
BRAKK..
BRAKK..
"Tidak ada yang boleh menyentuh wanitaku, Jika kamu berani melakukan hal itu maka bersiap-siaplah nyawamu akan ku hempaskan!" William benar-benar sangat murka ketika melihat tubuh tidak berdaya dari Margaretha.
Seketika pria itu mematahkan salah satu kaki dari pria tua.
"Beraninya kamu melakukan hal ini padaku!" teriak pria tua ketika salah satu kakinya dipatahkan oleh William.
Senyum iblis seketika nampak di wajah William ketika pria itu mengatakan sesuatu yang begitu dia benci.
"Berteriaklah dengan sangat keras." ucap William.
Pria tua terus menatap William dengan tatapan mata yang begitu membenci, wanita itu adalah wanita murahan dan dia adalah wanita tidak punya harga diri!!" seru pria tua tua yang membuat amarah William bertambah memuncak.
"Lukas," Panggil William kepada tangan kanannya itu.
"Iya tuan." jawab Lukas.
"Apakah mereka sudah kamu tangani?" tanya William yang membuat Lukas menganggukkan kepalanya.
"Mana pisau ku?" tanya William kepada Lukas.
Nampak pria itu menadahkan tangannya meminta pisau kesayangannya yang selalu dia buat untuk menyiksa musuh-musuhnya. sebuah pisau sudah berada di tangan William, Pria tua yang melihat hal itu seketika pria itu sangat tersentak luar biasa. sorot mata yang mematikan sorot mata pembunuh yang benar-benar akan membuat siapapun menelan ludahnya dengan susah payah.
"Berani sekali kamu mengatakan kalau wanitaku adalah wanita murahan, wanita tidak punya harga diri dan wanita simpanan." ucap William yang kemudian berjalan mendekati pria tua.
Tentu saja pria itu berusaha untuk menarik tubuhnya, dari sorot mata pria yang ada di depannya itu pria tua sangat yakin dirinya tidak akan pernah selamat.
"Siapapun tidak akan aku perbolehkan untuk menghina wanitaku." ucap William yang kemudian menggoreskan pisau itu di leher pria tua.
Seketika darah langsung mengucur dari leher pria tua.
"Bagaimana rasanya, sakit bukan?" tanya William dengan kata-kata yang tidak terlalu keras namun pria tua tidak menghiraukan perkataan William.
Seketika pria itu berusaha untuk menekan luka yang sudah dibuat oleh pria yang barusan muncul tersebut.
"Tuan." Panggil Lukas.
"Biarkan pria ini mati mengenaskan di sini, Lukas. aku akan membawa wanitaku pergi terlebih dahulu." William yang kemudian berjalan mendekati Margaretha yang sudah tidak berdaya dengan kepala yang sudah bersimbah darah.
Sedangkan bibi Ana wanita itu berusaha untuk menekan kepala Margaretha yang mengeluarkan darah terus-meneru.
"Persiapkan mobilnya Lukas." pinta William.
"Kamu akan membawanya ke mana?" tanya bibi Ana.
"Tentu saja aku akan membawanya ke rumah sakit, Memangnya mau kubawa ke mana." jawab William yang kemudian menggendong Margaretha yang sudah lemas tidak berdaya.
Wanita itu nampak menatap William yang sudah menggendongnya, terasa matanya benar-benar tidak bisa terbuka sempurna. tubuhnya tidak berdaya, sekitar satu jam kemudian mereka sudah berada di rumah sakit.
Beberapa dokter kenalan William langsung memberikan tindakan penyelamatan kepada wanita yang barusan dia bawa.
"Apa yang terjadi?" tanya Dokter kepada William.
"Jangan banyak tanya, dokter. segera obati wanitaku jika sampai terjadi sesuatu kepadanya akan kupastikan Kamu tidak akan bisa bernafas." ancam William yang membuat seorang dokter yang tidak terlalu tua itu langsung mengobati Margaretha yang sudah tidak sadarkan diri.
"Lukanya cukup dalam, kamu harus tenang dan jangan sampai membuat keributan di tempat ini, mengerti." dokter pria yang berusaha untuk menenangkan William.
"Tentu saja aku akan tenang jika kamu melakukan semuanya dengan baik, namun jika kamu berani melakukan sesuatu yang buruk kepada wanita ku.. lihat saja akan kupastikan satu gedung ini akan runtuh seketika." William yang benar-benar mengancam dokter itu dengan kata-kata yang tidak main-main.
"Siapa wanita ini, William?" tanya seorang dokter yang bernama dokter Paulo.
"Aku sudah bilang Kan, kalau wanita ini adalah wanitaku. kamu mempunyai telinga apa tidak, jika kamu tidak mempunyai telinga lebih baik telingamu itu kamu letakkan di ruang operasi." jawab William dengan kata-kata yang selalu membuat orang lain terdiam tanpa bisa bertanya lagi.
Sekitar lima belas sampai dua puluh lima menit kemudian dokter Paulo sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Dia akan bangun tiga jam lagi." ucap dokter Paulo.
"Kenapa lama sekali?" tanya William.
"Dia itu terluka parah, Dia Bukan Superman atau pahlawan superhero. dia itu manusia biasa pastinya dia membutuhkan pengobatan." jawab dokter Paulo yang terlihat terus menetap William. padahal dalam hati pria itu benar-benar takut kepada pria yang ada di depannya itu, apalagi ketika William mengancam dia tidak akan main-main. apapun yang keluar dari mulutnya itu akan menjadi senjata pembunuh yang paling menakutkan.
"Lebih baik kamu istirahat dulu, aku akan meminta para perawatku mengurus wanita ini." ucap dokter Paulo.
"Lebih baik kau sendiri yang pergi aku akan menunggu wanitaku." jawab William.
Sekitar sepuluh menit kemudian bibi Ana sudah berada di tempat tersebut, wanita itu menatap keponakannya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Bagaimana kondisinya, Tuan?" tanya bibi Ana kepada William.
"Kamu bisa lihat sendiri kan Bagaimana kondisinya." jawab William.
Sesaat kemudian nampak William menata bibi Ana dengan tatapan mata yang penuh dengan pertanyaan.
"Siapa pria Tadi? kenapa dia berusaha untuk membunuhmu dan wanitaku?" tanya William kepada bibi Ana.
"Bolehkah aku tanya terlebih dahulu?" bibi ana yang mencoba untuk memberanikan diri dan bertanya kepada William.
"Silahkan." jawab William.
"Apakah benar yang dikatakan oleh pria tadi Kalau keponakanku menjual diri?" tanya bibi ana yang sedikit takut.
Terlihat William menghembuskan nafasnya, pria itu menatap bibi ana dengan tatapan mata yang benar-benar tidak suka dengan pertanyaan itu. salahkan dirimu sendiri kenapa kamu harus masuk rumah sakit. kamu membuat keponakanmu itu kebingungan untuk membayar hutang hutang ayahnya dan hutang-hutang suamimu serta membayar hutang-hutangmu saat berada di rumah sakit." jawab William yang membuat bibi Ana seketika terkulai lemas tak berdaya dengan kaki tertekuk.
"Kenapa dia harus melakukan hal ini, kenapa." ucap bibi Ana yang terlihat menundukkan kepalanya. air matanya seketika menetes dia benar-benar merasa bersalah kepada keponakannya tersebut.
"Lalu, Siapa yang sudah membeli kehormatan keponakan ku?" tanya baby Ana yang mungkin dia sudah bisa menebak Siapa orang yang sudah membelinya namun wanita itu hanya ingin mempertegas pemikirannya tersebut.
"Kamu sudah tahu kan jawabannya kenapa kamu harus bertanya lagi. aku tidak suka orang yang bermuka dua, namun aku jelaskan sekali lagi padamu dia adalah milikku dan tidak akan ku biarkan kamu atau siapapun berusaha untuk menjauhkannya dariku. kamu mengerti!" ancam William yang kemudian duduk di kursi yang ada di dalam kamar Margaretha.
** bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- I love you uncle Bastian
-Terlempar ke dimensi kerajaan
-Isteri simpanan bos kejam
-Gairah cinta isteri muda
-One night stand with mister William