
SATU MINGGU KEMUDIAN
"Ada apa?" tanya Margaretha.
"Mama," panggil Leon.
"Ada apa Leon?" tanya Margaretha.
"Mama, boleh tidak nanti Leon bertemu dengan paman baik hati?" tanya Leon kepada mamanya.
"Buat apa lagi, Leon. Mama kan sudah bilang kalau kamu tidak boleh bertemu dengan orang asing." jawab Margaretha.
"Ayolah Mama, pria itu adalah orang yang baik. pria itu adalah orang yang sudah menolong Leon waktu itu." jawab Leon.
"Leon, Mama kan sudah bilang kalau mama tidak memperbolehkan. kamu tidak boleh seperti itu, Kamu mengerti!" ujar Margaretha yang membuat Leon langsung terdiam.
"Kalau begitu boleh kan Paman baik hati aku ajak kemari? kalau aku tidak boleh keluar sama dia biar dia yang kemari, bagaimana mama?" malah Leon menantang mamanya untuk mengajak William ke rumahnya.
Entah bagaimana reaksi Margaretha ketika pria yang dimaksud oleh putranya itu adalah Papa dari Leon sendiri.
"Ayolah sayang, kamu jangan seperti itu. Mama kan sudah bilang Kenapa kamu ngeyel banget sih?" tanya Margaretha.
"Aku benci sama Mama, aku benci!!" seru Leon yang kemudian berlari masuk ke dalam kamarnya.
Margaretha nampak menghela nafasnya sedikit kasar, tatapan matanya menatap kamar putranya yang sudah ditutup.
"Kenapa kamu seperti itu sih, Retha. Biarkan saja pria itu datang kemari daripada dia yang ke tempat pria itu. bagaimana?" tanya Bibi Ana yang membuat Margaretha menganggukkan kepalanya sembari memijit keningnya.
"Entahlah, bi. tapi aku merasa tidak enak aja, pikiranku terus terbayang kepada pria itu. kenapa dia harus sering menemuiku di restoran, Bagaimana jika tiba-tiba dia bertemu dengan Leon?" tanya Margaretha.
"Yakinlah Tuhan tidak akan melakukan kekejaman kepada kita." jawab Bibi Ana.
Hanya satu kata yang bisa membuat Margaretha melakukan apa yang dikatakan oleh bibinya, namun terasa kehidupan ini mempermainkan wanita itu.
"Retha, biarkan pria itu kemari. daripada Leon yang keluar dari rumah." ucap bibi Ana.
"Terserah kalau begitu." jawab Margaretha yang kemudian pergi.
TING..TONG..
Tak berselang lama terlihat seorang pria menekan bel rumah Margaretha.
"Siapa sih yang bertamu jam segini?" tanya Margaretha kepada Bibi Ana.
"Kalau belum dibuka kita tidak akan tahu." jawab Bibi Ana.
Ketika pintu rumah itu terbuka terlihat di sana Seorang pria sudah berdiri.
"Selamat malam." sapa seorang pria yang sudah berada di luar rumah Margaretha.
"Tuan Arthur, Apa yang tuan lakukan di sini jam segini?" tanya Bibi Ana.
"Sebenarnya tadi saya hendak pulang, Nyonya. tapi ketika berada di sekitar kawasan ini tiba-tiba saja ban mobil saya meletus. jadi saya sangat kebingungan, beberapa menit kemudian saya teringat rumah Nona Margaretha." jawab Arthur.
"Oh begitu ya, tuan. Memangnya mobil tuan di mana?" tanya bibi Ana.
"Di sekitar tempat ini, anak buah saya sedang memperbaiki mobil saya." jawab Arthur.
"Apakah anda ingin masuk ke dalam, tuan?" tanya Bibi Ana yang membuat Arthur malah tersenyum.
"Jika tidak merepotkan boleh Nyonya." jawab Arthur yang kemudian menatap rumah milik wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta itu.
"Siapa yang bertamu bi?" tanya Margaretha yang baru keluar dari salah satu kamar.
Tatapan matanya menatap Arthur yang sudah berada di rumah tersebut.
"Tuan Arthur." ucap Margaretha.
"Halo." sapa Arthur.
"Apa yang Tuan Arthur lakukan malam-malam begini?" tanya Margaretha yang kebingungan karena pria itu tiba-tiba sudah berada di rumahnya malam-malam begini.
"Oh, begitu ya. kalau begitu silakan masuk tuan aku akan membuatkan minuman untukmu dahulu." ucap Margaretha yang kemudian berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman hangat.
Bibi Ana dan Arthur nampak berbicara seperti seseorang yang begitu kenal dekat, pria itu selalu baik. Dia adalah orang yang menawarkan kerjasama dengan salah satu hotel dan beberapa perusahaan yang akan menggunakan jasa cateringnya.
"Apakah perbaikan mobilnya masih lama, Tuan Arthur?" tanya Margaretha.
"Mungkin satu atau dua jam begitu." jawab Arthur.
"Apakah rusak parah? lalu Kenapa anda tidak menelpon salah satu supir yang lain. biar anda tidak menunggu di jalanan?" tanya Margaretha yang membuat Arthur nampak tersenyum.
Arthur nampak tersenyum. "Kelihatannya aku tidak diterima di sini ya?" sindir Arthur yang membuat Margaretha tersenyum.
"Bukan seperti itu, Tuan. anda kan orang kaya anda mempunyai banyak mobil dan banyak supir, Kenapa Anda mau menunggu mobil anda diperbaiki? Kenapa tidak langsung pulang saja." Margaretha yang berusaha untuk memperbaiki kata-katanya yang mungkin terdengar begitu tidak sopan.
Beberapa jam kemudian, akhirnya Arthur berpamitan pulang karena dia harus segera mengerjakan beberapa pekerjaan.
"Aku minta maaf ya, karena mengganggu." ucap Arthur kepada Margaretha.
"Saya minta maaf ya tuan, karena saya tidak bisa memberikan apa-apa. cuma memberikan air hangat dan kue kering." jawab Margaretha.
"Jangan seperti itu, akulah yang harus minta maaf karena mengganggumu di tengah malam." ucap Arthur yang terlihat tersenyum.
"Maaf ya tuan." ucap Margaretha.
"Aku tidak membutuhkan apapun, aku hanya membutuhkan cinta yang kamu miliki." ucap Arthur yang kemudian berlalu pergi.
Margaretha yang mendengar perkataan Arthur nampak wanita itu terdiam, Margaretha mencoba untuk mencerna kata-kata yang diucapkan oleh pria itu.
"Apa yang dia katakan? apakah dia salah?" tanya Margaretha yang membuat dirinya sedikit kebingungan.
KEESOKAN HARI
"Selamat siang!" seru seorang pria yang sudah berada di restoran Margaretha.
"Kamu, kamu mau apa lagi kemari?" tanya Margaretha kepada William.
"Aku kemari karena aku ingin menemuimu." jawab William.
"Sudah tidak ada apapun yang harus kita bicarakan, Pergilah dari tempat ini aku tidak ingin istrimu itu marah kepadaku." Margaretha yang mengusir William.
"Dia bukan istriku dan jangan pernah mengatakan kalau dia istriku." William yang sedikit tidak suka dengan kata-kata yang diucapkan oleh Margaretha.
"Benarkah? kamu tahu beberapa hari yang lalu istrimu itu datang kemari bersama dengan putranya, dia memintaku untuk tidak mengganggumu dia mengatakan kalau kalian saling mencintai. Lalu kenapa kamu kemari?" Margaretha benar-benar tidak suka dengan kedatangan William di restorannya.
"Aku bisa menjelaskan segalanya." ucap William.
"Lima tahun lebih, 5 tahun lebih aku tidak mendapatkan kabar darimu. kamu tiba-tiba menghilang, berpamitan akan pergi ke Meksiko Sebentar. tidak satu hari pun aku mendapatkan kabar darimu, tidak satu kali pun kau mengirim kabar kepadaku. lalu sekarang kamu datang kepadaku dan mengatakan kalau kamu masih mencintaiku? lalu mau kamu kemanakan Anak dan istrimu itu?" tanya Margaretha sembari menunjuk dada William dengan raut wajah yang marah.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- I love you uncle Bastian
-Terlempar ke dimensi kerajaan
-Isteri simpanan bos kejam
-Gairah cinta isteri muda
-One night stand with mister William
-Mantra cinta gadis pemikat