
Aku mengambil hp yang jadi penyebab semua ini. Jam 6? Sejam aku tidur di kelas? Diluar sudah gelap..
Suara langkah kaki terdengar dari lorong depan sana. Lorong yang berhantu dan diminta untuk menjauh.
Aku menatap kearah lorong itu dan sekilas melihat pria dengan kemeja putih dan merah sebelum memasuki kegelapan.
Aku merasakan perasaan takut melihat pria itu. Dan siapa dia? Kenapa bisa ada didalam sekolah dan di lorong berhantu itu?
Apa jangan-jangan dia hantunya? Aku berbalik mengabaikan semua itu menuju gerbang sekolah.
Dari tangga aku melihat 5 anak turun dari lantai 2 yang gelap. Salah satunya anak kelas tiga Alvin.
Aku menghampiri mereka karena aku ingin tahu satu hal. Aku yakin kejadianku berhubungan dengan mereka.
Alvin melihatku juga mendatangiku "syukurlah kamu belum pulang" Sepertinya dia memang tahu sesuatu..
"Sebenarnya kenapa aku bisa tertidur di kelas?"
Kejadian dinding berdarah sangat membuatku trauma sampai tidak berani memikirkan untuk tertidur seberapa lelah dan mengantuknya aku disekolah.
Membayangkan aku tidur dikelas setelah jam pulang di sekolah mengerikan seperti ini adalah hal terakhir yang bakal aku percaya itu kelakuanku sendiri.
"Sepertinya kita terseret ke insiden 77, Apa ingatan terakhir yang ada di kepalamu?" Kenapa dia bertanya seperti itu?
"Kenapa?" Alvin melihat murid yang lain. Sepertinya mereka juga belum cerita "ingatan kita dipecah jadi 7. Mungkin jika bisa tahu semua ingatan kita akan kembali"
Ohh... aku paham. Tapi aku tidak mau "lebih baik kalau tidak kembali" Aku mengacuhkan Alvin dan pergi ke gerbang.
"Aku harus memaksa ibuku agar bisa pindah sekolah" "Jangan!!!" Suara teriakan Alvin membuatku terkejut.
Aku berbalik dan menatapnya "Maksudmu aku harus terus sekolah disini dimana aku akan selalu di terror?"
Alvin menghela nafas "Saat kamu setuju sekolah disini dengan datang kesini. Kamu sudah dikutuk untuk sekolah disini sampai kamu lulus. Kalau kamu berhenti ditengah jalan dengan keluar dari sekolah ini, Saat itulah hidupmu akan berakhir".
Aku merinding... Apa itu serius? Sejujurnya aku tidak percaya, tapi jika dilihat ada siswa kelas 2 dan 3 yang sudah mengalami teror ini untuk 1 sampai 2 tahun....Itu mungkin saja. Aku berbalik dan pergi dari sekolah ini.
Keesokan paginya aku tetap berangkat ke sekolah.
Kemarin aku di marahi karena telat pulang juga permintaanku untuk bolos hari ini diabaikan lagi oleh ibuku.
Kalau bukan karena ibuku yang melambaikan tangannya dari depan pagar. Aku pasti sudah memilih membolos saja daripada kesini lagi
Aku masuk kelas, Kelas sudah terisi penuh. Aku duduk disamping Rizal "Tumben telat" Rizal langsung bertanya bahkan aku belum duduk.
"Males....Pengen tidur aja dirumah" Kejadian kemarin menghantuiku termasuk potongan mimpi itu.
Sebenarnya aku penasaran. Tapi aku juga takut rasanya seperti membuka kotak pandora, karena itu aku memutuskan untuk mengabaikan hal itu.
Tiba-tiba aku teringat tentang kutukan itu. Mungkin Rizal tau sesuatu, aku menatap Rizal
"Apa sekolah ini dikutuk ya? Angker sekali tempat ini"
"Itu mah udah jelas. Tumben penasaran sama begituan?" Rizal bertanya balik sambil memperhatikanku.
"Enggak aku cuma penasaran aja. Udah tahu sekolahnya seseram ini kenapa gak ada murid yang keluar?"
"Karena memang tidak mungkin. Cerita yang lain memang dibuat-buat tapi tidak dengan kutukan sekolah ini, tidak ada yang tahu sejak kapan, mungkin sejak berdirinya sekolah ini.
Semua murid terkena 2 kutukan dan semua guru satu kutukan".
Lah... Kok gitu? "kok gak adil gitu sih? Kutukannya apa?"
"Murid yang sekolah disini tidak boleh keluar atau berhenti sekolah dan guru dilarang mengeluarkan murid dari kelas ataupun sekolah".
"Tidak.. Kutukan murid yang kedua itu. Tidak boleh mendapat nilai jelek di 7 mata pelajaran". Aku tercengang,
Kutukan pertama mungkin aku bisa tidak akan terkena kutukan itu. Tapi yang kedua cukup susah.
Tidak semua anak kelas itu pintar pasti ada beberapa yang bodoh atau tidak paham. Tiba-tiba perutku sakit, aku ingat tadi minum susu.
Padahal aku Intoleran Laktosa. Gara-gara minum susu dimeja makan kukira itu susu kedelai
Aku berdiri dan mau pergi. Rizal menahanku, "Mau kemana, bentar lagi masuk". Aku melepas tangan Rizal,
"Toilet". Rizal terkejut dan berdiri menahan tanganku agar tidak pergi. "Jangan. Kamu jangan ke toilet waktu disekolah".
Keadaanku makin gawat, salah-salah bisa jadi masalah, "Lepas. Kalau aku kenapa-kenapa memang kamu mau tanggung jawab?"
Rizal melepasku dan aku langsung pergi "Ingat jangan teriak juga jangan liat keatas apapun yang terjadi!!"
Aku mengacuhkan Rizal dan pergi ke toilet. Di dekat toilet aku melihat ada pria berbadan gendut disitu
Apa dia cleaning service? Tapi kayaknya aku gak pernah liat dia deh. Aku mengacuhkan hal itu dan masuk toilet
Aku membuka celanaku dan mulai melakukan aktivitasku. Tadi si Rizal bilang apa ya? Jangan liat keatas terus teriak?
Aku lupa. Aku membeku, sekilas aku melihat keatas dan menyadari ada sesuatu yang menempel di dinding di belakangku tepat disudut diatas daerah kiriku.
Aku secara refleks menundukkan kepalaku. Apa itu tadi? Aku menggerakkan mataku tanpa menggerakkan kepalaku, secara sekilas aku melihat seperti manusia.
Karena tidak melihat langsung aku tidak begitu jelas. Sumpah sekolah ini terlalu banyak setannya.
Aku menyelesaikan aktivitasku dan menyadari dia masih disana. Begitu aku memakai celanaku, aku berjalan seperti biasa dan membuka pintu.
Tanpa sengaja aku melihatnya, sesosok wanita gendut yang menempel seperti cicak disudut toilet.
Wanita itu sadar dan mengangkat kepalanya menatapku, dan langsung melompat ke arahku.
Aku membanting pintu dan berlari sekuat tenaga keluar dari sana.
Tiba-tiba aku terjatuh dan wanita itu sudah memegangi kakiku. Aku hampir berteriak tapi wanita itu langsung menghilang.
Aku langsung duduk lemas dilantai. Satu-satunya kesialan seumur hidupku adalah sekolah disini.
Sampai bisa dihantui cuma karena buang air. Keterlaluan. Aku berdiri dan kembali ke kelas meski kakiku masih gemetar.
Begitu aku kembali, pelajaran sudah dimulai dan aku duduk di kursiku masih dengan kakiku yang gemetar.
Bahkan sampai membuat kursi yang ku duduki membuat suara juga. Rizal tertawa di sebelahku.
"Kenapa kamu?" Rizal berusaha menahan tawa yang malah membuatku semakin kesal.
"Habis ketemu cewek. Puas?" Rizal malah tertawa lebih keras "Rizal!!! Apa yang kamu tertawakan?" Bu guru yang sedang menerangkan sampai terganggu
"Si Aldi bu dari toilet" Mendengar perkataan Rizal bu guru malah masang wajah panik "Kamu gak papa Di?"
Entah kenapa aku malah malu "Aku gak papa kok"...
Bu guru menghela nafas "Lain kali jangan ke toilet ya. Ayo kita lanjutkan"
Sepertinya hal yang bisa dilakukan di sekolah ini cuma belajar deh...
Stay on the next chap yaa....😉