
Revan membuka pintu ruangannya dengan kasar. Mendengar pujian Papanya tidak pernah membuat Revan senang. Revan merasa seperti sapi perah, dimana dia hanya harus bekerja dan bekerja memajukan perusahaan istri SAH sang Ayah.
"Anda tidak apa-apa Pak?" tanya Kana, sontak membuat Revan tersadar.
Tanpa aba-aba Revan berbalik dan memeluk tubuh Kana. "Izinkan aku memelukmu Ren! Sebentar saja," mohon Revan.
Kana termangu, tubuhnya terasa kaku tidak bisa digerakan. Kana menyesali keputusannya untuk mengikuti Revan.
"Aku lelah Ren," ucap Revan tiba-tiba, membuat Kana tersadar dari keterkejutan nya. Kana ingin menolak pelukan itu, namun sial tubuh nya bereaksi lain. Bak manekin Kana hanya diam saja.
"Semua orang hanya meminta ku bekerja dan bekerja. Tanpa pernah bertanya bagaimana perasaan ku," keluh Revan.
Perlahan Kana melepaskan pelukan itu. Bagaimana pun dia masih harus mengambil hati Revan, sebisa mungkin Kana harus bersikap biasa, agar tidak membuat Revan curiga. "Sebagai orang yang sudah membayar mahal tenaga dan waktu kita, sudah biasa hal seperti itu mereka lakukan pak," ucap Kana memancing. Gurat lelah nampak pada wajah Revan.
"Seb-" Revan mendongak, hampir saja dia mengatakan jika Radit adalah Ayah nya. Beruntung Revan masih bisa menjaga rahasia itu. Mungkin jika nanti dia dan Kana sudah memiliki hubungan serius Revan akan menceitakan semuanya pada Kana. Namun saat ini Revan harus bisa menjaga rahasia tersebut termasuk dari Kana.
Kana mengernyitkan dahi, wanita itu menatap Revan penuh tanya. "Seb, apa itu?" tanya Kana penasaran.
"Sebenarnya aku ingin resign, tapi Pak Radit tidak juga memberi izin, itu yang membuat aku kesal," bohong Revan.
Kana menganggukan kepala. Dia tahu jika Revan berbohong. Kana pastikan cepat atau lambat dia akan mencari tahu semuanya.
"Kamu sudah makan siang Ren?" tanya Revan mengalihkan percakapan mereka.
Kana menggeleng. "Belum," sahutnya.
"Aku juga belum, ayo kita keluar!" ajak Revan, pria itu menggandeng tangan Kana meninggalkan ruangannya.
"Kurang ajar," bentak Tirana sembari melemparkan apa saja yang ada diatas mejanya. Wanita itu tengah kesal, rencana untuk mempermalukan Revan sekaligus membuat Kana terusir dari perusahaan nya harus gagal begitu saja. Dia fikir Kana wanita bodoh dan hanya menjual diri pada Revan agar bisa bekerja menjadi asistennya. Namun ternyata dugaan Tirana salah, sepertinya mereka memiliki hubungan spesisal lainnya. Tirana juga cukup terkejut jika Kana mampu mengerjakan tugasnya dihari pertama menginjak Eigle.
"Sudah lah Mah," ujar Rayan menenangkan. Rasa ingin memiliki Rayan semakin besar setelah tahu Kana wanita yang cerdas. Rasa penasaran Rayan tidak lagi bisa dibendung untuk bisa membuat Kana ada dibawah kungkungan nya.
Tirana menatap tajam putranya. "Sudah, Sudah.. Sampai kapan kamu harus terus kalah dari Revan? Kamu benar-benar membuat Mama kesal, Yan!" bentar Tirana,dia melampiaskan amarah nya pada Rayan.
Rayan mencebikan bibirnya. Dia bukan pria yang suka mengerjakan bisnis seperti ini. Ini sama sekali bukan bakatnya. Hobi Rayan hanya balapan dan dugem di club, tentu saja membawa wanita-wanita cantik naik keatas ranjang nya, dan sebentar lagi giliran Kana yang pastinya harus Rayan tahlukan. Rayan memiliki kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya, mana mungkin ada wanita yang bisa menolak uang. Begitupun Kana, Rayan meyakini jika Kana akan tergoda dengan iming-iming nya.
"Sekarang cepat kamu cari tahu siapa wanita itu! Dilihat dari apa yang dia pakai dan caranya bekerja, Mama yakin dia bukan hanya wanita simpanan Revan." Printah Tirana.
"Anak kurang ajar," maki Tirana, rasanya dia lelah menghadapi sikap Rayan. Namun mau bagaimana pun Rayan satu-satu nya anak yang Tirana miliki.
Revan melirik Kana yang kini tengah fokus membaca majalah bisnis yang ada di dashboard mobilnya. Revan ingin mengajak Kana makan siang dicafe favorit nya.
"Ohya Ren, bagaimana kamu bisa membuat ringkasan materi tadi dengan begitu baik?" tanya Revan penasaran, Kana seperti seorang aisten profesional.
Kana menutup majalah itu. Pandangannya tertuju pada Revan, namun tak lama dia ikut memandangi jalanan didepannya.
"Aku pernah bekerja menjadi sekertaris di Bandung. Tapi hanya beberapa bulan saja, maka dari itu aku sedikit paham," elak Kana. Dia memang sekolah bisnis, namun sama sekali belum berpengalaman, alhasil Anton lah yang membantu Kana mengerjakan semuanya. Kana sengaja menghubungi Anton, dan meminta asisten Papanya untuk membantu.
Revan menganggukan kepala. Sedikit tidak percaya, namun untuk apa juga Kana berbohong, batin Revan. "Mengapa kamu berhenti?" tanya Revan lagi.
Kana menghela napas, sepertinya Revan sengaja trus mencecar dirinya. "Bos ku seorang pria hidung belang. Itu sebab nya aku melarikan diri," bohong Kana.
"Ternyata begitu." Mendengar penjelasan Kana tentu saja dia percaya. Yang membuat Revan sedikit heran mengapa semua identitas Kana tertinggal.
Mobil itu berhenti disalah satu cafe yang tidak terlalu jauh dari perusahaan. Revan turun terlebih dahulu untuk membukakan Kana pintu, namun ternyata wanita itu sudah terlebih dulu turun.
"Kamu jngan terus-terusan kayak gini Van! Sekarang aku asiten kamu, jadi perlakukan aku seperti itu. Kalau kamu terus bersikap manis yang ada aku malah baper," ujar Kana tak nyaman.
Revan tersenyum, dalam hati dia memang menginginkan Kana tersentuh dengan perlakuan nya. "Ya udah yuk, masuk!" ajak Revan.
Revan memesan beberapa menu makanan. Makan siang itu diiringi canda gurau. Sesekali Revan menyuapkan sendok nya kemulut Kana, entah sadar atau tidak Kana menerima tanpa rasa curiga, membuat Revan tersenyum senang. Mereka makan dengan sendok yang sama bak pasangan romantis yang baru saja jatuh cinta.
Semenjak pulang ketanah air, Kana jarang menghabiskan waktu diluar walaupun hanya sekedar makan. Jadwal yang terlalu padat membuat Kana mengesampingkan keinginannya. Walau sebenarnya dia ingin mengunjungi tempat-tempat favorit nya dulu.
Kebersamaan yang terjalin antara dia dan Revan beberapa hari ini membuat Kana sedikit merasa bahagia, meski tersimpan tujuan lain di dalamnya.
Dari kejauhan seorang wanita terus saja memperhatikan Kana. Dia merasa tidak asing, namun segan untuk menghampiri.
Usai menyantap makan siang yang sudah jelas tertunda , Revan dan Kana kembali beriringan menuju mobil.
Sontak wanita yang sedari tadi memperhatikan Kana bangkit dan mengejarnya. Dia harus memastikan apakah benar wanita itu Kana atau hanya mirip saja.
"Kana.." seru seorang wanita dari jarak yang cukup jauh.