
MARAH
"Oh ya sayang, beberapa hari yang lalu Papa bilang aku harus melakukan sesuatu." ucap Margaretha.
"Memangnya papa bilang apa?" tanya Arthur yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Papa bilang Katanya aku harus belajar menembak." jawab Margaretha yang membuat Arthur yang berada di kamar mandi langsung keluar.
BRAKKK..
"Apa Sayang?" tanya Arthur.
"Papa bilang katanya aku harus belajar menembak." jawab Margaretha.
"Kenapa Papa bilang begitu?" tanya Arthur yang terlihat sedikit syok.
"Papa bilang itu bisa membuatku untuk mempertahankan diri, bahkan papa bilang mau mencarikan aku seorang guru untuk melatih ilmu bela diri sama latihan menembak." jawab Margaretha yang membuat Arthur langsung menghela napasnya begitu kasar, Papa. ini benar-benar ya, masa istriku harus disuruh latihan menembak." guman Arthur dalam hati yang kemudian menyelesaikan mandi dan keluar dari kamar mandi.
"Kamu ingin pakai pakaian apa, Sayang?" tanya Margaretha.
"Apapun yang kamu pilihkan akan aku pakai, sayang." jawab Arthur.
"Oh ya, bagaimana menurutmu, sayang?" tanya Margaretha kepada sang suami.
"Nanti aku akan coba tanya kepada papa, kamu Jangan melakukan apapun sebelum Aku mengatakan iya." ucap Arthur yang membuat Margaretha menganggukkan kepalanya.
Arthur memakai pakaiannya, Margaretha membantu sang suami untuk memakaikan dasinya.
"Kenapa sih Sayang aku tidak boleh melakukan dua hal itu?" tanya Margaretha.
"Bukannya tidak boleh, sayang. hanya saja Apa kamu mau melakukannya? Apa kamu suka sesuatu yang tidak kamu sukai? ketidaksukaan itu tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik." jawab Arthur yang membuat Margaretha nampak mengerti apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut.
"Kenapa sih kamu seperti itu? Kamu jangan khawatir Sayang, aku pasti akan melakukan sesuatu dengan senang hati. lagi pula Papa bilang kalau mama juga melakukan hal itu." ucap Margaretha sembari memanyunkan bibirnya.
"Iya juga sih, Mama memang bisa menembak Bahkan dia bisa memakai pistol laras panjang dan seluruh senjata lainnya." jawab Arthur yang membuat Margaretha semakin penasaran.
"Lalu aku boleh tidak melakukannya?" tanya Margaretha yang membuat Arthur menggaruk kepalanya berulang kali.
"Sayang, boleh kan boleh kan aku latihan menembak sama papa?" rengek Margaretha yang terus menarik tangan sang suami.
Arthur belum mengeluarkan sepatah kata pun.
"Dunia Papa adalah dunia yang begitu keras, Papa adalah seorang pria yang memiliki dunia bisnis yang benar-benar menakutkan. dengarkan aku baik-baik sayang, papa bukanlah orang sesederhana itu. jika kamu ingin melakukan apa yang dilakukan oleh Mama coba kamu pikirkan lagi, Papa bukanlah orang yang seperti kamu pikirkan." Arthur begitu bingung untuk mengatakan apa yang harus dia katakan.
"Lagian kenapa sih aku tidak boleh melakukannya? lagi pula itu kan cuma latihan menembak, masa aku akan membawa pistol kemana-mana. Kamu kira aku ini pembunuh apa." gerutu Margaretha yang kemudian meninggalkan sang suami.
"Sayang, kamu jangan marah!" seru Arthur yang kemudian mengejar sang istri.
"Males ah bicara sama kamu." jawab Margaretha yang kemudian berjalan meninggalkan kamar mereka.
"Kok malah ngambek sih." Arthur yang mulai kebingungan ketika melihat istrinya marah dengan semua yang dia lakukan.
Margaretha sudah berada di ruang makan, wanita itu nampak mengunyah makanan dengan sangat kasar.
"Sayang, kamu masih marah ya? tanya Arthur kepadanya sang istri.
Tak Ada jawaban yang keluar dari mulut Margaretha. nampak wanita itu menatap sang suami kemudian memalingkan wajahnya.
"Tuh kan masih marah, bagaimana caranya aku akan membuat dia tidak marah. kalau marahnya seperti itu sih maka lama baiknya." guman Arthur yang terlihat mulai duduk di ruang makan.
"Sayang." Panggil Arthur kepada Margaretha. namun sayangnya wanita itu tidak menghiraukan panggilan sang suami, nampak Margaretha hanya menatap Arthur dengan tatapan mata yang begitu kesal.
"Kenapa jadi marah sama aku, Sayang. aku kan tidak melakukan apapun?" tanya Arthur yang masih tetap tidak dihiraukan oleh istrinya.
"Selamat pagi, Tuan." Panggil Frans yang sudah ada di tempat tersebut.
"Pagi, Frans." jawab Arthur yang kemudian meminta Frans untuk makan bersama mereka.
"Selamat pagi nyonya." sapa Frans kepada Margaretha. namun sayangnya Margaretha hanya mengeluarkan satu kalimat saja. "Hemm"
Mendengar jawaban seperti itu tentu saja Frans sedikit kebingungan, pria itu nampak menanyakan kepada dirinya sendiri dan Arthur. Apakah dia sudah melakukan kesalahan hingga istri majikannya itu hanya menjawab satu kata saja.
"Tuan, Apakah saya melakukan kesalahan? Kenapa Nyonya menjawabnya seperti itu?" tanya Frans.
"Tidak Frans, akulah yang melakukan kesalahan." jawab Arthur.
"Memangnya ada apa, Tuan?" tanya Frans kembali.
"Papa meminta Istriku itu untuk latihan menembak. Tentu saja aku tidak memperbolehkannya." jawab Arthur yang membuat Frans menatap tajam kepada majikannya.
"Kenapa tidak diperbolehkan, Tuan? Bukankah itu bagus, dengan begitu Nyonya kan bisa melindungi dirinya sendiri jika dia tidak bersama kita." ucap Frans yang membuat Arthur berbalik menatap tajam kepada Frans.
"Kenapa kamu bilang seperti itu?" tanya Arthur yang sedikit marah.
"Benar sekali Arthur, lebih baik kan aku bisa memegang senjata. dengan begitu kalau ada orang yang bermaksud jahat padaku aku bisa melakukan sesuatu, kalau seperti ini sih Aku ini wanita lemah. kemarin aja di pepet 2 mobil tubuhku sudah gemetaran seperti itu, kalau aku bisa melakukan sesuatu kan itu lebih baik. kalau seperti ini sih sama aja bohong, aku wanita lemah tidak berguna lagi." Margaretha yang terus berbicara tanpa henti.
Seketika Arthur menatap tajam kepada Frans, bukannya menolong majikannya malah pria itu membuat Margaretha semakin kesal.
tak berselang lama seorang pria yang sedang dibicarakan oleh orang-orang yang ada di rumah itu sudah datang bersama dengan salah satu anak buah kepercayaannya.
"Selamat pagi!" seru Tuan Rayen yang sudah berada di rumah Sang putra.
"Selamat pagi Papa!" jawab Margaretha yang terlihat benar-benar kesal.
Tuan Rayen yang melihat menantunya sangat kesal seketika dia duduk di samping Margaretha. "Ada apa denganmu? Kenapa raut wajahmu tidak cantik seperti itu?" tanya Tuan Rayen yang sedikit kebingungan.
Gimana aku tidak kesal, Papa. lihat saja Putra papa itu dia bilang aku tidak boleh latihan menembak. katanya itu berbahaya." jawab Margaretha yang tidak terima.
"Siapa bilang menembak itu berbahaya, kalau ditembak yang berbahaya." jawab Tuan Rayen yang malah memperkeruh suasana.
"Iya kalau seperti itu, lihat saja anak papa itu, dia selalu membuat aku jengkel." jawab Margaretha yang membuat Arthur kehilangan kata-kata.
"Dengarkan saja apa yang ingin dilakukan oleh istrimu, Arthur. dengan begitu dia tidak was-was lagi, dia bisa menjaga dirinya dan dia bisa membuat dirinya itu semakin kuat." ucap Tuan Rayen yang membuat Margaretha begitu bahagia.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- I love you uncle Bastian
-Terlempar ke dimensi kerajaan
-Isteri simpanan bos kejam
-Gairah cinta isteri muda
-One night stand with mister William
-Mantra cinta gadis pemikat