
Revan berdiri mengungkung tubuh Kana. Napas nya menerpa wajah ayu wanita itu. Kana hanya menunduk tanpa berani mengangkat kepalanya. Karena jika ia mendongak sudah tentu tatapan nya akan bersiborok dengan Revan.
Setelah cukup lama berada dalam posisi menegangkan akhirnya para remaja itu silih berganti keluar dari dalam lift.
Revan kembali membenarkan posisinya. Dia berdiri sedikit berjarak dari Kana. Semakin lama dekat dengan wanita itu membuat detak jantung Revan berdebar tidak beraturan.
"Kamu tidak apa-apa Ren?" tanya Revan memastikan.
Kana menggeleng. Meski sebenernya jantung Kana memompa dua kali lebih cepat dari biasanya. Bagaimana tidak tadi dia dan Revan berdiri dengan posisi yang sangat dekat. Revan mengungkung dirinya agar Kana tidak semakim terhimpit.
Pintu lift terbuka tepat dilantai lima. Dimana berjajar toko-toko barang branded. Kana mengernyitkan dahi, dia mulai menduga-duga mengapa Revan membawanya kesana.
"Kenapa kita kemari?" tanya Kana heran.
Revan tersenyum. "Ada yang ingin aku lakukan," seloroh pria itu.
Revan masuk kedalam salah satu butik pakaian wanita. Terlihat seorang Cameo menyambut kedatangan mereka. Dalam hati Kana sudah bisa menebak apa yang ingin Revan lakukan. Benar-benar hal klise yang para pria hidung belang lakukan.
"Selamat datang Tuan, Nyonya," sapa pegwai yang ada dibutik itu.
Revan hanya mengangguk, sedangkan Kana hanya mengikuti saja dari belakang. Pegawai itu mempersilahkan Revan dan Kana duduk disalah satu sofa.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan, Nyonya?" tanya wanita itu dengan ramah.
Revan kembali mengangguk. "Tolong siapkan beberapa pakaian kerja untuk dia! Jangan yang seksi!" ucap Revan mengintruksi.
Kana terbelalak mendengar penuturan Revan. Wanita cantik itu bersikap seolah keberatan dengan kebaikan Revan. Padahal Kana hanya muak dengan perlakukan laki-laki yang menggunakan uang untuk mendekati wanita. Dan itu yang dulu Revan lakukan. Membelinya dengan uang.
Entah apa tujuan Revan melakukan ini untuk nya. Mungkin dia sengka ingin membuat Kana terpesona dengan sikap manis Revan. Namum Kana sama sekali tidak akan pernah tergoda. Tujuannya hanya ingin menghancurkan Revan sehancur-hancurnya.
"Baik tuan. Akan kami pilihkan." Pegawai itu pergi meninggalkan Kana dan Revan disana.
"Kenapa harus membelikan aku pakaian. Aku sudah memiliki pakaian sendiri," tolak Kana.
Lagi-lagi Revan menyunggingkan senyum nya. Pria itu bersikap seolah paling tampan. Sebenarnya tidak dipungkiri Revan memanglah sangat tampan. Namun Kana tidak akan memujinya sedikit pun.
"Tolong jangan ditolak Ren! Aku tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin orang kantor tidak mencurigai kamu. Disana terlalu banyak persaingan, penampilan seseorang menunjukan kelas nya. Aku tidak ingin kamu diremehkan oleh mereka," jelas Revan.
Kana terdiam. Dia memang harus bisa menyesuaikan diri. Namun menerima pemberian Revan terus menerus membuat Kana tidak nyaman. Kana tidak ingin berhutang terlalu banyak pada Revan.
"Jangan melamun, dan tolong jangan difikirkan lagi!" ucap Revan seraya menggenggam tangan Kana, membuat Kana reflek menarik tangannya.
Tidak lama pegawai tadi kembali, membawa beberapa set pakaian untuk Kana. "Silahkan dipilih nyonya," ucap nya.
Kana yang sudah merasa tidak nyaman hanya melirik tanpa ingin memilihnya. Alhasil Revan meminta pegawai itu membungkus semua pakaian dan sepatu yang cocok untuk Kana.
"Bungkus semua yang cocok untuk nya!" titah Revan, dan lagi-lagi hal itu membuat Kana terkejut.
"Ayo kita pulang!" Revan bangkit meninggalkan butik itu setelah membayar semuanya, tidak lupa ia memberikan alamat kemana barang tadi harus diantarkan.
"Apa kamu marah?" tanya Kana seraya berjalan mengikuti Revan. Setelah apa yang Kana lakukan tadi terlihat jika sifat Revan berubah dingin.
Revan tidak menjawab. Pria itu kembali masuk kedalam lift diikuti Kana yang kini nampak gelisah.
"Apa sikap ku terlalu berlebihan?" guuman Kana dalam hatinya.
Mereka kembali melangkah mendekati mobil. Jika biasanya Revan akan membuka pintu untuk Kana namun kini tidak. Pria itu langsung duduk dikursi kemudi.
Kana menghela napas. Sungguh dia masih benar-benar trauma jika Revan menyentuh dirinya. Itu lah mengapa Kana bertindak implusif. Mungkin mulai saat ini Kana harus terbiasa, agar rencananya tidak gagal begitu saja.
"Maaf, jika sikap ku terlalu berlebihan," ucap Kana saat mereka sudah ada didalam mobil. Wanita itu menunduk, menampilkan ekspresi sedih.
Mendengar itu Revan menoleh kearahnya. Pria itu menghela napas. Dia memaklumi sikap Kana padanya. Hanya saja sepertinya Kana menganggap Revan bak seorang bajingan. Yah, memang Revan akui dia bersalah prihal masalalu yang membuat Kana menderita. Namun kini dia benar-benar bersungguh-sungguh ingin menebus semuanya.
"Aku tidak tahu seperti apa penilaian mu terhadap ku. Tapi semua yang aku lakukan benar-bena tulus Ren. Aku ingin menebus semua kesalahan ku pada mu. Bahkan jika mungkin, aku ingin meminang mu," ujar Revan tiba-tiba, membuat Kana mendongak karena terkejut.
Sejenak tatapan mereka bertemu. Sebelum akhirnya Revan memutuskan terlebih dahulu, pria itu kembali fokus mengemudi.
"Mungkin kamu beranggapan aku ini pria brengsek. Aku bajingan karena telah membelimu seperti seorang penghibur. Ku akui memang semua itu salah ku, Aku sudah menghancurkan hidup mu. Tapi aku bersumpah demi apapun Ren. Kamu lah wanita pertama yang ada didalam hidup ku. Aku tidak pernah dekat apalagi berhubungan dengan wanita manapun selain kamu," jelas Revan panjang lebar.
Tentu saja ucapan Revan membuat Kana tercengang. Kenyataan yang baru Revan sampaikan membuat Kana tak percaya. Mana mungkin pria tampan dan mapan seperti Revan tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Kana yakin jika Revan mengatakan itu hanya untuk membuat Kana percaya padanya.
"Aku tidak meminta mu percaya Ren. Tapi tolong jangan menolak semua niat baik ku. Jika kamu tidak ingin menerima pertanggung jawaban ku tidak masalah. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan kesungguhan ku," sambung Revan lagi.
Lidah Kana terasa kelu untuk mengatakan sesuatu. Disatu sisi ada perasaan senang mendengar pernyataan Revan. Namun lagi-lagi rasa kecewa dan dendam karena penderitaan nya selama ini membuat Kana enggan percaya dengan pria itu.
Kana memantapkan hati dan tetap meyakini niat dan tujuan nya. Dia tidak ingin percaya begitu saja, apalagi dengam mudah hanyut dalam bujuk rayu Revan.
"Beri aku waktu! Semua ini tidak mudah, aku sedang menata hidup ku kembali. Jadi tolong beri aku waktu!" ucapan yang akhirnya keluar dari mulut Kana. Dia sedang tidak bisa berfikir apapun, hanya itu yang bisa Kana sampaikan.
Sudut bibir Revan terangkat. Mendengar ucapan Kana Revan merasa masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati wanita itu. Revan akan menunggu selama apapun agar Kana mau menerima dirinya. Seiring berjalan nya waktu kebersamaan mereka, Revan yakin jika Kana akan terbiasa dengan dirinya.