One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 8. Frustasi



"Ana, tante berangkat kerja dulu ya," pamit Yasim. "Oh ya An, jangan lupa sarapannya dimakan," sambung Yasmin lagi.


"Iya tan," sahut Kana, sudah hampir sepekan gadis itu tidak juga masuk kuliah, entah mengapa akhir-akhir ini Kana merasakan kurang nyaman pada tubuhnya.


New York pagi itu bersuhu -30°C. Suhu yang sangat dingin bagi Kana yang terbiasa tinggal di iklim tropis. Dua bulan sudah gadis itu tinggal di Amerika, bahkan Kana sudah memulai kuliahnya.Namun akhir-akhir ini dia lebih sering mengambil cuti.


Kana menyandarkan tubuhnya pada dashboard ranjang, hampir setiap pagi Ia merasakan mual dan lemas, membuat aktifitasnya terganggu. Gadis itu membuka ponsel nya, dia baru teringat, jika hampir dua bulan dia belum mendapatkan tamu bulanan. Seketika Kana melemas, malam kelam itu kembali menghantui Kana, gadis itu berharap jika apa yang ada dalam fikirannya salah. Kana berharap mual dan muntah yang dialaminya hanya karena menyesuaikan suhu.


Gadis itu mencoba mencari tahu apa gerangan tanda-tanda kehamilan, dan semua yang Kana raskan saat ini menjurus pada awal tanda-tanda jika seorang wanita tengah berbadan dua. Kana menggelengkan kepala. gadis itu masih belum mempercayai apa yang baru saja dibacanya.


Kana bangkit dari ranjang itu, mengambil mantel dan berjalan keluar. Dia harus memastikan dengan jelas, jika apa yang ada dalam fikirannya saat ini salah.


Berbeda dengan New York yang tengah turun salju, seperti biasa, Jakarta selalu macet, banjir jika musim penghujan tiba, dan panas terik jika musim panas. Dua bulan lebih Revan mencari keberadaan gadis yang pernah menghabiskan malam indah denganya. Bahkan selama dua bulan, hampir setiap pekan Revan bermalam di Hotel itu lagi, dengan kamar yang sama. Berharap wanita itu mencari dirinya, namun nihil, Revan tidak pernah menemukan keberadaan gadis itu.


Bagaimana bisa Revan menemukannya, sedangkan nama dan foto gadis itupun Revan tidak punya. Dia hanya berharap bisa bertemu dengan gadis itu, dan meminta maaf kepadanya, bagaimanpun Revan telah menghancurkan masa depan seseorang. Satu yang masih mengganjal dihatinya, bagaimana jika gadis itu hamil? Mungkinkah gadis itu sulit menemukan keberadaan nya, atau jangan-jangan gadis itu telah mengakhiri hidupnya.


Revan menghela nafas, semoga apa yang dia fikirkan tidak akan terjadi, kini Revan hanya bisa berharap, jika takdir mempertemukan mereka kembali. Revan berjanji, akan menebus dengan cara apapun, agar gadis itu mau meaafkan dirinya.


Kana menunggu dengan gelisah, gadis itu baru saja kembali dari membeli alat tes kehamilan. pada akhirnya, mau tidak mau Kana memberanikan diri untuk membeli alat tes itu. Setelah membaca cara pemakaian alat tersebut, kini Kana tengah menunggu hasilnya, dia berdoa dalam hati, semoga apa yang dirakannya saat ini hanya karena faktor penyesuain cuaca.


Tubuhnya melemas, matanya mengembun, tangannya begetar memegangi alat tes kehamilan tersebut, betapa tidak, alat tes itu menyatakan jika dirinya memang lah telah berbadan dua. Seketika Kana menangis histeris, gadis itu luruh kelantai. Apa yang harus dilakukannya saat ini, bagaima jika orang tuanya sampai tahu. Kana bisa menjamin, jika Papa nya sampai mengetahui hal ini, sakit jantung pria paruh baya itu akan kembali kambuh.


Kana memukili perutnya, gadis itu terus saja memaki laki-laki yang telah tega berbuat seperti ini padanya. Dara memang bersalah, namun jika laki-laki itu tidak membeli dirinya, sudah pasti ini tidak akan terjadi.


"AAaaaaaa.." Kana berteriak, gadis itu mengacak-acak rambutnya.


"Mah, Pah, maafin Kana, Kana sudah membuat kalian kecewa, Kana nggak bisa membuat kalian bangga," guman Kana, dengan air mata yang tidak pernah surut mengalir dipipi mulusnya.


"Laki-Laki brengsek," maki Kana melampiaskan rasa sakit hatinya. Wanita itu kembali memukuli perutnya, berharap apa yang dia lakukan bisa membuat bayi yang ada didalam kandungannya luruh. Namun semua yang Kana lakukan sia-sia, itu semua tidak berpengaruh apapun untuk kandungannya. Hal itu malah, hanya menyakti dirinya sendiri.


Jalan yang bisa Kana pilih saat ini hanyalah mengakhiri hidup, jika dia melakukan itu sudah pasti orang tuanya tidak akan malu, bahkan dia juga tidak perlu menanggung malu karena hamil diluar nikah, dan yang lebih memalukan, tidak tahu siapa yang sudah menghamili dirinya.


Gadis itu menatap langit-langit. Kehidupan bahagia yang selama ini dia jalani, hancur begitu saja ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Andai Dara mengatakn apa salahnya, atau menjelaskan mengapa dia melakukan ini, mungkin Kana sedikit bisa mengerti. Namun gadis itu menghilang begitu saja tanpa menjelaskan sepatah katapun padanya.


"Ra, kenapa lo tega banget sama gua," Kana kembali menangis tersedu, persahabatan mereka telah terjalin selama 6 tahun lebih, dan kini hancur tanpa sisa.


"Mah, Pah, trimakasih sudah menyayangi Kana, mencintai Kana dengan tulus, sudah selalu menuruti keinginan Kana, maaf, Kana tidak bisa membuat kalian bangga, maaf, Kana tidak bisa menemani hari tua kalian nanti," gadis itu tergugu, meratapi nasib sial yang menimpa dirinya.


"Mah, Pah, tetap lah sehat, berbahagia lah, hidup Kana sudah hancur, jika Kana tidak mengakhiri ini, Kana yakin, Mama dan Papa akan semakin terluka," tambahnya lagi.


Kana mengarahkan pisau itu pada pergelangan tangannya. Gadis itu memejakan mata, dan mulai menyayatkan pisau itu, rasa perih dan nyeri yang ditmbulkan dari benda tajam itu, sama sekali tidak terasa, bagi Kana kehancuran Jiwan dan Raganya lah yang paling menyakitkan.


Yasmin membuka pintu rumahnya, hari ini akhir pekan, jadi dia tidak perlu bekerja hingga petang seperti biasa. Meski Amanda sudah memintanya tinggal di Indonesia, dan tidak mengizinkan Yasmin bekerja, namun wanita itu tetap betah menetap di New York, bagaimanapun hidup sederhana seperti ini yang wanita itu inginkan.


Yasmin menekal bel rumah nya, namun sama sekali tidak ada sahutan dari dalam. Padahal Kana sedang cuti kuliah, dan sepatunya tergeletak didepan pintu, namun entah mengapa gadis itu tidak juga menyahuti panggilan nya.


"Kana," seru Yasmin berulang kali, bahkan wanita itu sudah menekan bel berulang-ulang.


Yasmin terdiam, dia baru mengingat jika masih ada kuci lain didalam tasnya, dengan cepat Yasmin membuka pintu rumah itu. Wanita itu memeriksa setiap ruangan, dari dapur, ruang tv, kamar Kana sendiri dan kembali lagi keruang tamu. Yasmin mengernyitkan dahi, wanita itu mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Kana.


Dering ponsel mengudara, dan itu milik Kana, dengan cepat Yasmin mengikuti asal suara, wanita itu kembali membuka kamar Kana. Diatas ranjang layar ponsel Kana berkedip, Yasmin mengambil ponsel itu, wajah nya nampak kebingungan mencari keberadaan keponakannya itu.


"Kana sayang," seru Yasmin lagi.


Yasmin membuka toilet yang ada didalam kamar Kana, namun tetap saja, dia tidak menemukan keberadaan Kana disana.