One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 33. Terkejut



"Kana," seru seorang wanita dari jarak yang cukup jauh.


Kana berbalik saat mendengar ada yang memanggil namanya. Dia terlonjak kaget saat menyadari wanita yang baru saja menyerukan nama nya adalah Aylin, sahabat nya dulu. Melihat Aylin yang berjalan mendekat sontak dengan cepat Kana menggandeng tangan Revan keluar dari dalam cafe.


Revan mengernyitkan dahi. Namun sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat mendapati Kana menggandeng lengannya.


"Apa aku salah mengenali orang," guman Aylin saat melihat wanita yang sangat mirip dengan sahabat nya berlalu pergi begitu saja, padahal wanita itu sudah melihat keberadaan dia.


"Mungkin hanya mirip. Tidak mungkin itu Kana," batin Aylin dan kembali ke mejanya.


Sesekali Kana masih menoleh, berharap Aylin tidak mengejarnya. Jika Aylin sampai menghampiri mereka sudah tentu semua rencananya akan gagal dan Revan akan tahu siapa Kana yang sebenarnya.


Kana menghela napas lega, karena sepertinya Aylin tidak mengejar dia, dan beruntung Revan tidak menoleh apa lagi curiga saat ada seseorang menyerukan nama Kana.


Revan berjalan mengikuti kemana Kana membawanya. Entah apa yang membuat Kana bersikap demikian, namun tentu Revan sangat senang. Dia terus memperhatikan wajah Kana yang nampak gelisah menyeret lengannya.


"Kamu kenapa?" Revan sudah tidak tahan untuk bertanya.


Sontak ucapan pria itu menyadarkan Kana. Wanita cantik itu reflek menjauh dan melepaskan gandengan tangan mereka. Efek panik membuat Kana tanpa sadar melakukan hal implusif.


"Ahh, maaf Pak," ujar Kana gugup.


Revan tersenyum melihat wajah Kana yang bersemu. "Untuk apa kamu meminta maaf Ren? Aku iklas jika kamu ingin terus menggandeng tangan ku," goda Revan dengan wajah senyum manisnya. Senyum yang khusus diperlihatkan pada Kana. Karena selama ini Revan tidak pernah tersenyum kepada siapapun selain Mamanya.


Dalam hati Kana terus mengumpat. Efek panik yang berlebih Kana sampai mempermalukan dirinya dihadapan Revan.


"Sekali lagi maaf Pak." Kana menundukan kepala, berharap Revan tidak rerus menggoda dirinya.


"Aku maafkan, dengan satu syarat!" ucap Revan seraya berlalu menuju mobil meninggalkan Kana yang masih kebingungan.


Kana menghela napas, wanita itu mengejar Revan yang kini tengah berdiri disisi mobil membukakan pintu untuk nya.


"Syarat apa yang bapak maksud?" Kana berdiri dihadapan Revan dengan raut hawatir.


"Masuklah dulu." Sudut mata Revan meminta Kana masuk kedalam badan mobil.


Dengan patuh Kana menuruti printah Revan. Dia berharap Revan tidak memberikan Syarat yang aneh-aneh.


Revan berlari kecil mengitari mobil, pria itu bersorak senang. Dia merasa kesempatan untuk mendapatkan Kana semakin dekat.


Mobil itu kembali melaju, namun bukan kearah Perusahaan, melainkan kembali keapartemen mereka. Padahal saat ini jam kerja Kana belum selsai.


"Kenapa pulang Van? Jam kerja ku belum selesai," protes Kana heran.


Revan melirik Kana sekilas, dan kembali fokus mengemudi. "Tidak usah difikirkan Ren! Bukankah kamu ingin tahu syarat apa yang aku pinta," ucap pria tampan itu.


Kana mengernyitkan dahi. "Syarat apa?" tanya Kana kemudian.


"Setelah ini bersiap lah, pukul tujuh aku akan menjemput mu! Temani aku makan malam," pinta Revan.


"Silahkan," ujar Revan.


Mereka masuk kedalam lift menuju unit apartemen. Revan mengantarkan Kana sampai depan puntu Apartemen nya.


"Selamat berjumpa malam nanti Ren," ucap Revan sebelum berlalu meninggalkan Kana.


Kana memandangi punggung Revan yang tengah berjalan menuju apartemen nya. Andai ini pertemuan pertama mereka, sudah tentu Kana akan jatuh hati pada Revan.


Sekuat tenaga Kana membentengi diri agar tidak tergoda dengan sikap manis Revan padanya. Kana membuka pintu Apartemen nya, wanita itu menjatuhkan bobot tubuh nya keatas ranjang.


Pandangan Kana lurus menatap langi-langit kamar. Tiba-tiba saja rasa rindunya pada Arfa membuncah, sudah hampir satu bulan Kana tidak bertemu dengan putranya. Sungguh rasa rindu itu begitu besar. Kana mengambil ponsel nya yang ia simpan dibawah ranjang.


Beruntung Kana sudah menghafal nomor Anton untuk berjaga-jaga, dan benar saja itu sangat berguna. Kana bisa menyelesaikan tugasnya dengan bantuan Anton. Dia juga bisa menyalin dan mengirimkan semua berkas dan materi yang sudah Revan buat.


Beberapa kali Kana mencoba menghubungi Yasmin. Namun tantenya tidak juga menjawab, alhasil Kana memutuskan menghubungi Mrs. Lena.


Satu kali panggilan Mrs. Lena sudah menerima panggilan dari Kana. "Halo honey, how are you?" sapa Lena dari sebrang telpon.


"I'm good Mrs, how about you?" Kana balik bertanya.


Cukup lama mereka saling sapa. Mrs Lena memberi tahu Kana jika Arfa ada bersamanya, namun saat ini sang putra tengah tertidur. Sedangkan Yasmin sedang memeriksakan diri ke Rumah Sakit.


Tentu saja apa yang Lena katakan membuat Kana tersentak kaget. Jika Lena tidak mengatakan, pasti Yasmin tidak akan memberi tahu Kana jika dia tengah sakit. Lena sendiri belum tahu sakit apa yang di derita Yasmin. Karena Yasmin sendiri baru memeriksakan diri hari ini.


Kana menyudahi panggilan itu. Perasaan nya tengah dilema, mana mungkin Kana bisa membiarkan tente nya mengurus Arfa sedangkan dia sendiri tengah sakit.


"Apa yang harus aku lakukan?" guman Kana, dia berjalan kesana kemari dengan gelisah. Pada akhirnya Kana memutuskan menghubungi Mamanya.


"Halo sayang." Terdengar suara Amanda menyapa.


"Mah, gimana kondisi Papa dan Mama?" tanya Kana.


"Kondisi Papa sudah semakin membaik An, Papa juga sudah bisa beraktifitas seperti biasa," jelas Amanda.


Perusahaan Widjaya group yang berjarak cukup jauh dari rumah membuat Kana dan Anton memiliki alasan mengapa mereka menyewa apartemen, tentu saja mereka beralibi agar memudahkan Kana. Apa lagi selama ini Kana tinggal di New York, tentu akan sangat sulit jika dia harus berangkat kekantor dari rumah, dan beruntung Papa serta Mamanya tidak curiga.


"Syukur lah Mah, sebenarnya ada yang mau Kana bicarakan Mah. Ini tentang tante Yasmin," ucap Kana.


Amanda mengernyitkan dahi. "Kenapa dengan tante mu An?" tanya Amanda.


Kana mulai menjelaskan kondisi Yasmin yang tengah sakit pada Mamanya. Meski belum tahu Yasmin menderita penyakit apa, namun sudah menjadi keputusan Kana untuk meminta sang tante dan Arfa datang ke tanah air. Kana berharap Mama nya mau membantu Kana membujuk Yasmin agar sang tante mau pulang ke Indonesia.


Tentu saja Amanda menyambut dengan senang hati. Ini juga yang dia harapakan selama ini, Yasmin saudara satu-satu nya yang Amanda punya, dia berharap sang adik tidak tinggal terlalu jauh agar mereka bisa lebih sering berkumpul.


"Mama setuju An, nanti Mama coba bujuk tante mu juga. Semoga dia tidak menolak lagi," ucap Yasmin.


Hingga tiba-tiba terdengar Revan mengintrupsi. "Rena.."