One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 21. Panik



Revan menghentikan mobilnya didepan sebuah komplek perumahan kumuh dipinggiran Jakarta. Tentu dia sedikit terkejut Kana tinggal disana, penampilan Kana yang bersih dengan wajah ayu, Revan fikir Kana tinggal di Apartemen atau perumahan elit.


"Kamu tinggal disini?" tanya Revan tepat didepan sebuah gang sempit, mobil bahkan tidak bisa masuk kedalam gang itu.


Kana mengangguk. "Iya, aku hanya mampu menyewa kontrakan disini, mungkin sampai aku memiliki pekerjaan lain, baru aku mencari rumah yang lebih layak," timpal Kana dengan nada bicara dibuat sedih.


Revan menghela nafas, lagi-lagi rasa bersalah menggerogoti jiwanya. Andai mereka lebih cepat bertemu, pastilah Revan sudah membantu Kana sedari dulu. "Apa kamu mau bekerja diperusahan?" tanya Revan kemudian.


Kana mendongak, melirik Revan sekilas dan kembali menundukan kepala. "Aku hanya lulusan SMA, mana mungkin bisa bekerja diperusahaan," sahut Kana merendah.


Revan merubah posisi duduk nya, pria tampan itu menatap wajah Kana yang hanya nampak samping karena Kana tengah menunduk. "Kamu tidak perlu memikirkan apapun Ren! asal kamu mau, aku akan mengurus sisa nya," ucap Revan meyakinkan.


Mendengar itu Kana kembali mendongak menatap Revan, tatapan mereka bertemu, sejenak mereka saling diam. Revan menjadi tidak fokus manakala bibir mungil berwarna merah muda itu tepat ada dihadapan nya. Tentu saja bayangan indah pada malam itu lagi-lagi membuat Revan tergoda ingin menyesap nya, namun ia sadar jika hal itu tidak mungkin terjadi. Revan mengalihkan pandangan nya kearah lain, dia benar-benar tidak bisa menahan jika harus bersitatap dengan Kana.


"Apa mungkin bisa? Lantas aku bekerja sebagai apa? Sedangkan izasah ku saja tertinggal di Bandung," bohong Kana.


"Sudah aku katakan Ren, kamu tidak perlu memikirkan apapun! serahkan semuanya pada ku," ujar Revan. Sebenarnya dia ingin meminta Kana pindah dari tempat kumuh seperti itu, namun Revan sadar ia belum memiliki hak apapun untuk memerintah Kana, mungkin nanti saat Kana sudah bekerja diperusahaan, barulah Revan mencarikan tempat tinggal yang lebih layak untuk Kana.


Revan sudah memutuskan jika besok dia akan kembali bekerja, meski masih dalam masa cuti, namun Revan harus bergerak cepat mengurus posisi yang tepat untuk Kana. Dia tidak ingin wanita itu lari lagi darinya. Revan akan melakukan apapun untuk membuat Kana tetap dalam pengawasan nya.


Meski harus memohon kepada sang Papa dan Tirana tentunya. Biarlah dia merendahkan harga diri, asal Revan bisa membuat Kana bekerja bersamanya. Revan benar-benar sudah jatuh hati pada gadis itu, bahkan mungkin ia rela melakukan apapun untuk Kana, meski harus mengorbankan nyawanya.


Revan menyodorkan ponselnya kehadapan Kana, meminta wanita itu menuliskan nomor ponselnya, "Tulis nomor ponsel mu disana!"


Kana mengernyitkan dahi, ia sedikit bertindak implusif agar Revan semakin percaya dengan apa yang dia katakan. "Aku tidak memiliki ponsel," sahut Kana lirih.


Tentu saja Revan terkejut mendengar itu. Pria itu samapi melongo mendengar jawaban Kana. Ini sudah zaman canggih dan moderen tentunya, hampir semua orang memliki ponsel meski bukan yang bagus dan mahal. Namun ini! Kana sama sekali tidak memiliki ponsel, tentu saja Revan tersentak mengetahuinya.


"You are not kidding Rena?" tanya Revan, ia masih tidak yakin dengan ucapan Kana.


"Aku tidak memintamu percaya," jawab Kana seraya membuka pintu mobil itu.


Kana bergegas turun, membuat Revan panik, tentu saja dia juga ikut keluar dari mobilnya, dan mengejar Kana yang sudah berjalan masuk kedalam gang.


"Rena, tunggu!" pekik Revan, namun Kana tidak mengidahkan ucapannya.


"Shitt.." umpat Revan dan berlari cepat mensejajari langkah Kana.


"Aku tidak perduli," sahut Kana singkat. Rasa sakit dikakinya semakin menjadi, dia harus segara datang menemui Dokter, namun tentu Kana harus menunggu Revan pergi terlebih dahulu, jika tidak Revan pastinya akan curiga.


Revan berdiri tepat dihadapan Kana, membuat langkah wanita itu terhenti. "Tolong maafkan aku," mohon Nya.


Kana tidak menjawab, wajahnya nampak pucat matanya pun semkain sayu, dan lama kelamaan Kana tidak sadarkan diri, Beruntung Revan dengan sigap menggapai tubuh Kana, sebelum wanita itu tersungkur ketanah.


"Ren, Rena, bangun Ren!" seru Revan panik. Dia menelisik sekitar, namun tidak ada satu orang pun yang lewat.


Tanpa fikir panjang Revan membawa tubub Kana dalam gendongan nya, dan meletakan Kana pada jok penumpang. Pria tampan itu menginjak pedal gasnya, mengendarai mobil bak pembalar liar. Bahkan dia sampai tidak memperdulikan keselamatan nya, karena sangking paniknya.


"Please Ren, jangan sampai kamu kenapa-napa!" guman Revan. Andai tadi dia lebih cepat membawa Rena kerumah Sakit, mungkin wanita itu tidak akan sampai seperti ini.


Dari jarak yang cukup jauh sebuah mobil BMW mengikuti. Tentu saja Anton sangat panik saat tadi Kana tidak sadarkan diri dalam pelukan Revan. Meski Anton tidak tahu dengan jelas rencana apa yang akan Kana lakukan, namun sudah kewajiban nya menjaga keamanaan dan keselamatan Kana. Kana bahkan sampai rela melukai dirinya sendiri, hanya demi mendapat simpatik dari Revan, benar-benar rencana konyol.


Awalnya Anton tidak setuju dengan permintaan Kana yang ingin mendekati Revan, namun karena Kana terus makasa dan meyakinkan dirinya. Pada akhirnya Anton ikut menyetuji, kini dia menyesali keputusan nya, jika terjadi sesuatu kepada Kana, sudah tentu dia akan habis ditangan sang majikan.


"Jangan sampai anda kenapa-napa Non, bisa habis saya ditangan Tuan," grutu Anton.


Mobil yang Revan kendarai mulai memasuki area Rumah Sakit Casmita Hospital. Dengan sedikit tergesa Revan menghentikan mobil itu didepan lobby Rumah Sakit. Pria tampan itu berteriak sembari membawa tubuh Kana dalam gendongan nya.


"Dok, tolong priksa dia! jangan biarkan sesuatu terjadi padanya!" mohon Revan dengan wajah panik nya.


Dokter muda itu mengangguk. "Kami priksa dulu ya Pak," pamitnya.


Revan mendesah frustasi, entah apa yang terjadi pada Kana, mengapa pula dia sampai tidak sadarkan diri, jika hanya terkena serpihan kaca, apa harus wanita itu pingsan? Revan terus mengguman seorang diri, membuat Anton keheranan.


Anton masih mengawasi dari kejauhan, dia sedikit bernafas lega, manakala Revan membawa Kana ke Rumah Sakit. Namun Anton merasa aneh, mengapa Revan bersikap sangat berlebihan, seolah dia dan Kana sudah saling mengenal. Kentara sekali jika dia tengah panik.


Tidak lama Dokter muda yang menangani Kana keluar, ia menghampiri Revan yang terus saja berjalan mondar-mandir bak strikaan.


"Tuan," sapa Dokter dengan name tag Maya.


"Bagaimana keadaan nya? Apa terjadi sesuatu yang sangat menghawatirkan, sampai-sampai dia tidak sadarkan diri seperti itu?" tanya Revan tanpa henti, membuat Dokter itu tersenyum, dia fikir pasien yang ada didalam mungkinlah istrinya, sehingga Revan bersikap sedemikan hawatirnya.