
Liburan sudah berakhir dan sekolah kembali dimulai. Jujur saja aku sudah malas sebenarnya
Aku berjalan ke kelasku yang ada di lantai 2, secara sekilas aku melihat kelasku sebelumnya dan lanjut menaiki tangga.
Ada tangan-tangan yang muncul di tangga yang untungnya tidak menangkap kakiku. Ya tangan ini telah membuat banyak korban berjatuhan.
Aku menatap teman sekelasku yang berdiam didepan kelas "Kenapa gak masuk?" Aku bertanya dengan wajah bingung.
Tidak ada yang menjawabku sampai Rizal maju "Kamu duluan lah" Aku menatap Rizal dan teman sekelasku dengan curiga.
Tapi kalau tetap diam begini tidak akan ada perubahan. Aku menghela nafas dan membuka pintu kelas.
Melihat sekitar tidak ada yang aneh, aku harap.
Aku memilih tempat duduk di tengah-tengah kelas. Kapok aku milih dibelakang.
Baru setelah itu teman-temanku memasuki kelas satu persatu sekilas melirikku dan menjauhiku.
"Kenapa?" Tidak ada yang menjawabku. Perasaanku langsung tidak enak. Karena memang sudah tidak enak dari aku berangkat sekolah.
Rizal saja memilih duduk dan menjauhiku. Kenapa sih? Ada apa? Sheila mendekatiku
"Semangat" Setelah menyemangatiku dia pergi.
"Jangan bilang aku jadi tumbal dari sesuatu ya?" Tidak ada yang menjawabku sama sekali,
mereka langsung mengacuhkanku.
Menyebalkan, aku melepas tasku dan menatap sesuatu yang ada di sampingku. Yap ada sesuatu yang ada di sampingku, itu cuma anak SMA biasa kok.
Tanpa mata dan rahang bawahnya. Apa aku menduduki tempat bertuah atau sesuatu?
Aku berdiri dan dia juga berdiri.
Aku berjalan pelan ke pintu keluar dan dia mengikuti. Aku keluar dari kelas dan dia menghilang.
Ok, aku membuat kesalahan fatal untuk tidak mencari tahu cerita di kelasku. Aku berjalan ke kelas 12 dan melihat kedalam kelas itu yang sudah dipenuhi murid disana.
"Maaf kakak-kakak sekalian. Aku mau tahu semua cerita kelas sebelas B bisa?" Mereka secara serempak melihat ke arahku dan berbisik-bisik.
Ayolah kalian pasti kenal sama aku. Tidak sedikit dari kalian yang meminta bantuanku.
"Aku saja yang cerita" siswi yang cukup ceria berdiri dan berjalan ke arahku.
Dia ini Tasya, dulu pernah terkena masalah waktu itu. Kalau tidak salah surat hitam, aku masih ingat saat harus menemaninya bermain petak umpet dengan setan itu.
TUNGGU DULU... Jangan bilang kalau itu dikelas yang kutempati sekarang? "Aldi. Apa kabar? Gimana liburannya?" Aku melamun dan tidak menyadari Tasya yang sudah ada di depanku.
"Ya kaya liburan biasanya. Kakak sendiri gimana?" Tasya dengan santainya merangkul pundakku dan membawaku .
"Sama biasa aja. Ke kantin yuk biar enak ceritanya" Aku dan Tasya pergi ke kantin sambil mengobrol sedikit.
"Siapa yang kena si kembar?" Tasya bertanya santai padaku "si kembar?" Aku menatap kearah tasya dengan tatapan minta penjelasan.
"Ya itu setan pertama sih dikelas itu. Murid yang pertama kali masuk kelas akan ditempeli mereka berdua selama murid itu masih kelas 2".
Aku menatap horor kearah Tasya "Beneran? Setahun?" Jadi ada 2 yang menempeliku? Yang benar saja.
Kami sampai di kantin, setelah membeli minum kami duduk di meja "aku yang ditempeli setan kembar itu" Aku melihat reaksi Tasya yang tidak menunjukkan perilaku terkejut
"Gak kaget gitu?" Tasya cuma menikmati minumannya "malah aku kaget kalau yang kena bukan kamu. Jujur aja sebenarnya ada tradisi khusus saat pertama kali masuk ke kelas itu, dimana semua anak kelas berkumpul dan masuk kelas bersamaan untuk menguji siapa yang bakal ditempeli si kembar. Kalau aku bisa tebak pasti kamu yang masuk kelas duluan ya?"
Tasya hanya menggelengkan kepala "mereka cuma nempel saat kamu dikelas aja kok, selama dikelas gak bisa lepas. Tapi mereka bisa ngerasukin orang yang duduk di sampingmu, makanya orang yang ditempeli harus siap duduk berdua sama dia"
Aku merasa ada yang kurang "katamu ada 2"
Tasya mengangguk "memang ada 2. Cuma yang satunya sulit buat kamu lihat sendiri, yang kedua cuma kelihatan sama orang lain dikelas itu sama foto kamu didalam kelas"
Foto ya... Sulit dilihat, apa dia menyatu kedalam tubuhku? Aku jadi merinding "bisa ceritakan tentang setan dikelas itu. Seperti ada berapa banyak, mereka ganggu apa enggak, dan pantangan yang ada dikelas"
"Wah kalau itu perlu banyak waktu, besok mungkin kita bakal bicarakan lebih yang jelas yang ku jelaskan semua setan yang ada dikelas itu dulu" Tasya menunjukkan wajah terpaksa.
Tapi dia kan yang mengajukan diri ya. Tasya melanjutkan perkataanya "Ada 4 setan disana yang sering memunculkan diri kecuali si kembar, yang pertama penjaga meja. Setan ini akan muncul saat kamu mengotori meja terutama menggunakan pulpen atau benda lain yang sulit dibersihkan"
Baru setan pertama dan itu sudah membuatku keringat dingin "Yang kedua penjaga kelas selama kamu tidak berisik sih tidak masalah, setan ini akan langsung menyeret siswa yang berisik kecuali urusan pelajaran, ketiga setan handphone seperti namanya dia selalu muncul dilayar hp saat jam kelas berlangsung terakhir dan paling mengerikan setan guru-"
"Kayaknya sudah banyak dah setan guru disekolah ini. Kenapa yang satu ini dibilang mengerikan?"
Tasya menatapku tajam karena memotong perkataanya membuatku terdiam "Karena setan ini pasti muncul jika guru tidak ada atau terlambat karenanya tidak ada kelas kosong di kelas itu"
Aku langsung merinding "Gak ada kelas kosong berarti gak ada jam bebas?"
"Begitulah tapi yang paling mengerikan si kembar itu mereka-"
Suara bel masuk memotong perkataan Tasya beberapa anak baru mulai berkumpul di lapangan.
"Udah ah naik keatas. Setan di kelasku tidak kalah seram" Tasya berdiri dan membayar minuman yang dia pesan.
Aku tersadar dan mengejar Tasya "Yang terakhir apa? Si kembar membawa masalah apa kepadaku?"
Tasya mengabaikanku dan naik ketangga dengan cepat. Tau-tau sudah diatas aja.
"Nanti kamu tahu sendiri"
Bersamaan dengan teriakan Tasya dia pun hilang sampai aku bingung. Apa jangan-jangan dia tuh setan?
Sekalian aja aku masuk ke kelas. Baru menginjak kaki di kelas setan kembar itu sudah berdiri di sampingku, mengikutiku ke tempat duduk.
Aku duduk dan mengacuhkan hal itu, sambil menghela nafas "Aku tidak percaya teman sekelas menjadikan aku tumbal"
Aku berteriak keras di kelasku bukanya mereka takut atau terkejut malah tertawa "Aldi" Suara Sheila membuatku berbalik.
Flash kamera mengejutkan mataku "Maaf. Kukirimin fotonya" suara Sheila minta maaf terdengar saat aku mengosok mataku.
Hp ku berbunyi, aku membuka chat dari Sheila yang menunjukkan fotoku menghadapnya. Bukan cuma itu, di leherku ada setan tanpa kaki, mata, dan tangan serta badannya yang seperti anak kecil menempel disana.
Tunggu dulu. Jangan bilang si kembar itu? Ahh menyebalkan. Tidak menunggu lama bu Siska masuk begitu melihat ke arahku, bu Siska tertawa.
"Sudah ibu duga. Pasti Aldi yang kena" Perkataan bu Siska kembali membuat seluruh kelas tertawa.
"Baiklah anak-anak kali ini ibu yang jadi wali kelas kalian. Dan Aldi kamu jadi ketua kelas"
Aku tercengang mendengar itu.
"Aku bu? Kenapa aku?" Bu Siska tertawa kecil saja "Soalnya cuma kamu yang bisa bantuin ibu meski sampe malam kan?"
Berkat itu seluruh kelas kembali tertawa lagi. Aku dimanfaatin lagi, kali ini terang-terangan lagi..
#Sabar yaa Al.... Hi.... jumpa lg dg Aldi ya👋 maaf baru bisa update 😊