
"Kita mau kemana?" Mata Kana memindai bangunan menjulang tinggi yang ada dihadapannya.
Revan membawa Kana kesebuah Apartemen dimana tempat dia tinggal. "Tempat tinggal baru mu," seloroh Revan yang sedang memarkirkan mobilnya.
"Tempat tinggal ku?" guman Kana lirih, namun masih bisa terdengar oleh Revan.
"Iya, kita akan tinggal diapartemen ini," sahut Revan.
Sontak ucapan pria itu membuat Kana terkejut. "Kita?" tanya Kana dengan tatapan kaget nya.
Revan mengernyitkan dahi. Melihat respon Kana yang sedemikian Revan menduga jika wanita cantik itu berfikir mereka akan tinggal dalam satu apartemen yang sama.
"Aku sudah menyewakan apartemen untuk mu. Didepan apartemen ku," jelas Revan, dan benar saja ekspresi Kana berubah lega.
"Jangan berfikir negatif tentang ku," ucap Revan. Pria itu terlebih dulu turun dan membuka pintu mobil untuk Kana.
"Ayo turun," ajak Revan sembari berjalan membuka bagasi mengeluarkan koper Kana.
Mereka berjalan beriringan menuju lift. Revan menyeret koper Kana ditangannya. Sedangkan Kana masih begitu kaget dengan pernyataan pria itu. Apartemen yang Revan sewakan untuk Kana bukanlah apartemen biasa. Ini meruapakan salah satu apartemen terbaik dengan fasilitas lengkap nya.
Lift itu melaju naik menuju lantai dua belas dimana apartemen mereka berada. Revan sengaja menyewa apartemen yang bersebelahan dengannya. Agar memudahkan ia memantau Kana.
Tringg..
Pintu lift terbuka. Revan berjalan terlebih dahulu, diikuti Kana dari belakang. Pria tampan itu membuka pinti unti apartemen yang terletak paling ujung.
"Ini apartemen mu," ucap Revan seraya membuka pintunya.
Desain mewah terlihat jelas saat mereka baru saja masuk. Bukan hanya dari perabotan, interior bergaya klasik pun semakin menambah kenyamaan.
Kepala Kana berputar kesan kemari menelisik seisi ruangan yang ada disana. "Ini terlalu mewah Van," ucap Kana tiba-tiba, membuat Revan menghentikan langkahnya.
"Ayolah Ren, jangan terus seperti itu!" sahut Revan, dia tidak ingin Kana terus menolak bantuannya.
"Tapi aku tidak akan mampu membayar sewanya," tekan Kana merendah.
Sebagai anak konglomerat tentu Kana bisa menduga berapa biyaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa apartemen dikawasan elit seperti ini.
"Jangan fikirkan itu. Fokus lah bekerja! kamu bisa membayarnya dengan berkerja pada ku," ucap Revan, pria itu membuka salah satu pintu kamar yang ada didalam unit apartemen Kana.
Apartemen itu memiliki dua kamar tidur, ruang tamu yang langsung tergabung dengan ruang TV, mini bar serta dapur, terdapat juga balkon yang akan menampilkan keindahan kota Jakarta jika malam hari.
"Ini kamar mu Ren. Nanti petugas butik tadi akan datang mengantarkan pakaian mu. Kamu bisa membereskan nya dilemari itu." Revan menunjuk lemari yang ada didekat kamar mandi.
Kana hanya mengangguk. Dia masih sedikit syok dengan perlakuan Revan. Kana fikir Revan tidak akan bersikap sampai seperti ini. Dalam hati kecilnya Kana sedikit merasa hawatir. Takut jika Revan memanfaatkan keadaan dan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
"Apartemen ku ada disebelah. Datanglah jika kamu membutuhkan sesuatu, atau kamu bisa menghubungi ku lewat ponsel. Jangan memasak, aku akan mengantarkan makanan untuk mu." Tatapan pria tampan itu begitu tulus, mungkin jika tidak pernah ada kenangan buruk yang terjadi pada mereka, Kana akan terpesona padanya. Namun sebaik apapun Revan saat ini, sama sekali tidak akan mengubah pandangan Kana padanya. Menurut Kana Revan tetaplah laki-laki brengsek yang telah menghancurkan hidupnya.
Revan mengangguk, pria itu tersenyum manis. "Istirahat lah! Pasti kamu lelah," titah Revan. "Aku pulang," sambungnya.
Kana hanya mengangguk, mengikuti Revan dan bergegas mengunci pintu apartemen nya. Kana menghela napas lega saat Revan telah keluar dari dalam ruangan itu.
"Huftt.." Kana mengguman, wanita itu masuk kedalam kamarnya, membuka koper dan mencari ponselnya.
Kana bergegas mengirimkan lokasinya saat ini pada Anton. Tidak lama ponselnya berdering, Anton yang penasaran bergegas menghubungi dirinya.
"Non Kana," sapa Anton.
"Tolong katakan pada Mama dan Papa ku. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sehingga kemungkinan aku akan jarang pulang," jelas Kana.
"Mengapa anda ada diapartemen itu non?" tanya Anton tanpa menghiraukan ucapan Kana. Tentu Anton merasa hawatir. Kana adalah tanggung jawab nya. Jika terjadi sesuatu pada Kana tentu Anton lah yang bertanggung jawab. Apalagi saat ini Kana tengah dekat dengan Revan. Anton takut jika Revan menyadari sesuatu dan melukai Kana tentunya.
"Aku tinggal disini. Jangan pernah datang atau menemui aku jika aku tidak meminta," ucap Kana mengintruksi.
"Tap-" Belum sempat Anton menyelsaikan ucapannya. Kana sudah memotong lebih dulu.
"Turuti saja ton! Ini tidak akan lama, hanya sampai tender proyek kedua selsai. Aku akan memastikan kita bisa memenangkan proyek itu," seloroh Kana.
Anton menghela napas lega. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menuruti permintaan Kana. Meskipun hidupnya yang sedang dipertaruhkan. Anton hanya bisa memantau dari jauh, memastikan Kana tetap baik-baik saja.
"Baik non," timpal Anton pada akhirnya.
"Besok aku mulai bekerja pada Eigle. Mungkin aku tidak bisa sering menghubungi, aku akan menelpon jika sudah ada diapartemen," jelas Kana.
Mereka menyudahi panggilan itu saat terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Tunggu sebentar," pekik Kana, dia menonaktifkan kembali ponselnya dan meletakan dibawah bantal.
"Selamat siang Nyonya. Maaf mengganggu, kami dari butik Rosse mengantarkan pesana Tuan Revan," jelas salah satu petugas itu.
Kan mempersilahkan mereka masuk. Tidak Kana sangka jika Revan memesan begiti banyak barang untuknya. "Letakan saja diatas sofa," ucap Kana mengintruksi.
"Kami permisi nyonya." Petugas itu bergegas pergi setelah menyelesaikan tugas mereka.
Kana membuka satu persatu paper bag yang tergelatak diatas sofa. Semua yang ada disana merupakan barang-barang branded yang biasa Kana beli. Ternyata selera nya dan Revan memilki banyak kesamaan.
"Memang perayu ulung," guman Kana, ia membawa semua paper bag itu menuju lemari. Masa bodoh dengan hal lainnya. Toh dia tidak meminta, yang terpenting saat ini Kana harus lebih waspada agar kejadian empat tahun lalu tidak terulang lagi. Siapa yang bisa menjamin jika Revan tidak meminta balasan dengan sikap baiknya saat ini.
Didalam kamarnya Revan seperti remaja yang baru dilanda asmara. Pria itu terus tersenyum tidak jelas. Sebentar lagi hari-hari membosankan yang selama ini menemaninya akan berlalu. Kehadiran Kana tentunya membawa warna tersendiri untuk Revan.
Revan melepaskan jasnya. Pria itu memakai kolor dan berlalu menuju toilet. Revan mengusap rahang kokoh yang kini sudah ditumbuhi jambang. Selama ini Revan tidak terlalu memperdulikan soal penampilan. Namun setelah pertemuannya dengan Kana dia jadi ingin. Terus berpenampilan rapih dihadapan wanita itu.
Revan memutuskan mencukur semua jambang nya. Berharap Kana akan terpesona dengan penampilan barunya. "Rena.. Oh Rena," guman Revan seraya menatap pantulan dirinya didalam cermin.