
Revan baru terjaga saat Matahari sudah berada diperaduan. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, dimana dia sangat sulit tidur. Malam ini tidurnya begitu nyenyak, bahkan dia pun tidur pulas setelah aktifitas panas semalam.
Mengingat itu Revan tersenyum simpul, tangannya terulur meraba sisi ranjang. Pria itu langsung terduduk manakala tidak mendapati Kana disampingnya. Kenangan empat tahun lalu dimana Kana pergi begitu saja membuat Revan panik. Pria itu turun dari ranjang seraya terus menyerukan nama Kana.
"Ren, Rena," seru Revan sembari berjalan menuju toilet.
Tidak mendapati siapapun disana Revan lantas memakai celananya dan mencari Kana keluar. Revan kembali memutuskan masuk saat dering ponselnya menggema keseluruh penjuru ruangan.
"Itu pasti Rena." Revan berjalan cepat mencari ponselnya, dia masih berfikir positif jika mungkin saja Kana pergi karena ada kepentingan mendadak.
"Shitt, dimana ponsel ku," maki Revan seraya mengacak-acak ranjang.
Mata Revan terbelalak mendapati ponsel yang ia berikan pada Kana tergeletak dibawah bantal dimana semalam Kana tertidur.
"Rena." Revan mengguman, tubuhnya melemas membayangkan jika Kana pergi lagi dari hidupnya.
Ponsel Revan kembali berdering, dia masih berharap itu panggilan dari Kana, dengan semangat Revan kembali mencari ponselnya, pria itu berjalan menuju sofa menggambil jasnya.
Dengan penuh harapan Revan mengambil ponsel itu. Pria itu luruh kebah saat apa yang diharapkan tidak sesuai. Berharap Kana yang menghubungi nya, namum ternyata sang Papa disana.
Revan menghela napas, dengan malas pria itu menggeser layar ponselnya keatas.
"Halo," sapa Revan dengan nada datar.
"Dimana kamu, sudah dari semalam Papa menunggu kedatangan mu Van, apa yang sebenar nya sedang kamu lakukan? Cepat datang kerumah sakit, Rayan sudah siuman, Papa butuh penjelasan dari mu!" Perintah Radit pada putra sulung nya.
Revan melemparkan ponselnya kesembarang arah. Pandangan nya nanar menatap langit-langit kamar Hotel. "Dimana kamu Ren? Kenapa kamu pergi lagi?" batin Revan dipenuhi banyak pertanyaan.
Dia tidak perduli jika Radit atau Tirana akan mengusir apa lagi memaki dirinya. Yang Revan butuhkan saat ini hanya kehadiran Kana.
"Apa salah ku Ren? Apa kamu marah dengan perbuatan ku? Jika akan membuat kamu pergi lagi, kenapa semalam kamu tidak menolak perlakuan ku Ren?" Sudut mata Revan mengeluarkan air mata.
Kecewa, itu yang saat ini dia rasakan. Mungkinkah Kana menyesal karena perbuatan mereka semalam. Itu sebabnya Kana memutuskan pergi begitu saja tanpa pesan seperti empat tahun lalu.
Lama Revan terdiam menyesali perbuatannya. Harusnya dia bisa mengontrol diri, bukannya malah melecehkan Kana seperti semalam. Benar jika penyesalan selalu datang diakhir, andai sebelumnya sudah ada peringatan, sudah tentu Revan tidak akan melakukan ini pada Kana.
Pada akhirnya Revan harus kembali merasakan kehampaan seperti empat tahun lalu. Pria itu memutuskan bangkit, tidak ada gunanya berdiam diri didalam kamar Hotel. Dia harus mencari Kana dan menyelesaikan urusannya dengan Rayan.
Perlahan Kana mulai mengerjapkan mata. Saat sampai diHotel subuh tadi Kana langsung tertidur, dan baru terbangun saat mendengar dering ponselnya.
Tangannya terulur meraba sisi nakas. Kana segera menjawab panggilan telpon itu saat nama Yasmin terpampang disana.
"Halo Tan," sapa Kana dengan nada serak.
"Hei sayang, apa kamu masih tidur An?" tanya Yasmin.
Kana terduduk, wanita itu meregangkan otot leher yang terasa kaku. "Udah dari tadi kok tan. Ohya, gimana kabar tante Yasmin?" tanya Kana.
"Baik An, beberapa waktu lalu migrain tante sempat kambuh, tapi sekarang sudah sembuh kok," jelas Yasmin.
"Dia masih tidur An," jawab Yasmin.
"Tan, gimana kalau tante dan Arfa datang ke Indonesia, tante urus berkas kepindahan tante dari New York kemari!" pinta Kana.
Yasmin terdiam, sebenarnya dia berat meninggalkan New York, namun dia juga tidak tega pada Arfa, anak itu sering sekali menanyakan Kana. "Tapi bagaimana dengan Arfa?" tanya Yamin hawatir, dia takut Kakak iparnya kembali kambuh jika tahu Kana sudah memiliki anak.
"Biar itu menjadi urusan Kana, yang penting tante dan Arfa datang dulu kemari. Kita bisa meyakinkan Papa dan memberi tahu jika Arfa anak angkat tante. Nanti setelah waktu nya tepat, Kana akan jujur pada Mama dan Papa," ucap Kana mengiterupsi.
Tentu Yasmin membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan usulan Kana. Tapi sebagai orang tua, dia juga tidak ingin egois, mungkin ini memang sudah saat nya dia kembali kenatah kelahirannya.
"Jika memang ini sudah menjadi keputusan mu, maka tante akan menuruti. Tante akan mengurus semuanya. Tapi mungkin tidak secepat itu, apa lagi mengurus kepindah negaraan tidak mudah," sahut Yasmin.
Kana tersenyum, dia sudah tidak lagi bisa berjauhan dari Arfa, dan akhirnya tantenya mau mengalah untuk kembali ke tanah air. Kana begitu bersyukur memiliki tante seperti Yasmin, karena wanita itulah sampai saat ini Kana bertahan melewati semuanya.
Panggilan itu berakhir setelah Yasmin menyetujui usulan Kana. Kemungkinan dua pekan atau bahkan bisa lebih, Yasmin dan Arfa datang ke Jakarta.
Kana kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang Hotel. Pandangan nya lurus menatap langit-langit kamar, baru tadi malam dia dan Revan melewati malam panas untuk yang kedua kalinya. Dan kini mereka sudah kembali seperti orang yang tidak mengenal. Saat ini Kana hanya akan fokus mengurus perusahaan dan menunggu kedatangan Arfa.
Toh sebentar lagi pengajuan tander Villa di Bali akan dimulai, Kana harus bisa mengajukan proposal sebelum Eigle, lagi pula dia sudah mendapatkan salinan proposal yang Revan buat. Bisa kemungkinan jika Widjya group akan menang.
"Maaf kan aku Van. Anggap lah ini sebagai permintaan maaf mu pada Papa ku dan anak mu," batin Kana.
Usai mebersihkan diri Revan memutuskan keluar dari Hotel itu. Namun seperti empat tahun lalu, pria itu mendatangi meja receptionis terlebih dahulu, barang kali ada yang melihat Kana pergi dari sana.
Revan memberikan cardlok kamar Hotelnya pada petugas Hotel. "Apa kalian melihat wanita yang semalam datang bersama ku?" tanya Revan.
Kedua wanita yang duduk dibalik meja receptionis saling tatap, mereka baru saja bertugas pagi ini, tentu mereka tidak tahu wanita yang Revan maksud.
"Maaf pak, semalam bukan sift kami, jadi kami tidak tahu wanita yang bapak maksud," timpal salah satu wanita itu.
Revan berlalu keluar setelah mendengar jawaban petugas Hotel itu. "Kemana sebenarnya kamu Ren?" batin Revan nelangsa.
Revan memberikan kunci mobilnya pada salah satu petugas yang ada didepan lobby. "Tolong ambilkan mobil saya," pinta Revan seraya menyodorkan beberapa lembar uang.
Petugas hotel itu menerima kunci dan uang yang Revan berikan, lantas berlalu menuju bastman Hotel.
Samar-samar rungunya mendengar percakapan dua petugas Hotel yang tengah menikmati kopi mereka didepan lobby.
"Buset, tadi pagi saya nganter cewe cantik banget. Dia ngasih saya uang 1 juta. kayaknya dia PSK deh. Beh, bodinya aduhai," ucap salah satu petugas.
"Wah, rezeki nomplok tuh, pantes muka mu sumringah. Emang minta dianter kemana?" tanya petugas lain.
"Muter-muter sih. Pertama keapartemen mewah yang ada di Senayan itu, dia minta saya nunggu, nggak lama balik lagi dan minta dianter kebunderan HI," jelas seorang petugas Hotel dengan name tag Rudi.
Revan mengernyitkan dahi. Dia merasa wanita yang tengah kedua pria itu bicarakan adalah Kana. Dengan langkah lebar Revan menghampiri dua pria tersebut.