
Revan membawa Kana menaiki lift menuju Rooftop Hotel itu. Revan sudah memesan meja khusus untuk makam malam dia dan Kana.
Kana masih terus mengikuti kemana Revan membawanya. Pria itu menekan angka tertinggi, Kana tahu betul jika diatas Hotel tersedia sebuah restoran terbuka.
Tringg...
Pintu lift terbuka tepat diatas Hotel, pemandangan indah kota Jakarta terlihat jelas dari rooftop itu. Seorang waiters menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya. Dengan nama siapa?" Tanya waiters itu kemudian.
"Revan," jawab pria tampan itu dengan singkat.
"Mari saya antar," Waiters itu menunjukan dimana meja yang sudah Revam pesan.
Rooftop itu tidak terlalu ramai orang. Kebanyakan pengunjung yang berada didalam restoran itu dari kalangan atas. Selain harus memesan booking terlebih dahulu, harga untuk satu menu disana saja sudah mencapai puluhan dolar.
Revan dan Kana duduk saling berhadapan. Tatapan Revan begitu dalam memandangi wajah ayu Kana, sedangkan Kana sendiri sibuk memindai sekitar restoran. Berharap tidak ada satupun orang yang mengenali dirinya.
"Kamu suka?" tanya Revan mengalihkan perhatian Kana.
Kana mengangguk. "Restoran ini mewah banget Van. Aku nggak nyangka bisa ada disini," sergah Kana seraya melirik kanan dan kiri.
Revan bersyukur, usahanya untuk mendekati Kana sepertinya akan berjalan lancar. Terbukti dari kedekatan yang semakin akrab terjalin antara dia dan Kana beberapa hari ini.
Alunan biola dan piano menjadi penghibur para tamu yang tengah menikmati diner mereka. Suasana romantis menjadi daya tarik tersendiri, khusus nya untuk kaum hawa.
"Hotel ini milik salah satu lawan bisnis Eigle Ren. Aku suka konsep Hotel disini," ujar Revan seraya menatap hamparan kelap-kelip lampu Ibu Kota.
Kana tersentak, wanita itu fokus menatap wajah Revan. "Memang Hotel ini milik siapa?" pancing Kana.
Revan kembali menatap Kana, membuat Kana reflek membuang pandangan kearah lain agar tatapan mereka tidak saling bersiborok.
"Milik Widjaya Group." Jelas Revan.
"Bukankah itu perusahaan real estate juga?" tanya Kana.
Revan mengangguk. "Iya, perusahaan terbesar saat ini, tander berikutnya jika kita mampu mengalahkan Widjaya group seperti kemarin, pasti saham perusahaan Tuan Wiya akan turun drastis," seloroh Revan, tanpa sadar membuat Kana menatap tajam padanya.
"Hotel ini salah satu Miliknya," sambung Revan dan langsung menatap Kana, namun Kana yang tengah menahan kekesalan kembali menunduk.
Tidak lama beberapa waiters silih berganti menghidangkan menu yang sudah Revan pesan. Bola mata Kana terbelalak mendapati meja makan yang penuh dengan makanan. Kana menatap Revan, wanita itu mengedikan bahu meminta jawaban mengapa Revan memesan begitu banyak menu makanan. Namun pria itu tidak menjawab dan hanya tersenyum menatap dirinya.
"Silahkan dinikmati Tuan dan Nyonya," ucap salah satu waiters mempersilahkan.
Revan mengangguk. "Ayo dimakan!" printah nya.
Kana menghela napas dalam, mencoba kembali bersikap biasa, meski dalam hatinya tengah merasakan kesal yang teramat sangat pada ayah kandung Arfa.
"Van, kamu pesan semua ini?" tanya Kana mencairkan suasana hatinya. Meraka hanya berdua namun Revan memesan begitu banyak makanan.
"Iya, apa ada masalah Ren? Apa ada yang ingin kamu tambahkan?" cecar Revan dengan tatapan bersalah, dia sengaja memesan begitu banyak makanan namun memang Revan tidak meminta pendapat Kana terlebih dahulu.
Dengan cepat Kana menggelengkan kepala sebelum Revan kembali meminta waiters menghampiri mereka.
"Ya sudah ayo dimakan. Aku ingin memastikan jika kamu makan dengan baik dan bergizi," sarkas pria itu.
Krongkongan Kana tercekat, apa pula yang tengah Revan pikirkan sampai-sampai dia mengatakan itu. Dengan keadaan dongkol Kana menenggak jus yang ada disisinya, dan mulai menyantap apa yang Revan pesan.
Revan terus memperhatikan setiap gerak-gerik Kana, apa yang Kana ambil dan apa yang wanita itu mulai makan tidak luput dari perhatiaan Revan.Revan mulai meyakini jika Kana memanglah dari kalangan keluarga berada, jika dia memang berasal dari keluarga biasa tidak mungkin Kana bisa dengan baik menggunakan alat makan serta memakan setiap menu dengan urutan yang benar tanpa Revan ajarkan terlebih dahulu. Bahkan cara Kana memotong steak pun begitu baik.
Revan mengigit setak itu dengan perlahan, pandangannya lurus menatap wajah Kana yang tengah menunduk. Sebagai seorang pembisnis tentu dugaan Revan tidak pernah meleset dalam menilai segala sesuatu. Setelah Meeting tadi siang Revan memutuskan mulai mencari tahu jati diri Kana sebenar nya. Kecerdasan Kana dalam meringkas materi membuat Revan terus berfikir kerasa siapa Kana sebenarnya. Bukannya Revan tidak percaya, dia hanya ingin mencari tahu siapa keluarga Kana, dan meminta maaf atas perbuatan nya pada Kana hingga mereka harus mengusir Kana begitu saja. Mungkin dengan mengetahui siapa orang tua Kana Revan bisa langsung menebus semua kesalahan nya, meminta maaf dan langsung meminang Kana.
Merasa ada yang memperhatikan, Kana pun mendongak menatap Revan, namun pria itu tengah fokus memotong setak yang ada dihadapannya.
"Apa perasaan ku saja kalau tadi Revan menatap ku?" batin Kana. Dia kembali menyantap beberapa makanan yang tersaji. Namun tidak lama wanita itu bangkit, dan meminta Izin pada Revan untuk ketoilet. "Aku ketoilet bentar ya Van," pamit nya.
Revan mendongak. "Mau ditemani?" tanya Revan.
Kana menggeleng. "Nggak usah," tolak Kana dan berlalu menuju toilet yang ada di rooftop.
Pandangan Revan terus saja fokus memperhatikan langkah Kana yang nampak lues mengenakan high heels. Langkah Kana seperti gadis-gadis dari keluarga kaya. Revan mengernyitkan dahi saat Kana berlalu dari pandangan matanya, dia sempat heran mengapa Kana bisa tahu dimana letak toilet tanpa bertanya pada waiters disana. Namun dia menepis semua fikiran dan menyelsaikan aktifitas makan malam nya.
"Huhh, ini benar-benar membuat ku tidak nyaman. Revan memang sangat mengesalkan, apa katanya tadi? Dia ingin membuat saham perusahaan Papa turun drastis," keluh Kana geram, dia menyandarkan tubuhnya pada pintu toilet.
Lama kelamaan ada disana membuat Kana gelisah, dia merasa seseorang terus memperhatikan dirinya. Entah hanya perasaan nya saja atau memang nyata demikian. Kana menghidupkan kran wastafel, mencuci tangan dan membasuh sedikit matanya agar terlihat kembali segar. Dirasa dia sudah mulai tenang, Kana memutuskan kembali menghampiri Revan sebelum pria itu menyusul dirinya.
Baru saja Kana keluar dari dalam toilet namun seseorang sudah lebih dulu menarik lengannya dan membawa Kana ke sisi ujung ruangan yang sedikit sepi. Tentu saja hal itu membuat Kana tersentak kaget, dia ingin menjerit, namun tangan kekar itu membekap mulut Kana dengan cukup erat, bahkan perlawanan Kana pun tidak berarti apa-apa bagi pria itu.