
"Rena," seru Revan dari arah ruang tamu, sontak Kana tersentak dengan keberadaan Revan yang sudah masuk kedalam apartemen nya.
Kana memutuskan sambungan telepon itu dan menyembunyikan ponselnya dibawa bantal. Beruntung Revan tidak langsung menghampiri dia kedalam kamar.
Kana melangkah keluar menghampiri Revan, pandangan mereka bertemu. Kana tidak mengerti apa arti tatapan Revan pada nya. Sungguh sikap pria itu sangat sulit dimengerti.
"Ada apa Van?" tanya Kana menyadarkan Revan.
"Maaf Ren, Karena panik aku memutuskan langsung masuk. Sedari tadi aku memanggil mu tapi tidak juga ada jawaban. Kamu nggak apa-apa kan Ren?" tanya Revan.
Kana menggeleng. "Aku nggak papa Van, tadi aku lagi dikamar mandi," bohong Kana.
Raut wajah Revan nampak tidak percaya dengan apa yang Kana katakan. "Tadi aku mendengar seseorang tengah berbicara," ujar Revan lagi, membuat Kana gugup sendiri.
Kana menghela napas kasar, jangan sampai Revan terus-terusan mencecar nya. "Mungkin kamu salah orang. Bisa jadi itu penghuni apartemen sebelah yang sedang menelpon dibalkon," sahut Kana meyakinkan.
"Ohya Van, kamu ada apa kemari?" tanya Kana.
Revan menyodorkan paper bag yang dia bawa kepada Kana. "Pakai lah ini untuk nanti malam," pinta Revan.
Kana mengernyitkan dahi. Dia membuka sedikit paper bag yang dibawa oleh Revan. Sebuah kotak berwarna nude di dalamnya. "Baiklah, aku akan memakainya," sahut Kana kemudian.
Revan tersenyum. Sebenarnya dia masih ingin bertanya perihal suara yang didengarnya. Namun Revan takut Kana merasa tidak nyaman. "Ya sudah, aku kembali keapartemen ku ya," pamit Revan.
Kana mengangguk, ia mengantarkan Revan sampai keluar dari apartemen itu. Setelahnya Kana menutup pintu dan menambahkan kunci tambahan agar Revan tidak muda masuk begitu saja. Kana menyandarkan tubuhnya pada daun pintu, napas nya memburu karena gugup.
"Kenapa dia suka sekali mengagetkan aku," guman Kana, dirinya berlalu masuk kedalam kamar dan membawa paper bag yang tadi Revan berikan.
Waktu bergulir, Matahari mulai tenggelam meninggalkan peraduan. Kana menatap pantulan dirinya didepan cermin. Revan memilki selera yang baik dalam penampilan. Pria itu memberikan Kana sebuah dress berwarna hitam dengan merk terkenal. Bahkan harganya pun tidak bisa diragukan, sebuah brand luar negri yang menjadi rebutan kaum hawa. Terus terang saja selera dia dan Revan hampir memeiliki banyak kemiripan.
Kana membawa hand bag dan menyemprotkan wewangian ketubuhnya. Tidak lupa Kana memasukan ponsel yang Revan berikan dan menyembunyikan ponselnya sendiri. Terdengar suara ketukan dari luar apartemennya. Kana kembali bercermin dan melangkah keluar.
Ceklek..
Revan berdiri memunggungi pintu, namun tidak lama dia berbalik. Pandangannya menelisik penampilan Kana dari atas hingga bawah. Sebuah gaun berwarna hitam yang sangat indah melekat ditubuh Kana. Revan bahkan tidak henti terus memandangi wanita itu. Menurut Revan penampilan Kana malam ini terlihat berkali-kali lebih cantik dari biasanya. Revan yakin jika sebelumnya Kana berasal dari keluarga berada.
Tatapan Revan kembali tertuju pada wajah ayu Kana. Tiba-tiba saja dirinya menjadi salah tingkah, ini untuk pertama kali dia makan malam dengan seorang wanita. Mungkin Kana hanya menganggap ini sebuah syarat dan alasan agar Revan memaafkan nya. Namun terus terang saja, tujuan Revan melakukan ini karena dia ingin mengajak Kana berkencan, namun tentu dia tidak tahu bagaimana cara memulainya. Beruntung kesempatan baik membuat Revan memiliki alasan meminta Kana makan malam bersama.
Penampilan Revan malam ini membuat Kana tak mampu beralih dari wajah tampan nya. Mungkin Revan sengaja memberikan gaun ini pada Kana, agar mereka bisa mengenakan pakaian dengan warna yang sama seperti pasangan couple disebuah serial TV. Siapapun orang yang melihat mereka pasti akan mengira jika Kana dan Revan sepasang kekasih.
"Baju ini sangat cocok untuk mu Ren, kamu sangat cantik," puji Revan dengan tulus.
Kana tersenyum. "Pakaian itu juga sangat cocok dengan mu Van. Kita seperti sepasang kekasih," ujar nya.
Dalam hati Revan mengaminkan ucapan Kana, dia berharap hubungannya dan Kana bisa memiliki kemajuan. Revan hanya ingin Kana memaafkan dan mau menerima pertanggung jawaban nya. "Sepertinya ita memang cocok menjadi pasangan Ren!" goda Revan.
Kana hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Revan menuju lift. Detak jantung Kana berdebar tak menentu, kemarin-kemarin dia masih bisa bersikap biasa, namun entah mengapa malam ini Kana gugup hanya karena mendengar candaan Revan. Jika hal seperti ini terus berlanjut tentu ini tidak baik untuk rencana yang sudah dibuatnya.
Mobil yang mereka tumpangi melaju membela jalanan Ibu Kota Jakarta. Seperti biasa jalanan dikota itu selalu terkenal dengan kemacetannya, entah itu pagi, siang atau bahkan malam sekalipun. Selama perjalanan kedua anak manusia itu saling diam tanpa ada yang membuka percakapan. Jujur saja keduanya sama-sama tengah gugup. Sebelumnya mereka tidak memiliki pengalaman seperti ini dengan lawan jenis. Revan yang dingin dan selalu gila kerja tanpa memikirkan wanita, dan Kana yang sibuk menyelesaikan study serta mengurus anak semata wayangnya.
Sesekali ekor mata Kana melirik Revan yang tengah fokus mengemudi. Ingin rasanya Kana memaki dirinya sendiri, karena tidak henti terus memperhatikan revan dan memuji dirinya. Wajah Revan yang tampan begitu mirip dengan Arfa putranya, entah seperti apa reaksi evan jika tahu mereka memiliki putra. Apakah REvan bisa menerima keberadaan Arfa.
Kana jadi berandai-andai, mungkin jika mereka kembali dipertemukan dan Revan bukan tangan kanan Eigle, Kana bisa mempertimbangkan lamarannya tempo hari. Namun tentu itu hanya sebuah angan-angan, mungkin Revan akan terkejut dan sangat kecewa jika tahu siapa dia sebenarnya dan apa tujuan Kana datang mendekati Revan.
Kana menghela napas, Untuk apa dia jadi memperdulikan perasaan Revan, dia kembali meyakinkan diri untuk tetap fokus pada tujuannya semula. "Jangan tergoda Kana Dhanijaya," batin Kana.
Mobil itu mulai memasuki area Hotel Mewah, Kana tahu betul jika Hotel yang mereka datangi masih dibawah naungan Perusahaan Widjaya group. Entah mengapa Revan membawanya ke Hotel itu.
Revan menghentikan mobil nya tepat didepan Lobby Hotel, pria itu berlari kecil mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Kana. Revan mengulurkan tangannya, berharap Kana mau menyambut uluran tangan itu. Bak gayung bersambut, Revan seperti mendapat jackpot saat Kana tersenyum dan menyambut uluran tangannya.
Mereka berjalan bergandengan memasuki Hotel. Revan memberikan kunci mobilnya pada petugas Hotel yang ada didepan Lobby. Banyak mata menatap kagum pada mereka. Revan dan Kana terlihat seperti pasangan yang sangat serasi, membuat semua orang yang melihat iri kepada mereka.
Dari kejauhan seorang pria menatap tidak suka kepada Kana dan Revan. Sharian dia sibuk mencari tahu siapa Kana sebenarnya, namun sial tidak satupun info yang bisa dia dapatkan. Rayan hanya tahu dimana tempat tinggal Kana, dan ternyata wanita cantik itu tinggal dilingkungan yang sama dengan Kakak sulung nya.
"Rena, siapa kamu sebenarnya?" guman Rayan dengan tatapan tajam menatap Revan dan Kana.