhir celaka"


Aku malah jadi semakin takut "Kamu serius? Ada yang sampe meninggal?" "Gak sampai meninggal, biasanya ya luka ringan atau masuk rumah sakit" Perkataan Rizal tidak membuatku tenang sama sekali


Bel masuk berbunyi "Kamu istirahat aja dulu. Aku yang nanti bilang sama guru" Aku cuma mengganguk saja


Kepalaku masih sakit banget rasanya gak kaya jatuh, tapi dipukul palu sakitnya "Makasih ya Zal"


"Santai aja Di" Rizal keluar dari UKS


Ngomong-ngomong UKS tuh selalu sepi kaga ada orang kaya gini ya? Iya sih gak kaya di luar negeri yang pasti ada yang jaga.


Tapi masa sampe gak ada suara langkah kaki diluar sih? Padahal disini deket lo sama ruang guru


Aku gak perduli lagi lah. Masa bodo sama semua itu. Aku berbaring dan menutu mata ku, aku merasa ada yang menetes di hidungku aku membuka mata dan menyentuh hidungku.


Merah? Darah !!! Aku bangun dan terkejut melihat seluruh dinding mengeluarkan darah bahkan atap yang meneteskan darah.


Seluruh ruang UKS jadi mengerikan. Aku bangun dari tempat tidurku dan turun. Menginjak darah yang memenuhi seluruh ruangan


"Apa yang terjadi sebenarnya? Apa ini mimpi?" Tangan merah keluar dari air darah dan menarik kakiku membuat ku tidak bisa bergerak.


Aku berusaha melepas tangan itu, tapi tangan lain keluar dan menarik tanganku sampai aku tercebur kedalam darah itu.


Didalam darah ada banyak tangan yang berusaha mencekik dan membuatku tidak bisa bergerak. Bau anyir darah dan amisnya darah masuk melalui hidung dan mulutku.


Aku mulai kehilangan nafas... Apa aku akan mati disini?


Aku membuka mataku dan melepas tanganku yang mencekik leherku "Apa yang terjadi sebenarnya? Apa aku hampir saja bunuh diri?"


Aku menghirup nafas dalam-dalam. Hampir saja aku mati, apa-apaan itu sebenarnya? Aku mendengar suara meski tidak jelas tapi cukup kencang.


Aku keluar dari UKS dan melihat banyak orang yang berkumpul di lapangan "Apa yang terjadi?"


"Kamu udah gak papa? Keluar dari UKS"


Rizal menghampiriku sambil membawa tasku


"Aku udah gak papa. Apa yang terjadi?" "Ada anak yang jatuh dari tangga. Yang sialnya ada 2 anak dibawahnya yang ikut jatuh tertimpa dia. Jadi kita dipulangin lebih awal"


Aku tercengang. Baru beberapa hari sekolah udah 2 kali pulang cepat? Sebenarnya ada apa dengan sekolah ini?