One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 29. Eigle corp.



Mentari pagi mulai menyambangi bumi. Ini merupakan hari pertama Kana menginjakan kaki didalam wilayah Eigle. Semalan dia dan Anton sudah bertukar kabar. Lagi-lagi Anton terus mengingatkan Kana agar berhati-hati. Jangan sampai ada yang mengenali dirinya, tentu jika ada yang tahu itu akan menimbulkan masalah besar.


Kana menelisik penampilannya. Wanita itu tersenyum, mulai hari ini rencananya dimulai. Berhasil atau tidak semua tergantung nasib dan kerja keras Kana tentunya.


Jam yang tergantung pada dinding sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Revan sudah bersiap sedari tadi, tentu dia sudah tidak sabar untuk menghabiskan hari-harinya bersama Kana. Meski hanya untuk bekerja.


Revan merasa penampilannya sudah sangat paripurna. Ingin rasanya Revan mendatangi Kana, dia sudah sangat penasaran seperti apa Kana saat ini. Pastilah wanita itu akan tampil cantik dan anggun. Hanya membayangkan saja sudah membuat Revan tersenyum tidak jelas.


Pria tampan itu terus berjalan kesana kemari tidak sabar mendatangi Kana. Namun Revan takut Kana merasa tidak nyaman karena dia terlalu terburu-buru. Apalagi wanita membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk bersiap.


Revan terlonjak kaget, saat pintu apartemenya diketuk, terdengar suara Kana mengintruksi. Sontak dengan cepat Revan membuka pintu itu.


Tatapan mereka bertemu. Mungkin keduanya sama-sama terpesona. Terutama Revan, Kana terlihat lebih dewasa dengan pakaian kerja yang ia kenakan. Wanita itu mengenakan kemeja putih dengan celana dasar hitam. Tidak terlihat seksi namun mampu membuat Revan tidak berkedip menatapnya.



"Cantik," batin Revan.


Kana menjentikan jarinya. "Hey Bapak Revan. Apa ada yang salah dengan penampilan ku? Apa ini kurang cocok?" crocos Kana.


Revan menggeleng. "Kamu sangat cocok mengenakan pakaian itu. Aku suka melihatnya," ucap Revan, membuat Kana gugup sendiri.


"Lantas mengapa kamu menatap ku seperti itu Van? Membuat aku malu saja," protes Kana.


"Kamu cantik Ren," puji Revan tulus.


Kana hanya tersenyum menanggapinya. Mulai sekarang dia harus terbiasa mendengar rayuan Revan.


"Anda pandai merayu pak!" canda Kana. "Ya sudah ayo kita berangkat." Kana terlebih dulu berjalan menuju lift meninggalkan Revan.


"Huh.. Siapa yang tahan jika dia begitu cantik," guman Revan seraya mengejar langkah Kana.


Sepanjang perjalanan Revan terus saja melirik Kana yang tengah fokus memandangi gedung-gedung. "Ren, nanti jika disana banyak orang membicarakan mu dibelakang tolong abaikan saja!" seloroh Revan, membuat Kana menoleh kearahnya.


"Kenapa? Apa karena aku tidak melamar kerja seperti pegawai pada umumnya?" tanya Kana.


"Itu salah satunya," jawab Revan.


Sebenarnya Kana merasa heran mengapa Revan bisa memperkerjakannya dengan mudah tanpa syarat. Padahal semua orang tahu, Eigle merupakan prusahaan yang sangat ketat. Meski Revan tangan kanan atau semacam orang kepercayaan harunya tidak semudah itu juga memasukan orang luar. Namun Kana tidak ingin sibuk memikirkan hal itu. Biarlah itu menjadi urusan Revan, yang terpenting Kana bisa masuk kesana.


"Baik Pak. Aku akan mengingat pesan bapak," sahut Kana.


Revan mengernyitkan dahi mendengar panggilan yang baru Kana sematkan. Terkesan aneh jika Kana memanggilnya dengan embel-embel lain.


"Mengapa kamu memanggil ku seperti itu Ren?" protes Revan.


"Bukankah saat ini bapak Revan atasan ku. Jadi sudah sepantasnya aku memanggilmu seperti itu," jelas Kana.


Revan menghela napas. Sebenarnya dia tidak suka dengan panggilan itu. Namun mau tidak mau Kana memang harus memanggilnya demikian, agar nanti Tirana tidak curiga.


Kana mengangguk setuju. "Baik Van."


Mobil itu mulai memasuki wilayah gedung Eigle corp. Bangunan menjulang tinggi yang tidak kalah mewah dan besar dari Widjaya group.


"Berjalan lah dibelakang ku Ren," ucap Revan mengintruksi sebelum mereka turun dari mobil.


Kana mengangguk. Wanita itu membawa hand-bag nya dan berjalan mengikuti Revan masuk kedalam lobby.


Kedatangan Revan menjadi pusat perhatiin banyak orang, termasuk para pegawai wanita. Terdengar pujian dan kekaguman dari mulut mereka. Namun ada juga bisikan-bisikan serta tatapan tajam para wanita itu kepada Kana yang berjalan mengikuti Revan.


Hampir sepekan Revan memghabiskan masa cutinya. Tentu saja membuat para pegawai wanita merindukan sosok pria itu. Revan terkenal dingin, dan tidak suka berbasa-basi. Namun itulah yang ternyata menjadi daya tarik tersendiri. Siapa yang tidak menyukai Revan, dia tampan, cerdas, memiliki karir cemerlang meskipun tidak kaya seperti Rayan Eigle.


"Selamat pagi Pak," sapa para karyawan yang kebetulan berpapasan dengan mereka.


Revan hanya mengangguk. Tidak ada senyum menghiasi wajahnya seperti yang beberapa hari ini Kana lihat. Bahkan pria itu terkesan cuek dan sangat angkuh. Kenyataan yang baru Kana ketahui tentunya. Apa mungkin Revan memiliki dua kepribadian? Batin Kana.


Terlihat beberapa karyawan wanita menatap tak suka pada Kana. Bahkan terang-terangan mencibir dirinya. Namun Kana hanya cuek saja, toh dia disana bersama Revan.


"Itu yang sama pak Revan siapa sih?" beberapa pertanyaan yang santer beredar dilobby pagi ini.


Mereka masuk kedalam lift. Terlihat Revan menekan angka sepuluh dimana ruangannya berada. Didalam lift itu hanya ada mereka berdua, karena memang lift itu kehusus petinggi prusahaan.


"Jangan hiraukan apapun Ren! Jika ada yang mengganggu mu katakan pada ku," seloroh Revan, dia menatap Kana dari pantulan dinding lift.


Lift itu terbuka tepat dilantai sepuluh. Seorang wanita cantik dan seksi sudah menyambut kehadiran Revan. Dia berjalan bak model yang tengah memperlihatkan bentuk tubuh seksi nya.


"Selamat pagi Pak," sapa nya dengan nada manja, membuat Kana jijik sendiri.


Revan hanya mengangguk, pria itu berhenti tepat didepan pintu ruangannya. "Tolong beri tahu Rena fan ajari dia. Tugas mu mencatat semua jadwal ku, dan tugas Rena menemani ku kemana pun," ujar Revan mengintruksi.


"Ren, ini meja kerja mu." Revan menunjuk dua meja yang berjajar didepan ruangannya.


Kana mengangguk. "Baik Pak," sahut Kana seraya membungkukan sedikit tubuhnya.


Wanita seksi itu menatap tidak suka pada Kana. Perhatian yang revan tunjukan untuk Kana membuat Sera kesal. Sudah hampir setahun dia bekerja sebagai asisten Revan, namun tidak sekalipun pria itu bersikap manis padanya.


Sera menghentakan kaki, dan menjatuhkan bobot tubuhnya keatas kursi.


"Salam kenal, aku Rena," ujar Kana memperkenalkan diri, meski Sera sudah menyambutnya dengan permusuhan namun sebagai orang baru Kana harus bisa bersikap sopan.


"Sera," ucap wanita seksi itu. Dia bahkan tida melihat Kana saat menyebut namanya.


Meski tidak menyukai Kana namun Sera tetap mengajari wanita itu, dia tidak mau Revan marah padanya dan tentu saja itu akan berakibat fatal pada karir Sera.


"Jangan mentang-mentang Kamu dibawa langsung oleh Pak Revan sehingga kamu bisa besar kepala ya! di sini kamu harus tetap menghormati aku," tekan Sera. Bagaimanapun dia masih bisa bersikap sombong, karena Tiranalah yang memperkerjakannya.


"Aku dengar ada wanita cantik yang Revan bawa," seru Rayan memotong percakapan Sera dan Kana. Sontak kedua wanita itu menoleh mengikuti asal suara.