One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 11. Permohonan Mrs Lena.



Yasmin terdiam, jika itu sudah menjadi keputusan Kana tentu dia tidak lagi bisa memaksa. Yasmin faham betul, perjuangan Kana selama satu tahun ini, pastinya tidak mudah, apa lagi diusianya yang masih muda, 23 tahun harus melahirkan seorang bayi tanpa didampingi, bahkan tanpa tahu siapa ayah bayi tersebuat.


"Jika itu memang sudah menjadi keputusan mu, maka tante tidak bisa memaksa, tante akan selalu mendukung mu An," sahut Yasmin, wanita itu berjalan menghampiri keponakan dan cucunya, lantas merangkuh tutbuh mereka. Yasmin berdoa, apa pun yang akan terjadi nantinya, Kana maupun Arfa bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia.


"Trimakasih tante, kalau tidak ada tante Yasmin, entah apa yang harus Kana lakukan, trimakasih tante selalu ada dan membantu Kana, hanya trimakasih yang mampu Kana ucapkan, semoga tante Yasmin selalu bahagia dan sehat selalu," ucap Kana tulus.


Yasmin tersenyum. "Aminn, doa yang sama untuk mu sayang," sahut Yasmin.


***


"Tan, Kana titip Arfa ya, Kana nggak sanggup kalau harus menyaksikan dengan mata Kana sendiri," ujar Kana.


Hari ini tepat keluarga yang akan mengadopsi Arfa datang, tentu saja Kana tidak akan mampu jika harus meyerahkan putra semata wayangnya secara langsung. Bagaimanapun dia seorang ibu, tidak ada ibu yang rela anak nya diambil orang lain.


"Iya, tapi kamu mau kemana sayang?" tanya Yasmin, bruntung hari ini wanita itu tidak sedang bekerja.


"Kana mau kekampus, nanti sore Kana baru pulang," jelas Kana. "Ohya tan, semua barang-barang dan perlengkapan Arfa sudah Kana siapkan, botol susu dan asinya pun sudah Kana siapkan," sambung Kana dengan wajah sedih.


Yasmin menghela nafas, kentara dengan jelas jika sebenarnya Kana berat untuk melepaskan putranya, namun mungkin dia sudah tidak lagi ada pilihan lain. "IYa, kamu jangan hawatir," timpal Yasmin.


Kana kembali masuk kedalam kamar, mengambil hand-bag serta ponselnya, gadis itu menatap sekilas wajah putranya yang masih terlelap damai. Perlahan Kana berjalan menghampiri bayi yang sebentar lagi akan dia serahkan pada orang lain itu. "Maafkan Mama sayang, mama tidak ada pilihan lain, semoga kamu mendaptakan hidup bahagia dengan keluarga yang lengkap, Mama akan selalu mendoakan mu, maafkan Mama," Kana tergugu, air mata yang sedari semalam dia tahan akhirnya luruh juga. Wanita itu menangis tersedu, mencium seluruh wajah Arfa dengan sayang, membuat bayi mungil itu terusik dan menangis.


Yasmin yang mendengar tangis Arfa bergegas masuk kekamar itu. "An, ada apa?" tanya Yasmin hawatir, dia fikir Arfa terjatuh.


"Tante," Kana menangis tersedu seraya berjalan menghampiri tantenya, membuat Yasmin bingung.


"Ada apa sayang?" tanya Yasmin, seraya mengambil Arfa dalam gendongan Kana.


"Kana nggak bisa menyerahkan ARfa tante, Kana nggak sanggup kehilangan dia," Kana luruh kebawah, wanita itu tengah berperang batin, disatu sisi ada orang tua yang mengharpkan kesuksesannya, namun disisi lain, Kana tidak bisa kehilangan putra semata wayang yang baru 3 bulan lalu ia lahirkan itu.


Yasmin tertegun, sudah tentu ini semua memang tidak mudah, namun Yasmin turut senang, karena pada akhirnya Kana tetap mempertahakan Arfa disisinya. "Ayo bangkit sayang," ujar Yasmin, wanita itu mengusap surai Kana lembut, bruntung Arfa langsung terdiam saat tadi Yasmin menggendongnya.


Kana bangkit, wanita itu menundukan pandangannya. "An, keputusan mu tidak salah nak, tante setuju jika kamu tetap ingin mempertahankan Arfa, dia putra mu An, terlepas dari hasil hubungan apapun, tetap dia hanya anak suci tanpa dosa," ujar Yasmin.


"Tap-tapi bagaimana jika Mama dan Papa sampai tahu?" sahut Kana terbata.


Yasmin menghela nafas. "Jangan beri tahu mereka jika ini anak mu, katakan ini anak tante, tante menginginkan anak tapi tidak ingin menikah," usul Yasmin, membuat Kana menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja Yasmin katakan.


"Mereka tidak akan percaya tan," timpal Kana hawatir.


"Mereka tidak akan tahu An, kamu menurut saja dan turuti apa kata tante," jelas Yasmin.


Pada akhirnya mau tidak mau Kana menyetujui usulan Yasmin, yang terpenting baginya saat ini, masih bisa bersama Arfa, dan membesarkan anak tidak berdosa itu, biarlah urusan nanti, yang terpenting Kana menyelsaikan study nya terlebih dahulu. Kana yakin Mama dan Papanya tidak akan curiga. Toh Papanya juga selalu sibuk, dan tidak mungkin datang ke New York dalam waktu dekat.


"Tapi siapa yang akan mengurus Arfa saat kita sibuk tan? Kana sudah harus kembali kuliah pekan depan," tanya Kana bingung.


Yasmin kembali terdiam, tidak mungkin jika ia harus berhenti bekerja, namun siapa yang akan menjaga Arfa. "BIar nanti tante mencari orang untuk mengurus Arfa, hanya sampai kita kembali, menurut mu bagaimana An?" tanya Yasmin.


Kana mengangguk setuju. "Ya seperti itu saja tan," sahut Kana.


Usai mengambil keputusan itu, Yasmin menghubungi temannya, wanita itu mengucapkan beribu maaf, karena ternyata anak yang akan mereka adopsi tidak jadi diserahkan, tentu saja teman Yasmin merasa kecewa, namun mau bagaiman lagi, tidak mungkin mereka memakasa agar orang lain mau menyerahkan bayinya.


"An, tante keluar sebentar ya," pamit Yasmin, wanita itu harus segera mencari orang yang mau mengurus Arfa selagi dia dan Kana sibuk diluar.


"Hati-hati tan," sahut Kana, wanita itu tengah memeberikan asi kepada putranya.


Sepanjang perjalanan Yasmin nampak bingung, jika dia mencari pengasuh melalui yayasan, tentu itu akan memakan waktu lama, sedangkan mereka membutuhkan pengasuh secepat mungkin. Ditengah lamunannya, tiba-tiba suara seseorang menyerukan nama Yasmin, membuatnya sedikit terkejut.


"Hello Yasmin, where are you going?" sapa seorang wanita yang tengah merapihkan tanaman hiasnya.


"Hei mrs Lena, what are you doing?" tanya Yasmin, wanita itu berjalan mendekati Lena, Lena salah satu tetangga yang sangat ramah, wanita berdarah Indonesia itu sudah tinggal di Amerika sedari Yasmin masih kuliah, dan saat ini usianya sudah menginjak 40 tahun itu artinya Lena sudah tinggal disana sedari Yasmin belum berpindah keNegara itu.


"Aku sedang merawat tanaman hias, kamu mau kemana Yasmin?" tanya Lena, wanita paruh baya itu lebih sering menggunakan bahasa Indonesia jika bebicara dengan orang yang berasal dari Negaranya.


"Ah itu, keponakan ku sudah melahirkan, dan harus kembali melanjutkan study nya yang tertunda, jadi aku harus mencari pengasuh untuk merwat putranya selagi kami sibuk diluar Mrs Lena," jelas Yasmin, membuat Lena tersentak, meskipun tidak terlalu seing berbincang-bincang dengan keponakan Yasmin, namun dia tahu, jika gadis itu sangat ramah dan baik hati, bahkan keponakan Yasmin itu pernah menolong Lena.


"Kamu serius ingin mencari pengasuh?" tanya Lena memastikan.


Yasmin mengangguk. "Iya, apa Mrs Lena memiliki kenalan?" tanya Yasmin.


"No Yasmin, bagaimana jika aku saja yang mengasuhnya," usul Lena, wanita itu begitu kesepian, tinggal sendiri dinegara orang.


Yasmin terkesip, bagaiman mungkin dia bisa meminta mrs Lena mengasuh cucunya. "Tidak perlu nyonya, kami tidak ingin merepotkan mu," sahut Yasmin sungkan.


"Jangan menolak, kamu bisa mempercayakan bayi itu padaku, aku janji akan merawatnya seperti cucuku sendiri, kamu kan tahu aku tinggal sendiri Yasmin, putra ku pun sudah jarang kembali, hitung-hitung untuk menghilangkan kesepian ku," mohon Lena, berharap wanita itu mau memilihnya sebagi pengasuh cucu keponakannya.