One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 6. Pertemuan Tanpa Sengaja



"Hei nona, akhirnya kita bertemu juga, bukan kah kamu wanita semalam yang menjual teman mu pada saya? Tanya Revan lirih tepat dibelakang telinga Dara.


Dara yang mendengar suara tidak asing tepat dibelakangnya reflek menoleh, gadis itu terkejut dan menjatuhkan buah yang ada ditangannya. "Maaf anda siapa? Anda berbicara begitu dekat dengan saya?' Tanya Dara basa-basi untuk menghilangkan kegugupannya.


"Hey, nona, jangan pura-pura lupa, kamu yang semalam menawarkan teman mu pada saya, katamu dia biasa menjual dirinya, namun nyatanya dia masih perawan. Apa kamu gila menjual teman mu sendiri?" cecar Revan dengan menahan kesal karena wanita didepannya seolah sengaja pura-pura tidak mengenali dia, padahal Revan ingat dengan jelas, wanita inilah yang semalam bertemu dengan dia dan tidak mungkin Revan salah.


"Ohh.. tuan, saya tidak tau apa yang anda bicarakan, jangan asal menuduh tanpa ada bukti, anda bisa saya tuntut, saya tidak perduli dengan apa yang anda lakukan semalam, anda membeli pelacur atau kah anda menikmati surga dunia bersama pelacur saya tidak perduli," seloroh  Dara penuh penekanan, lalu meninggalkan Revan begitu saja.


Dara terburu-buru pergi sebelum Revan lebih lama mengintrogasinya, ditambah lagi ada beberapa orang yang menatap mereka curiga, membuat Dara lekas meninggalkan minimarket itu.


Dara berjalan tergesa dan segera memasuki taksi. "Jalan pak," ucapnya pada supir taksi.


"Lah tidak jadi belanja non?" Tanya supir taksi yang heran karna Dara tidak membawa apapun, padahal dia sudah cukup lama didalam minimarket.


"Tidak pak, yang saya cari tidak ada, nanti biar saya cari dibandara saja," kilahnya.


Revan masih terpaku ditempatnya menatap kepergian wanita itu, dia yakin wanita itulah yang semalam ditemuinya, namun wanita itu tidak mau mengakuinya, akan semakin sulit Revan mencari gadis semalam.


***


Berkali-kali Kana menekan bel apartemen Dara, namun tidak juga ada jawaban dari dalam, dan sepertinya tidak juga ada tanda-tanda orang didalam apartemen itu. Membuat Kana mendesah frustasi. "Apa mungkin Dara pergi?" Tanya Kana dalam hati. Akhirnya Kana memutuskan turun dan bertanya pada PPRS apartemen yang ada disana.


"Selamat siang pak?" sapa Kana pada PPRS apartemen dimana Dara tinggal.


"Ada yang bisa dibantu non?" sahut petugas yang ada disana.


"Saya mau bertanya penghuni unit apartemen lantai tujuh nomor empat tidak ada ditempat kah pak?" tanya Kana penasaran.


"Lantai tujuh nomor empat ya?" Tanya sang pengurus sebari mengecek data penghuni apartemen itu.


"Iya betul pak," timpal Kana penuh harapan.


"Oh, non Dara ya?" Tanyanya kemudian.


"Nah iya betul pak," jawab Kana.


"Tadi pagi dia sudah pergi non, dan sudah tidak menyewa apartemen dilantain tujuh lagi," Jawaban sang pengurus membuat Kana sekektika tersentak kaget.


"Dia pergi kemana ya pak?"  Tanya Kana akhirnya setelah agak lama dia terdiam.


"Wahh.. saya kurang tau non, tadi pagi kesini hanya mengantarkan kunci dan mengatakan tidak memperpanjang sewa lagi, ketika saya tanya non Dara hanya menjawab mau pindah apartemen yang dekat dengan kampusnya non," Jelas sang pengurus.


Sampai didalam mobil Kana kembali menangis, apa mungkin memang semua ini sudah direncanakan Dara, namun apa penyebabnya, mengapa dia tega melakukan ini, dan siapa laki-laki itu? Begitu banyak pertanyaan yang timbul didalam kepala Kana, namun dia harus rela tak akan pernah mendapat jawaban dari apa yang ada difikirannya.


Lelah dengan semua yang terjadi, Kana memutuskan pulang, dia ingin beristirahat karna esok harus pergi, dia hanya berdoa semoga apa yang terjadi padanya semalam tak menghasilkan benih dirahimnya.


Pukul sepuluh pagi Kana sudah sampai dibandara, denga diantar kedua orang tuanya, dan para sahabat yang sudah menunggunya dibandara. Sampai dibandara Kana dan orang tuanya langsung masuk menuju ruang tunggu bandara.


Saat melihat Kana berjalan menuju ruang tunggu bersama oran tuanya. Aylin, Kia dan DInda berlari berhambur memeluknya.


"Kana, huhuhuhhh sedih," ucap mereka bersamaan. "Tiap tahun pulang ya Na! gue gak bisa nahan kangen sama lo, sering-sering kasih kabar dan pulang ke Indonesia pokonya," Pinta Aylin dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Na, pokonya harus sering pulang dan kasih kabar kita ya," Tambah Kia.


Kana hanya mengangguk dengan menahan tangis, begitu banyak yang dia rasakan saat ini.


"Loh kok Dara nggak kelihatan? Tanya Amanda, ibu dari Kana. membuat keempat orang yang sedang berpelukan itu sontak menoleh dan melepaskan pelukan mereka.


"Gak tau tan, dari kemarin nomor telponnya gak bisa dihubungin, kita juga belum sempet kesana, karna kita fikir dia buka grup chat kita dan langsung OTW kesini gitu kalo baca, eh taunya sampe sekarang tetep gak ada kabar," Jawab Dinda.


"Mungkin selepas dari bandara kita mau keapartemennya dia tan, kita takut dia kenapa-napa," Kia menimpali.


Ucapan mereka tentang Dara membuat hati Kana berdenyut nyeri. Apa yang akan mereka lakukan jika mereka tau Dara sudah begitu tega padanya?


"Ehh.. Na ngomong-ngomong lo waktu pulang dari apartemen Dara waktu itu gak liat hal aneh, apa gitu?" Tanya Aylin penasaran.


Kana enggan menjawab, dan hanya menggelengkan kepala. Dia tak mungkin memberitahukan yang sebenarnya terjadi, dia tak mau membuat orang tuanya kecewa jika dia mengatakan yang sejujurnya, biarlan semua ini dia pendam sendiri tanpa harus ada yang tau.


Suara Boarding announcement yang memberitahukan keberangkatan pesawat menuju New York membuat obrolan mereka terhenti, keempat sahabat itu saling memeluk lagi, dengan deraian air mata yang sedari tadi mereka tahan akhirnya lolos juga. Kana melepaskan pelukan ketiga sahabatnya, dan berganti memeluk orang tuanya.


"Jaga kesehatan Kana, jadilah anak yang membanggakan untuk kami, jangan membuat kami kecewa, kamu harapan kami satu-satu nya," Ucapan sang papa terus terngiang ditelinga Kana saat tadi dia memeluk sang papa. Membuatnya menangis tersedu didalam pesawat, sampai-sampai orang yang ada disebelahnya heran dengannya.


Setelah menempuh perjalanan tujuh belas jam dua puluh lima menit akhirnya Kana tiba di bandara Newark Liberty.


Tantenya yang masih ada pekerjaan lembur sudah mengabarkan bahwa ia tak bisa menjemput, namun tantenya mengirim supir untuknya. Tantenya yang bernama Yasmin merupakan adik dari Amanda, ia hanya tinggal seorang diri dan belum menikah, dan bahkan mungkin tidak berniat menikah diusianya yang sudah memasuki 38 tahun.


Kana sampai dikediaman tantenya pukul delapan pagi, dan sepertinya Yasmin baru juga kembali dari bekerja, karena terlihat sepatunya yang baru dikenakan tergeletak didepan pintu. Cuaca New York begitu dingin dipagi ini, membuat Kana berkali-kali menggosokan kedua tangannya, sebari menekan bel rumah sang tante. Namun belum juga ada sahutan dari dalam.


Tantenya tinggal dikawasan Greenwich Village, Manhattan, Pusat gerakan budaya tandingan 1960-an di kota ini, jalan-jalan yang dipenuhi pepohonan di Greenwich Village sekarang menjadi pusat berbagai kafe, bar, dan restoran yang populer. Klub-klub jazz dan Teater Off-Broadway juga dapat ditemukan di tengah-tengah dinding bata cokelat dan gedung-gedung Universitas New York. Di jantungnya adalah Washington Square Park, tempat orang-orang berbaur di sekitar alun-alun pusat. Bendera pelangi menandakan nuansa LGBT di lingkungan ini.


Kawasan Greenwich Village, Manhattan merupakan kawasan yang dekat dengan kampusnya yaitu Universitas New York. universitas swasta nonsektarian di New York City, Amerika Serikat. Kampus utama NYU terletak di Greenwich Village, Manhattan. NYU didirikan pada tahun 1831 dan kini memiliki peringkat yang sejajar dengan universitas-universitas ternama dunia. Dan itu merupakan kampus yang dipilihnya.