One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 25. Posisi Yang Tidak Menguntungkan



Kana bergegas mengganti pakaian dan menyembunyikan ponselnya. Selama ada Revan tentu Kana tidak akan mengeluarkan ponselnya sendiri. Sudah tentu Revan akan curiga jika sampai tahu Kana memiliki ponsel lain.


Wanita cantik itu duduk didepan teras, sengaja menunggu kehadiran Revan disana. Tidak lama orang yang dia tunggu pun tiba. Revan terlihat tampan dengan setelan jasnya. Kana sampai termangu, namun wanita itu segera membuang fikiran nakal nya.


"Rena," sapa Revan dengan lembut. Sorot matanya memancarkan kerinduan yang dalam.


Kana bangkit. Wanita itu menyambut kehadiran Revan dengan senyum manisnya. Entahlah, tiba-tiba saja Kana ingin membuat Revan bertekuk lutut padanya.


"Van," sapa Kana tidak kalah manis, membuat denyut jantung Revan berdetak dua kali lebih cepat.


Kana mempersilahkan Revan duduk diatas kursi plastsik yang ada didepan teras. Dia tidak ingin meminta Revan masuk, selain karena tidak ada kursi, Kana juga merasa tidak nyaman jika harus berduaan didalam ruangan bersama Revan.


"Apa kaki mu sudah membaik Ren?" tanya Revan memastikan.


Kana mengangguk. "Yah, ini hanya luka kecil," sahut nya.


Kembali terjadi kecanggungan. Mereka saling diam dengan fikiran masing-masing.


"Ini aku membawa makanan untuk mu Ren!" Revan menyerahkan box makanan yang ia bawa. Tentu saja dengan senang hati Kana menyambut pemberian Revan.


"Trimakasih," ucap Kana.


"Ohya, kamu bilang ada yang ingin dibicarakan soal pekerjaan?" sambung Kana.


Revan mengangguk. "Mulai besok kamu sudah bisa berkerja bersama ku!" jelas pria tampan itu.


"Jika boleh tahu. Apa pekerjaan mu?" tanya Kana pura-pura tidak tahu. Tidak mungkin Kana menerima saja tanpa menanyakan pekerjaan Revan. Pastinya Revan akan curiga.


"Aku hanya staf biasa disebuah perusahaan," jelas Revan.


"Lantas aku akan bekerja sebagai apa?" tanya Kana.


"Asisten ku," jelas Revan, membuat Kana termangu, wanita itu bahkan sampai menatap tak percaya dengan apa yang Revan katakan.


"Hah, kamu serius? Aku tidak memiliki bakat menjadi asisten. Apa lagi disebuah perusahaan. Aku juga tidak mempunyai berkas-berkas untuk mendaftar menjadi asisten mu," seloroh Kana.


Revan menatap wajah Kana. Sudut bibirnya terangkat, melihat Kana dengan jarak sedekat ini membuat Revan semakin jatuh hati. "Sudah aku katakan Ren, kamu hanya harus siap dan jangan menolak! Urusan lainnya biarkan aku," tekan Revan.


"Tap-tapi.."


"Aku mohon. Terima tawaran ku, anggap aku melakukan nya untuk menebus kesalahan ku," potong Revan.


Kana terdiam, meski mulut nya menolak, namun tentu itu yang Kana harapkan. Jika ia duduk sebagai asisten Revan, berarti dia akan selalu mendampingi pria itu, dan tentu hal itu akan memudahkan Kana menjalankan misinya.


"Apakah tidak papa jika aku menerima tawaran mu?" Kana mendongak, tatapan nya begitu teduh menggetarkan hati Revan. Menurut Revan Kana begitu polos, entah apa yang wanita itu lakukan selama hampir empat tahun menjalani harinya.


Tiba-tiba saja Revan mengambil tangan Kana. Pria itu menggenggam nya dengan erat. Matanya memancarkan ketulusan.


"Percaya pada ku," sarkas Revan meyakin kan.


Ingin rasanya Kana menghempaskan tangan yang telah menyentuhnya tanpa izin. Namun lagi-lagi suara batin nya meminta Kana untuk tetap tenang dan menahan diri.


Hampir selama dua jam mereka berbincang-bincang. Revan terus berusaha membujuk Kana untuk pindah dari kontrakan itu. Selain karena lokasinya yang cukup jauh dari perusahaan. Revan juga tidak yakin jika kontrakan seperti itu aman ditempati Kana. Siapa yang bisa menjamin tidak ada laki-laki hidung belang yang akan datang kesana.


Dengan terpaksa pada akhirnya Kana menuruti permintaan Revan. Wanita itu mengemas semua barangnya. Sebenarnya hanya ada satu koper disana, itupun hanya terisi dua lembar pakaian, dan beberapa buku.


Kana meminta Revan tetap menunggu diluar selagi dia membereskan barang-barangnya. Tidak lupa Kana memberi kabar kepada Anton untuk jangan menemui dia selama beberapa hari kedepan. Untuk urusan Papanya, Kana akan menjelaskan sendiri.


Wanita cantik itu menyeret kopernya keluar. Terlihat sudah ada Revan berdiri diambang pintu menunggu dirinya.


"Sudah?" tanya Revan seraya mengambil alih koper Kana.


Kana mengangguk. "Tidak usah! Biar aku sendiri yang membawa kopernya," tolak Kana, namun Revan tetap memaksa membawa koper Kana dan berjalan mendahului wanita itu.


Helaan napas Kana terdengar berat. Sikap Revan yang pemaksa membuat Kana kesal sendiri. Andai dia sedang tidak menjalankan misi sudah tentu Kana akan memaki Revan.


Revan meletakan koper itu didalam bagasi. Pria tampan itu sudah berdiri disamping badan mobil, membuka pintu untuk Kana.


"Seharusnya anda tidak perlu repot-repot seperti ini," tekan Kana.


Revan tersenyum. "Sama sekali tidak repot nona," sahut nya dengan nada suara menggoda.


Sepanjang perjalanan Kana hanya diam saja. Dia hanya berbicra seperlu nya, itupun jika Revan bertanya pada Kana. Kana tidak tahu kemana Revan akan membawanya.


Kana mengerinyitkan dahi ketika mobil itu berbelok disalah satu Mall terbesar di Jakarta. "Mengapa kita kemari?" tanya Kana heran, pandangannya menelisik kiri dan Kanan saat Revan memarkirkan Mobilnya di basement Mall.


"Ayo turun," ajak Revan tanpa menyahut ucapan Kana.


"Hah.. Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?" grutu Kana dalam hatinya.


Pada akhirnya wanita cantik itu ikut turun. Revan mengulurkan tangannya, berharap Kana mau menyambut tangan itu. Namun ternyata Kana tak menanggapi, dia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Revan.


Revan tersenyum samar, sikap Kana membuat Revan semakin menyukai dirinya.


"Dasar pria mesum tidak tahu diri, apa maksud nya seperti itu," guman Kana lirih seraya berjalan menuju lift.


Hanya ada mereka didalam lift itu. Namun tidak lama sekumpulan remaja mengenakan seragam sekolah berbondong-bondong memasuki lift. Membuat Kana dan Revan terpojok disisi lift.


Kana menghela napas dalam. Posisi yang sama sekali tidak menguntungkan untuk Kana, dimana dia dan Revan berada pada jarak yang sangat dekat. Bahkan Kana bisa mencium aroma parfum yang Revan kenakan.


Aroma maskulin menyeruak masuk diindera penciuman Kana. Begitupun dengan Revan, ia sampai berkali-kali menahan napas, saat aroma parfum Kana yang begitu lembut menyambangi penciuman Revan, dan itu benar-benar membuat Revan terhinoptis.


Revan melirik wajah Kana yang nampak menunduk, mungkin wanita itu tidak nyaman ada pada posisi seperti ini.


Tidak lama lift itu berhenti. Kana fikir rombongan remaja itu akan turun, namun ternyata ada beberapa orang lagi yang masuk kedalam lift, membuat Kana dan Revan semakin terhimpit.