One Thousand School Ghost Stories

One Thousand School Ghost Stories
Bab 14 Pelajaran seni bersama setan



Kami semua murung karena ada pengambilan nilai seni budaya. Bahkan guru kami meminta maaf karena harus mengambil nilai itu.


Pengambilan nilai dilakukan di ruang seni yang dipenuhi setan. Biasanya pengambilan nilai langsung seperti ini hanya 2 kali dalam 1 semester.


Yang kebetulan 2 hari itu beruntun seperti ini. Kami berbaris ke ruang seni, pengambilan nilai pertama adalah melukis.


Kami semua gugup, agak khawatir dapat model horor. Ruang seni adalah ruangan yang berisi puluhan jenis alat seni dari berbagai cabang seni.


Tentu saja selain alat seninya yang banyak, ruang ini juga terkenal dengan puluhan cerita horornya.


Yang paling sering terjadi adalah seni melukis horor. Ini yang selalu terjadi, karena itu bahkan guru saja cukup cemas.


Salah satu dari murid yang mengambil penilaian melukis akan terseret ke ruang seni dunia lain dimana mereka diharuskan melukis model horor dan harus mendapat nilai 70 minimalnya.


Guru menaruh model sekeranjang buah untuk kami lukis. Kami semua langsung menatap sekitar untuk mencari anak yang terseret ke ruang seni dunia lain.


Dan kami menemukannya, seorang siswi dengan nama Siti yang terkena hal itu, karena dia sudah mulai melukis.


Semua anak kelasku bernafas lega. Melihat itu, mereka yang terseret ke ruang seni dunia lain akan memasuki keadaan seperti kesurupan.


Dia akan mulai melukis sampai selesai dalam keadaan tidak sadar dan mata yang kosong. Tidak ada yang bisa membantunya sadar kecuali dia menyelesaikan lukisannya di dunia lain.


Aku juga mulai melukis, sebenarnya selain itu adalagi yang bakal meneror kami di ruang lukisan ini.


Gambarku salah lagi. Telapak merah muncul di lukisanku, aku langsung membuang kanvas itu


Ya dialah setan yang kedua.


Guru lukis, setiap ada kesalahan dalam melukis akan ada telapak tangan darah di kanvas yang tidak bisa ditutupi menggunakan apapun.


Setelah 7 kali gagal dalam melukis orang yang gagal akan terusir dari ruang seni dalam keadaan mengerikan.


Untungnya setelah ini aku tidak membuat kesalahan lainnya. Suara musik piano terdengar dengan lembut membuat bulu kudukku berdiri.


Semua langsung panik tapi tetap melukis. Kenapa sekarang sih?!! Satu lagi cerita horor mengerikan di ruang seni.


Les piano horor. Hal ini jarang kejadian, jadi sering diabaikan. Soalnya kejadian ini terjadi kalau ada anak yang bisa mengerti piano tapi tidak ahli.


Aku menyelesaikan lukisanku dan memperhatikan sekitar. Setelah suara piano berbunyi banyak anak yang melakukan kesalahan dan mengganti kanvas beberapa kali.


Bahkan Rizal sudah terusir dari ruang seni. Aku harap dia baik-baik saja. Akhirnya aku berhasil menemukannya, siswi bernama Sheila yang sekarang malah termenung daripada melukis.


Aku menghampiri Sheila "Shei... Sadar ini kelas melukis bukan bermain musik, Sheila terperanjat dan akhirnya sadar.


"Terima kasih Aldi" Sheila mulai melukis setelah beberapa lama suara pianonya berhenti. Sudah 3 semoga yang keempat tidak kejadian.


Berbeda dengan 3 cerita sebelumnya cerita keempat merupakan mimpi buruk sesungguhnya dari ruang seni.


Teater mimpi buruk, beberapa dari anak-anak bahkan sampai depresi dan nyaris gila karena hal itu.


Kelas akhirnya selesai setelah mengumpulkan kanvas guru langsung ke pintu keluar dan membuka pintu.


Dan kami semua membeku melihat hutan didepan kami. Ahhh.... Teater mimpi buruk ya, aku tahu bakal begini melihat semua kejadian sebelumnya.


Dalam teater mimpi buruk, kami akan kehilangan kendali tubuh dan dikendalikan bermain sebagai peran dalam teater.


Seperti namanya didalam teater ini tidak ada harapan, keindahan, bahkan kehidupan. Cerita dalam teater ini selalu berakhir matinya semua orang yang bermain dalam teater.


Teater ini berjudul runtuhnya Blood kingdom.


Aku mendapat peran sebagai pangeran kedua yang menyukai seorang putri dari kerajaan tetangga.


Putri itu adalah Sheila, putri itu memiliki tunangan yang juga merupakan teman sekelasku.


Perang berlangsung lumayan lama dengan berakhir kemenangan kerajaan ku. Tapi putri yang kusuka sudah melangsungkan pernikahan dengan tunangannya.


Aku menangkap tunangannya dalam perang dan menjadikan putri itu budak perang. Aku menyiksa suami putri itu didepannya begitu juga sebaliknya.


Meski menang kerugian perang yang didapat sangat besar sampai menimbulkan masalah ekonomi, aku yang merupakan pangeran egois mengabaikan semua itu.


Sampai timbulah pemberontakan yang diketuai pangeran lain. Dan aku berhasil meredam pemberontakkan itu dengan membunuh pangeran itu.


Rakyat muak melihat semua itu dan akhirnya rakyat memberontak. Kerajaan hancur karena pemberontakan semua rakyat berakhir dengan seluruh istana dibakar termasuk aku, raja dan semua orang penting didalamnya.


Aku kembali sadar, masih didalam ruang seni. Seluruh ruangan langsung kacau banyak anak yang muntah, bahkan guru seni ku jatuh pingsan di bangkunya.


Seolah belum cukup ketenggangan terjadi di seluruh kelas. Ya karena bisa dibilang itu semua terjadi karena salahku.


Tapi serius adegan berdarah yang kulakukan terasa mengerikan begitu juga penyiksaan yang kulakukan.


Rasanya itu seperti benar-benar kelakuanku. Bahkan saat aku melihat kearah Sheila ada perasaan aneh di dadaku yang membuatku semakin takut.


"Bu Guru pingsan" Suara teman sekelasku membuyarkan semua ketegangan yang ada.


Aku membuka pintu ruang seni dan menghela nafas karena semuanya kembali normal.


Aku meminta bantuan guru laki-laki untuk membantu bu guru didalam. Selain Rizal dan Siti yang tidak hadir di ruang seni secara langsung yang tidak mengalami kejadian Teater mimpi buruk.


Semua anak yang lain benar-benar memusuhiku sampai tidak mau menatap langsung kearahku menyebalkan.


Aku sempat berbicara kepada Siti tentang kejadian yang dia alami. Soalnya begitu kami sadar, Siti langsung diam saja dengan pandangan kosong.


Siti bercerita bagaimana dia disuruh melukis manusia dan berbagai hewan dengan keadaan tubuhnya terbelah 2.


Siti juga bercerita bahwa dia tidak sendiri disana melainkan bersama beberapa setan lainnya.


Jika nilainya rendah setelah 7 kali sesi melukis berikutnya, dia yang akan menjadi modelnya dengan keadaan yang sama.


Siti juga menceritakan tentang sulitnya kelas itu dimana dia harus melukis dengan darah yang cepat mengering dan membusuk.


Siti tidak menceritakan bagaimana akhir dari kelas itu. Setelah Siti cerita dia izin pulang cepat.


Sedangkan kami tidak ada yang bisa melakukan apapun karena Shock karena teater mimpi buruk


Berbeda dengan kami. Sheila setelah keluar dari ruang seni sesekali berbalik menatap keruang seni.


Aku menghampirinya "Sheila?" Sheila berteriak dan menjauhiku "Ampuni hamba pangeran".


Sheila berjongkok sambil memohon ampun.


Aku terdiam mematung. Jujur saja reaksi Sheila normal menurutku "Ini aku Aldi. Bukan pangeran kedua."


"Aldi?" Sheila menatap takut-takut kearahku "Maaf ya saat perlakuanku sebagai pangeran. Itu bukan kemauanku".


Sheila berdiri tapi menjaga jarak sejauh yang dia bisa "Gak papa. Aku duluan" Sheila langsung pergi sebelum aku sempat bicara lebih jauh.


Aku harap hal itu tidak akan dilakukan Sheila....


#Maaf guys bru update lg😁🙏🏻


تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ*


*_Taqabbalallaahu Minna wa Minkum_*


*Mohon dimaafkan atas salah dan khilaf