
KEESOKAN HARI
"Nyonya sudah bangun?" tanya salah satu pembantu.
"Sudah, apakah ada telepon dari seseorang?" tanya Margaretha.
"Tidak ada Nyonya, tadi cuma Leon bilang kalau dia akan keluar sebentar. Dia mau menunggu temannya yang mau datang ke sini." jawab Si Bibi.
"Ya sudah kalau begitu, Oh ya tolong kamu buatkan aku secangkir moccacino." pinta Margaretha.
"Baik nyonya." jawab pembantu wanita.
"Oya, tolong buatkan Pie anggur. hari ini aku ingin makan makanan itu." pinta Margaretha dengan tutur kata yang begitu sopan kepada salah satu pembantunya.
"Baik nyonya." jawab pembantu wanita.
"Oh ya, apakah putramu sudah sembuh?" tanya Margaretha yang membuat pembantu wanita itu langsung menghentikan langkah kakinya.
Putra dari pembantu wanita mengalami kecelakaan, orang yang sudah mendapatnya tiba-tiba melarikan diri. biaya rumah sakit yang begitu besar membuat pembantu wanita itu begitu kebingungan. Margaretha menawarkan bantuan wanita itu tidak akan membiarkan salah satu orang yang bekerja dengannya dalam kondisi yang kebingungan.
"Sudah Nyonya, Putra Saya sudah lebih baik. Saya sangat bersyukur karena nyonya mau membantu saya." jawab pembantu wanita.
"Ya sudah kalau begitu, kalau kamu butuh apa-apa kamu kabari aku. jangan pernah sungkan Kamu adalah keluargaku kamu bekerja denganku, itu artinya kamu bagian dari rumah yang aku huni." ucap Margaretha yang membuat pembantu wanita itu berulang kali menundukkan kepalanya dan berterima kasih.
Sekitar 10 menit kemudian Viona sudah datang dengan membawa beberapa belanjaan.
"Pagi buta seperti ini kamu dari mana?" tanya Margaretha.
"Ini lho Retha, tadi aku membeli beberapa pakaian untukmu. kamu ini kan pengusaha yang begitu di kagumi oleh orang banyak, kenapa sih pakaianmu hitam melulu sekali-kali kamu pakai dress atau pakai pakaian yang berwarna gitu." Viona yang terlihat membuka beberapa dress yang sudah dia beli.
Setelah kematian Arthur Margaretha tenggelam pada kesedihannya, wanita itu selalu memakai setelan kerja hitam dan kemeja putih, tak pernah sekalipun wanita itu memakai pakaian berwarna di kantornya.
"Sudahlah Viona, aku lebih nyaman memakai pakaian itu." jawab Margaretha.
"Ayolah Retha, pasti Arthur sangat sedih jika kamu terus seperti ini. jalaninilah hidupmu kembali." pinta Viona.
"Aku akan menjalani hidupku setelah aku mendapatkan orang-orang yang sudah membunuh orang tuaku dan kedua mertuaku." jawab Margaretha.
Hati yang dipenuhi dengan dendam membuat Margaretha selalu menutup dirinya. wanita itu tidak pernah sekalipun berusaha untuk membuka hatinya, rasa sakit itu benar-benar sudah membuat Margaretha merasakan dendam yang sangat luar biasa. baginya tidak akan ada cinta yang hadir di hatinya karena cinta yang sudah hancur itu tidak akan bisa kembali lagi.
"Kenapa sih kamu seperti ini, cobalah jalani hidupmu. Jika kamu seperti ini terus kehidupan tidak akan berhenti di sini." Viona yang terus mencoba untuk membuat pemikiran Margaretha berubah.
"Aku pasti akan memakai pakaian berwarna itu dan aku pasti akan menjalani hidupku dengan penuh warna. namun sebelum itu aku pasti akan membunuh orang-orang yang sudah membunuh kedua orang tuaku dan kedua mertuaku. Aku tidak akan pernah melepaskan mereka, sakit yang mereka berikan ini terlalu menyakitkan." jawab Margaretha yang kemudian mengambil ponselnya.
Wanita itu menatap ponselnya yang mendapatkan panggilan telepon dari seseorang.
"Nyonya, ini moccacinonya." pembantu wanita yang sudah membawa moccacino untuk Margaretha.
"Terima kasih ya bi." ucap Margaretha yang kemudian meminum minuman yang sudah dia minta.
"Telepon dari siapa?" tanya Fiona.
"Entahlah aku tidak tahu karena aku tidak pernah mengenal nomor ini." jawab Margaretha.
Sesaat kemudian wanita itu menjawab panggilan telepon tersebut. "Selamat pagi," Margaretha yang sudah menjawab panggilan telepon tersebut.
Seorang pria yang berada di tempat yang jauh nampak pria itu jantungnya berdebar begitu kencang, tatapan matanya menatap ponsel yang sudah dia pegang. suara itu benar-benar dia rindukan, suara itu membuat jantungnya berdebar kembali.
"Tuan." Lukas yang mencoba untuk menenangkan bosnya.
Tak ada kata yang diucapkan oleh William, sesaat kemudian Lukas mengambil ponsel William kemudian mengambil alih pembicaraan tersebut.
"Maafkan saya Nyonya Margaretha, saya adalah tangan kanan dari perusahaan black diamond, saya salah satu orang kepercayaan di perusahaan ini, beberapa hari yang lalu perusahaan kami sudah mengajukan proposal kerjasama dengan perusahaan anda." jawab Lukas.
"Black diamond? Bukankah itu perusahaan permata yang sangat terkenal di Paris?" tanya Margaretha yang membuat Lukas harus menata kata-katanya agar wanita itu tidak langsung menutup teleponnya.
"Benar Nyonya, saya adalah manajer dari perusahaan tersebut. tuan saya meminta saya untuk berbicara dengan anda mengenai beberapa kerjasama yang harus kita laksanakan." ucap Lukas yang membuat Margaretha sedikit meneliti pemilik dari perusahaan black diamond.
"Viona, Arthur di mana?" tanya Margaretha.
"Suamiku sedang keluar, katanya dia mau melihat beberapa barang yang akan masuk di perusahaan." jawab Fiona.
"Ya sudah kalau begitu." jawab Margaretha yang kemudian berbicara kembali dengan Lukas.
"Baiklah kalau begitu, tuan. besok saya akan menunggu Anda di perusahaan pukul 10.00. Saya tidak mengenal kata terlambat jika anda datang lebih waktu yang sudah saya tentukan, silakan Anda pergi." jawab Margaretha yang kemudian mematikan ponselnya.
Lukas benar-benar sangat terkejut, wanita yang dulu begitu baik itu sekarang berubah total.
"Ada apa Lukas?" tanya William.
"Nyonya Margaretha Kelihatannya sudah berubah drastis, Tuan."'jawab Lukas.
"Maksudmu?" tanya William.
"Dari kata-kata yang dia ucapkan Anda harus berhati-hati, Tuan. wanita itu sekarang begitu dingin, dari tutur katanya yang keluar dia tidak terlalu mempercayai orang lain." jawab Lukas.
"Baiklah kalau begitu Lukas, kita harus mencoba untuk berbicara dengan wanita itu. lalu kapan kita akan ke sana?" tanya William.
"Besok kita akan ke sana pukul 10.00, Tuan. dia tidak mau menerima keterlambatan, jika kita terlambat datang ke sana dia tidak akan mau menemui kita." jawab Lukas.
Benar-benar begitu berbeda, Margaretha yang dulu dan sekarang terlihat Tidak Sama Lagi.
"Baiklah kalau begitu, Aku akan mencoba untuk membuat rencana besok. aku akan bertemu dengannya lagi, aku begitu merindukannya aku mencoba untuk melupakannya selama beberapa tahun ini. nyatanya ketika aku mendengar kembali suaranya hatiku berdebar begitu kencang." William yang terus membayangkan wajah Margaretha.
"Baiklah Tuan, kalau begitu lebih baik kita beristirahat dahulu. besok kita akan tahu apa yang akan terjadi." Lukas yang kemudian berpamitan kepada William.
Terlihat pria itu tidak akan bisa tidur, untuk malam ini dia terus memikirkan Margaretha dengan semua kenangan yang selalu dia ingat. kenangan ketika mereka pertama kali bertemu, kenangan ketika mereka memadu kasih namun tiba-tiba kenangan pahit itu muncul saat William meninggalkannya.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- I love you uncle Bastian
-Terlempar ke dimensi kerajaan
-Isteri simpanan bos kejam
-Gairah cinta isteri muda
-One night stand with mister William
-Mantra cinta gadis pemikat