
"Tap-tapi Van." Tentu saja tidak semudah itu Kana mempercayai ucapan Revan. Banyak hal yang harus Kana pertimbangkan, meski sebenarnya dia juga mengagumi pria itu.
Bohong jika sebagai seorang wanita Kana tidak tertarik dengan pesona pria setampan Revan. Apa lagi sudah ada anak diantara mereka, meski Revan belum mengetahui semuannya.
"Syutt, aku tahu kamu masih butuh waktu. Aku tidak bisa menjamin apapun setelah kita bersama. Tapi akan aku pastikan jika hari-hari mu akan selalu bahagia Ren," tekan Revan.
Pandangan pria itu begitu dalam menyelami mata Kana. Sama-sama terdiam dengan kegundahan hati masing-masing. Walau hanya sedikit, namun rasa itu sudah singgah dihati Kana.
Revan mencondongkan wajahnya, menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Kana. Tatapan mereka semakin dalam. Deru napas Revan bahkan terasa hangat menerpa wajah Kana.
Detak jantung mereka berdebar kencang saling bersahutan. Napas keduanya memburu manakala Revan semakin mendekatkan wajahnya, bahkan Kana reflek memejamkan mata.
Merasa mendapatkan lampu hijau dari Kana, Revan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu menyatukan bibirnya dengan gundukan kenyal berwaran merah muda milik Kana.
Keduanya sama-sama terpejam. Untuk pertama kalinya
Kana melakukan semua ini dengan sadar tanpa paksaan, bahkan dia dengan suka rela menyerahkan dirinya pada Revan. Dalam hati Kana terus meyakinkan diri jika semua masih akan tetap berjalan seperti apa yang dia inginkan. Kana juga meyakini jika setelah ini Revan akan melakukan apapun. Mungkin sudah saat nya Arfa tahu siapa ayahnya. Mereka bisa bersama-sama membesarkan Arfa dan meminta maaf kepada keluarganya.
Kana yakin jika Papanya mau menerima Revan, bahkan Revan sudah tentu bisa bergabung dalam perusahaan Widjaya group.
Penyatuan itu semakin dalam. Kana bahkan terlihat begitu menikmati apa yang kini sedang mereka lakukan. Bayangan kenangan penyatuan empat tahun lalu berkeliaran memenuhi kepala Revan. Bahkan dulu Revan tidak pernah bermimpi jika dia bisa kembali melakukan itu bersama wanita yang sama.
Napas Kana terputus, Revan begitu agresif menyatukan bibir merkea. Bahkan Kana sampai kesulitan untuk bernapas.
Revan melepaskan pagutan mereka manakala Kana mulai terengah karena pasokan oksigen semakin menipis. Dia ingin membiarkan Kana menghirup oksigen sebanyak-banyak nya sebelum nanti dia kembali melancarkan aksi nya.
Kana tertunduk, wanita itu begitu malu dengan apa yang baru saja terjadi diantara dia dan Revan. Namun tidak bisa dipunkiri, jika Kana begitu menikmati semuanya, bahkan dirinya merasa ingin sesuatu yang lebih.
Tiba-tiba saja tangan Revan menelusup selah rambut Kana, membuat Kana kembali mendongak. Revan benar-benar sudah tidak bisa menahan diri. Sebagai laki-laki dewasa dan normal, sudah tentu Revan menginginkan sesuatu yang lebih. Apa lagi dia sudah pernah merasakan itu sebelum nya. Hanya pada Kana, Revan bisa meraskan perasaan menggebu dan menginginkan seperti ini.
Revan menatap mata Kana, seolah meminta izin untuk kembali melakukan nya. Menyadari itu Kana hanya bisa menganggukan kepala.
Lagi dan lagi Revan terus mencumbu bibir mungil Kana, bahkan kini pria itu semakin aktif menyentuh setiap inchi tubuh Kana tanpa ada yang terlewat, meninggalkan jejak indah pada setiap bagian.
Mulut Kana terkatub, sebisa mungkin wanita itu menahan diri agar tidak mengeluarkan suara aneh yang bisa membuat Revan menggila. Sekuat apapun Kana menahannya, namun semua itu tidak berarti pada akhirnya dia tetap kalah dan suara lenguhan lolos juga dari bibirnnya.
Revan melakukan hal yang sama pada pakaiannya. Tanpa melepaskan pagutan itu dia melemparkan kemeja yang masih melekat ditubuhnya.
Entah sejak kapan, namun kini mereka sudah tidak terbalut sehelai benang pun. Tatapan Revan begitu nanar, pemandangan indah yang tersaji dihadapannya membuat Revan tidak bisa berfikir jernih. Pria itu menatap manik hazel yang kini tengah menatap nya juga. Wajah Kana bersemu, membuatnya semakin mengagumkan. Sebenarnya ada hal yang membuat Revan penasaran, luka bekas oprasi diperut Kana seperti orang yang pernah melahirkan. Namun tentu Revan tidak bisa menanyakan itu sekarang, bisa saja Kana tidak nyaman dan dia menolak sentuhannya.
"Apakah boleh Ren?" tanya Revan meminta persetujuan.
Dengan malu-malu Kana mengangguk. Benar-benar hal gila yang yang kini tengah dia lakukan, membiarkan musuhnya mencumbu dirinya. Entahlah, godaan setan begitu besar meruntuhkan pertahanan Kana, sehingga kini dia dengan sadar melakukan kesalahan yang sama.
Tanpa menunggu lama, Revan kembali mengabsen setiap jengkal tubuh Kana tanpa ada yang terlewat. Mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu indah.
Dan penyatuan itupun tidak terelak lagi. Kana dan Revan kembali menyatu merajut cinta dengan debaran dan perasaan berbeda.
Aktifitas panas itu terjadi selama dua jam lamanya. Revan menjatuhkan diri tepat disamping Kana, memeluk tubuh wanita itu dengan sayang.
"Trimakasih Ren," ujar Revan seraya mengecup bahu putih Kana.
Kana hanya terdiam, napasnya masih memburu merasakan sesuatu yang luar biasa baru ia rasakan secara sadar.
Tangan Revan melingkar indah diperutnya. Pria itu memeluk Kana dengan sangat erat, seolah takut kehilangan dirinya.
"Tolong biarkan aku seperti ini Ren! Jika aku melepaskan pelukan ini, aku takut kamu akan meninggalkan ku seperti saat itu," ujar Revan, kepalanya menelusup pada tengkuk Kana yang tengah berbaring memunggungi nya.
"Apa kamu sangat takut kehilangan ku?" tanya Kana seraya membalik posisi tubuhnya. Kini mereka sudah saling berhadapan. Kana bisa melihat dengan jelas tatapan cinta yang tulus dari mata Revan.
Revan mengecup pucuk kepala Kana. "Kamu tahu Ren, selama empat tahun aku seperti orang mati rasa. Tidak pernah tertarik oleh siapapun, bahkan banyak orang mengira jika aku penyuka sesama jenis," jelas Revan.
Kana tercengah mendengar apa yang baru Revan katakan. Ingin tidak percaya, namun sorot mata pria itu mengartikan ketulusan dan kejujuran.
"Asal kamu tahu, kamu wanita pertama dalam hidup ku. Wanita yang paling aku tunggu kehadirannya. Aku mencari mu seperti orang gila, bahkan aku sering bermalam ditempat itu, berharap kamu datang mencariku. Aku sangat takut jika apa yang aku lakukan waktu itu membuat mu hamil dan mengandung benih ku. Aku takut kamu kesusahan Ren, jika itu terjadi, aku akan sangat merasa berdosa." Mata Revan memerah, banyak hal yang sudah dia lakukan, sebagai seorang anak yang besar tanpa kasih sayang seorang ayah, tentu Revan sangat takut jika Kana mengandung tanpa didampingi oleh dirinya. Maka dari itu Revan sengaja memancing Kana, barangkali apa yang ada didalam fikirannya sekarang benar adanya.
Kana tersentak kaget, lidahnya terasa kelu. Dia ingin memberi tahu Revan yang sebenarnya, namun Kana masih belum memiliki keberanian. Mungkin nanti setelah Revan menemui Papanya barulah Kana memberi tahu Revan tentang Arfa.