One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 28. Terpesona



Tok.. Tok.. Tok..


Revan mengetuk pintu apartemen Kana. Namun sudah lebih dari lima belas menit tidak juga ada sahutan dari dalam. Pria tampan itu kembali kedalam apartemen nya, mengambil ponsel untuk menghubungi Kana.


Dering ponsel mengudara, memekikan telinga wanita cantik yang baru saja keluar dari kamar mandi. Kana mengernyitkan dahi, saat nama Revan terpampang pada layar ponsel yang pria itu berikan.


"Untuk apa dia menelpon?" batin Kana. Dia bergegas menjawab panggilan telpon itu.


"Hallo," sapa Kana.


"Apa kamu tidak didalam Ren?" tanya Revan yang sudah kembali berdiri didepan pintu apartemen Kana. Dia membawa makanan untuk mereka santap bersama.


"Ahh, aku baru saja mandi. Apa kamu ada didepan Van?" tanya Kana.


"Iya, aku didepan," jawab Revan.


Kana berjalan menuju pintu apartemen dengan hanya memakai bathrobe dan handuk yang masih menggulung rambut. Tentu akan memakan waktu lama jika dia harus mengganti pakaian terlebih dahulu.


Ceklek..


Pintu apartemen itu terbuka. Pandangan Revan langsung tertuju pada Kana yang berdiri diambang pintu. Wajah ayunya membuat Revan kembali terhipnotis. Wanita itu hanya mengenakan bathrobe yang membungkus tubuhnya. Tentu saja sebagai pria dewasa Revan hanya bisa menelan air liurnya. Melihat pemandangan yang menggoda iman.


Begitupun dengan Kana, dia sempat terdiam beberapa detik melihat Revan yang nampak berbeda. Mungkin karena pria itu mencukur jambangnya, sehingga Revan terlihat jauh lebih muda.


"Apa kamu hanya akan berdiri disana Van?" Kana menautkan alis nya, mencoba bersikap biasa dan tidak terpesona oleh Revan.


Kesadaran Revan kembali. Pria itu melangkahkan kaki memasuki apartemen Kana. Aroma vanila yang lembut menyeruak diindera penciuman Revan.


"Tunggu sebentar." Kana berlalu masuk kedalam kamarnya. Wanita itu mengenakan pakaian dan kembali keluar menghampiri Revan yang tengah duduk didepan TV sembari menyiapkan makanan yang dia bawa.


"Kamu membawa makanan Van?" tanya Kana yang sudah duduk diujung sofa.


"Iya, aku tahu kamu belum makan, dan kebetulan aku juga belum makan. Mari kita makan bersama!" ucap Revan mengintruksi.


Kana mengangguk. Dia bangkit menuju dapur mengambil piring dan sendok. Saat masuk keapartemen itu semua prabotan sudah tersusun rapih. Bahkan kulkas pun sudah terisi dengan berbagai minuman dan makanan. Revan benar-benar mempersiapkan semuanya dengan baik.


Kana meletakan piring yang dia bawa keatas meja, dan kembali duduk ketempat semula.


"Kenapa duduk begitu jauh Ren? Kemarilah! ini buatan ku sendiri," jelas Revan, membuat Kana tersentak kaget. Tentu saja dia merasa tidak percaya dengan apq yang Revan katakan. Mana mungkin Revan bisa memasak. Sedangkan Kana yang seorang wanita saja tidak bisa membuat masakan selain mie instan.


Revan menyendokan nasi, sayur serta lauk yang ia bawa. Pria itu memberikannya pada Kana. "Cobalah! Maaf jika tidak sesuai selera mu," ucap Revan merendah.


Biasa hidup jauh dari sang Mama membuat Revan mau tidak mau harus terbiasa mengurus segala sesuatunya sendiri. Termasuk membuat makanan. Bukan hanya pandai dalam bisnis. Namun Revan juga lihay dalam semua hal.


Kana mengernyitkan dahi. Dia begeser sedikit mendekat mengambil alih piring yang Revan berikan. Ada perasaan ragu dalam diri Kana. Bagaimana pun Kana harus bersikap waspada. Bisa saja Revan memberikan obat pada makanan itu, seperti yang Dara lakukan dulu.


Kana mulai menyendokan makanan itu kedalam mulut nya. Rasa masakan yang Revan buat begitu enak, bahkan mungkin Kana pun tidak akan bisa membuat makanan seperti itu.


"Enak," puji Kana sungguh-sungguh.


Revan tersenyum. Pria itu ikut menyendokan nasi dan lauk kedalam piring lain, dan mulai menyantap makanan itu. "Aku terbiasa memasak sendiri," jelas Revan ditengah-tengah makan malam mereka.


Kana mendongak, menatap Revan yang hanya nampak dari samping. Dia tidak tahu siapa Revan sebenarnya. Yang Kana tahu jika Revan adalah laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya. Namun melihat raut sedih pada wajah pria itu membuat Kana ingin mengetahui jati diri ayah dari Arfa itu.


"Kalau boleh tahu, kenapa kamu tidak tinggal bersama orang tua mu Van?" tanya Kana penasaran. Semua orang tahu Revan Mahardika. Namun tidak ada yang tahu siapa keluarganya. Selama ini Radit selalu menggunakan nama belakang Eigle, bukan Mahardika, itulah mengapa tidak ada yang bisa menebak jati diri Revan.


"Ibu ku tinggal di New York Ren," jelas Revan, dia tidak ingin mengatakan siapa ayahnya. Selain karena Revan tidak ingin mengakui Radit, dia juga sudah diberi peringatan oleh Tirana, agar jangan membongkar jati diirnya.


Kana menganggukan kepala. Dia tidak bertanya lebih banyak, penjelasan Revan sudah membuat Kana faham mengapa pria itu memilih tinggal diapartemen.


"Lantas mengapa kamu tidak menggunakan jasa ART Van? Bukankah itu akan memudahkan kamu? Apa lagi kamu juga bekerja," ujar Kana.


"Aku menggunakan jasa ART Ren, hanya saja mereka dia akan datang jika aku sudah pergi bekerja. Dia juga akan membersihkan apartemen ini," jelas Revan.


Kana terdiam. Sedikit banyak Kana sudah bisa menyimpulkan seperti apa Revan. Jika dilihat Revan type pria yang tertutup, namun entah mengapa Revan bersikap sangat baik padanya. Apakah yang ia lakukan benar hanya karena ingin menebus rasa bersalahnya? Atau ada tujuan lain seprti Kana. Mereka sama-sama memiliki tujuan namun hanya mereka sendiri lah yang tahu.


Kana membereskan semua perkakas setelah mereka selesai menyantap makanan malam itu. Revan masih setia duduk didepan TV, sesekali matanya bergerak awas memandangi punggung Kana yang tengah mencuci piring. Mungkin seperti inilah gambaran ketika dia sudah menikah. Hidup berdua bersama istrinya, melakukan semua aktifitas berdua. Benar-benar mimpi yang Revan inginkan.


Usai menyelesaikan tugasnya. Kana kembali menghampiri Revan. Sebenarnya Kana berharap Revan segera kembali ketempatnya. Namun Kana tidak mungkin mengusir pria itu. Sadar jika semua yang Kana miliki pemberian Revan.


"Ohya, besok kita berangkat jam berapa?" tanya Kana mengalihkan kecanggungan.


"Jam delapan aku akan datang menghampiri mu. Jika kamu ingin sarapan, kamu bisa datang keapartemen ku," ucap Revan. "Password apartemenku tanggal pertemuan pertama kita. Apartemen ini juga sama," sambung pria tampan itu.


Kana termangu. Lagi-lagi Revan membuat dirinya terkejut. Apakah benar jika selama ini pria itu mencari bahkan menunggunya. Password pun dibuat tanggal malam kelam itu. Entah apa sebenarnya tujuan Revan.


"Kamu tidak pulang?" tanya Kana. Dia malas bertanya prihal password, biarlah Revan melakukan apapun sesukanya. Itu tidak ada urusannya dengan Kana. Yang harus dia lakukan hanya menyelsaikan misinya.


"Kamu mengusir ku Ren?" Revan bangkit, ingin rasanya dia lebih lama bersama Kana, namun tentu itu hanya harapannya saja. Mana mungkin Kana membiarkan Revan tinggal diapartemennya.


Dalam hati Kana terus menggerutu. Jika tidak mengingat apa tujuan nya mendekati Revan, sudah tentu akan mecakar wajah pria itu.


Tawa nyaring keluar dari bibir Revan. Melihat Kana yang gelisah membuat Revan gemas sendiri. "Aku hanya bercanda Ren. Ini aku akan pulang, aku juga sudah mengantuk," jelasnya.


Kana hanya tersenyum tanpa menanggapi. Revan benar-benar sangat mengesalkan.


"Aku pulang ya," pamit Revan, seraya meniup wajah Kana, membuat wanita itu terpejam karena ulahnya.