One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 36. Adu Jotos



"Jangan berteriak Ren," sergah Rayan menatap wajah Kana yang memerah karena terkejut bercampur takut.


Kana membrontak, wanita itu menggigit telapak tangan Rayan, membuat pria itu mengumpat kesal.


"Shitt," umpat Rayan dengan tatapan tajam.


"Pak Rayan apa-apan sih?" tanya Kana kesal, dia tengah mencoba menormalkan detak jantungnya yang berdebar dengan kencang karena kaget.


"Kamu gila ya? Mengapa kamu menggigit tangan ku?" bentak Rayan.


"Bapak yang gila, apa maksud bapak melakukan ini?" maki Kana tak kalah kesal. Wajahnya sudah me merah napasnya pun memburu mendapati hal mengejutkan seperti ini.


Rayan tersenyum devil, pria itu melangkah maju semakin mendekati Kanaya. "Tidak usah sok jual mahal Ren. Aku tahu kalau kamu simpanan Revan? Berapa Revan membayar mu? Apa yang sudah dia berikan aku juga bisa memberikan yang lebih dari itu. Asalkan kamu mau meninggalkan dia dan menjadi simpanan ku," tawar Rayan dengan bangga.


Kana menatap tajam pria itu, Rayan benar-benar mengesalkan, baru pertama kalinya dia dihina dengan sebegini rendahnya. Seolah dirinya tidak ada harga diri. Kana tidak ingin meladeni ocehan Rayan, alhasil dia memutuskan berlalu meninggalkan pria itu. Namun belum sempat Kana keluar Rayan sudah lebih dulu menahan lengan nya. Rayan menghimpit tubuh Kana pada dinding ruang ganti itu, membuat Kana terbelalak dengan sikap Rayan yang sudah sangat kelewatan.


Plakk..


Kana mendorong tubuh Rayan dan melayangkan tamparan pada wajah pria itu. Bahkan wajah Rayan sampai menoleh kesamping sangking kuatnya tamparan Kana.


Revan menatap jam yang melingkar indah dilengannya. Pria itu mengernyitkan dahi, sudah lebih dari lima belas menit, namun Kana tidak juga menampakan batang hidungnya, membuat Revan hawatir, jadilah dia memutuskan menyusul Kana kedalam toilet.


"Kurang ajar," maki Rayan, matanya memerah mendapati perlakuan seperti itu dari Kana. Selama ini dia belum pernah diperlakuakn seperti ini oleh seorang wanita, bahkan diluar sana banyak para gadis yang ingin naik keatas ranjangnya dengan suka rela. Namun kini dia harus mendapatkan tamparan dari wanita simpanan seperti Kana, tentu saja Rayan tidak terima.


Rayan menghempaskan tubuh Kana kesisi ruangan, membuat Kana semakin takut. "Saya pastikan anda akan menyesal kalau sampai berani mendekati saya," ancam Kana.


Rayan terkekeh. "Kamu fikir aku takut," jawab nya dengan santai sembari terus berjalan mendekati Kana.


Kana beringsut mundur, tubuhnya gemetar sangking takutnya. Dia teringat akan malam kelam antara dia dan Revan empat tahun lalu.


"Jangan munafik Ren, kamu suka uang kan? Aku akan memberikan lebih dari yang Revan berikan pada mu, kamu tidak perlu bekerja diperusahaan ku, cukup menghangatkan ranjang ku saja," ucap Rayan lagi.


"Tolong jangan mendekat Yan," mohon Kana, mereka berada diruang ganti yang terletak diujung, hampir tidak ada orang berlalu lalang disana.


"Tol-" Rayan kembali membekap mulut Kana saat wanita itu hendak berteriak.


Air mata Kana mulai mengalir deras, sekuat apapun dia melawan, nyatanya kekuatan Rayan berkali-kali lebih kuat dari pada dirinya. Rayan bahkan hampir menempelkan bibir mereka.


Braarrkk..


"Brengsek," maki Revan, pria itu mencengkram kerah kemeja Rayan, menghajar wajah adik tirinya dengan membabi buta, membuat Kana semakin tersedu.


Tidak lama petugas keamanan Hotel datang kesana, mengamankan Revan dan Rayan yang masih terus saja adu jotos.


"Stop," seru petugas keamanan memaksa menghentikan Revan karena wajah Rayan sudah sangat babak belur.


Napas Revan terengah, dia masih belum puas menghajar wajah Rayan. Revan pikir Rayan sudah mencium Kana, Karena tadi posisi Rayan memunggungi pintu, sehingga Revan mengira jika adik tirinya itu sudah mencium bibir Kana.


Kana menangis disudut ruangan. Tubuhnya gemetar karena takut yang teramat sangat. Dia begitu takut saat Rayan menyentuh tubuhnya.


"Tapi pak." Salah satu petugas itu nampak ragu-ragu.


"Jangan hawatir, kami akan menyelesaikan urusan ini secara pribadi." Revan paham apa yang tengah kedua petugas itu pikirkan.


Setelah menimbang-nimbang, kedua petugas itu membawa Rayan melalui lift kehusus pegawai. Mereka tidak ingin sampai berita ini menyebar keluar, sudah tentu itu akan menjatuhkan nama baik Widjaya group.


Revan berjalan menghampiri Kana, pria itu begitu sakit melihat Kana menangis tersedu seperti ini. Semua ini salahnya, harusnya Revan lebih waspada. Jika saja dia tidak membawa Kana masuk dalam Eigle, Rayan pasti tidak akan mengenali Kana dan tidak mungkin melecehkan wanita itu seperti ini.


"Maafkan aku Ren!" Revan berjongkok, pria itu melepaskan jasnya dan memberikan pada Kana.


Kana mendongak, tatapannya bertemu dengan Revan, air matanya semakin mengalir deras, entah mengapa tiba-tiba saja Kana ingin memeluk Revan.


"Aku takut Van," tangis Kana semakim pecah dalam pelukan Revan. Revan cukup terkejut, dia tidak menyangka jika Kana tiba-tiba memeluk dirinya dengan suka rela. Musibah ini seperti mukzijat untuk Revan.


Alhasil kini Revan mengusap punggung Kana dengan lembut. "Jangan takut Ren, aku disini, aku akan melindungi kamu dari siapapun." Revan membantu Kana berdiri, merapihkan penampilan wanita itu dan menuntun nya keluar.


"Apa ada lift lain?" tanya Revan pada salah satu petugas yang masih berdiri tidak jauh dari sana.


"Lewat sini pak," wanita muda itu menunjukan lift yang dikhususkan untuk karyawan.


"Tolong pesankan saya kamar President Suite," pinta Revan pada petugas itu, tentu wanita muda itu mengangguk patuh dan ikut bersama Revan dalam satu lift.


Hanya suara isak tangis Kana yang menggema didalam lift itu. Kana menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Revan, Kana tidak ingin ada orang yang mengenali dirinya.


Tringg..


Pintu lift kembali terbuka tepat dilantai satu, petugas Hotel tadi berlalu menuju meja resepsionis untuk memesan kamar dan meminta cardlock.


"Mari saya antar pak." Wanita itu kembali menghampiri Revan dan memintanya masuk kedalam lift lain.


Kana yang masih syok hanya diam saja tidak mengatakan apapun. Bahkan dia sama sekali tidak protes saat Revan memesan kamar.


Petugas itu membuka pintu kamar President Suite. Kamar Hotel dengan fasilitas terbaik.


"Silahkan masuk tuan, ini cardlock nya," ucap petugas itu.


Revan memberikan beberapa lembar uang kepada wanita itu, dan dia menyambut dengan gembira.


Revan masih merangkuh bahu Kana, pria itu menuntun Kana masuk kedalam kamar Hotel setelah menguncinya, dan membawa Kana duduk diatas ranjang.


Pandangan Revan begitu dalam menatap wajah Kana yang sembab. Tangannya terulur mengusap keringat dan air mata yang masih terus saja menetes. "Jangan menangis lagi Ren. Aku semakin merasa bersalah melihat kamu bersedih seperti ini."


Kana mendongak membuat tatapan mereka kembali beradu. Jantung Kana berdebar kencang, entah perasaan apa yang kini tengah menghampiri dirinya.


"Menikahlah dengan ku Ren! Mungkin aku bukan laki-laki pertama dalam hidup mu, aku juga bukan laki-laki yang baik dan bukan dari kalangan berada. Namun aku berjanji akan memberikan seluruh hidupku pada mu, aku akan melakukan apapun untuk kamu. Tolong izinkan aku menebus segalanya." ucapan Revan benar-benar tulus, meski mereka belum lama mengenal, namun perasaan nya sudah sangat yakin untuk meminang Kana dan menjadikan wanita itu pendampingnya.


Sebenci apapun, sekuat apapun Kana berusaha, namun sepertinya dia tidak mampu melawan pesona Ayah kandung putranya itu. Nyatanya dalam hati Kana menyimpan sedikit kekaguman pada Revan. Pertemuan yang sengaja Kana rencanakan, namun Kana juga yang harus kalah karena tidak mampu menahan godaan pria itu. Tidak bisa dipungkiri, wanita manapun pasti akan menganggumi Revan.