
"Ka-kamu," ucap Revan terbata.
Sama dengan Revan, Kana pun menampilkan wajah syok walau hanya sebuah sandiwara. "Apa kita pernah bertemu sebelum nya?" tanya Kana seraya memegangi telapak kakinya yang berdarah. Dia sengaja mengijak pecahan kaca untuk menarik perhatian Revan.
Melihat telapak tangan Kana yang berdarah Revan segera mendekat, pria itu berjongkok dan mengangkat sebelah kaki Kana, membuat Kana semakin terkejut dengan sikapnya. Namun Kana hanya diam saja, dia membiarkan Revan melakukan apapun, Kana ingin tahu apa yang pria itu akan lakukan.
Tanpa Kana duga, Revan membuka kemejanya, melepaskan kaos dalam yang ia kenakan, dan mengikatkan pada kaki Kana, sontak hal itu membut Kana tercengang. Wanita cantik itu membuang pandangan nya kearah pantai, tubuh Revan yang polos memperlihatkan otot perutnya membuat Kana merinding, ingatan malam itu dimana Revan tidur disamping nya tanpa sehelai benang pum membuat Kana gemetar, namun sebisa mungkin Kana berusaha mengendalikan dirinya.
Revan segera memakai kembali kemejanya. "Kaki mu berdarah." Revan mendongak menatap wajah Kana yang berdiri tepat dihadapan nya. Wanita itu tengah menatap hamparan lautan, rambutnya tergerai indah berterbangan diterpa angin, membuat Revan semakin terpesona.
Revan masih tidak percaya,jika wanita yang kini ada dihadapanya seseorang yang selama ini dia cari. Revan merasa dirinya tengah berhalusinasi, karena tidak mungkin dia bertemu dengan wanita yang selama empat tahun ditunggunya.
"Trimakasih," ucap Kana, wanita itu tidak berani menatap wajah Revan secara langsung. Nyatanya semua tidak semudah yang Kana bayangkan, Kana fikir gampang melancarkan aksinya, namun dia sendiri yang malah merasa tegang.
Revan bangkit, tatapan nya tidak pernah lepas dari Kana, ingin rasanya Revan memeluk wanita itu, meminta maaf dengan semua yang pernah terjadi, namun Revan takut jika wanita itu malah takut karena Nya.
"Sama-sama," jawab Revan.
Suasana menjadi canggung. Kana yang selama ini tidak pernah dekat dengan laki-laki pun bingung harus memulai dari mana.
"Kaki mu terluka, lebih baik kamu duduk dulu," pinta Revan seraya menunjuk tempat dirinya tadi bersantai.
Kana mengangguk, wanita itu menuruti apa yang Revan katakan. Kana mengambil duduk diatas gazebo yang tersedia disepanjang bibir pantai. Tidak jauh darinya Revan juga ikut duduk.
"Apa kamu tidak mengingat aku?" tanya Revan setelah sedari tadi ia mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Revan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada.
Kana menoleh menatap Revan sekilas, dan kembali menatap air laut yang membentang dihadapan nya. "Tidak mungkin aku lupa, meski hanya sekilas, aku masih sedikit mengingat kamu, laki-laki yang sudah menghancurkan masadepan ku," jelas Kana pada akhirnya, mungkin dia harus mencari simpatik Revan terlebih dahulu, barulah dengan mudah Kana bisa menjerat nya, jika dia bersikap jual mahal, Kana takut Revan akan sulit didekati.
Jlebb...
Ucapan Kana seolah menampar Revan. Terlihat dengan jelas wajah sendu wanita cantik itu. Sungguh Revan tidak pernah berniat menghancurkan kehidupan siapapun, andai malam itu Revan tidak mudah percaya begitu saja dengan gadis dimalam itu. Mungkin kini tidak akan terjadi penyesalan diantara keduanya.
Sebanyak apapun kata maaf yang keluar dari bibir Revan tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti dulu. Namun bukankah masih ada kesempatan untuk menebus semua kesalahan nya, Revan tidak ingin dihantui rasa bersalah seumur hidup. Entah dengan uang atau hiudpnya, Revan rela bertanggug jawab.
"Maaf, mungkin kata maaf tidak bisa mengembalikan keadaan mu seperti dulu, tapi izin kan aku meminta maaf dengan tulus. Aku bersumpah demi Ibu ku, jika aku tidak pernah berniat menghancurkan kehidupan mu," jelas Revan seraya menundukan kepalanya.
"Aku memang brengsek dan bajingan, tapi sungguh aku tidak berniat melakukan itu padamu. Andai malam itu teman mu tidak menawarkan kamu pada ku, mungkin aku tidak akan dengan tega melakukan itu," sambung Revan.
Kana sama sekali tidak menyahut, mulutnya terkatub rapat. Dia tidak sanggup mengingat malam itu, namun demi rencana yang sudah ia susun, Kana harus berusaha kuat.
Revan kembali melirk Kana, wanita itu sesekali mengusap kedua pipi mulusnya. Melihat itu membuat rasa bersalah semakin besar menggerogoti jiwannya.
"Selama empat tahun aku mencari keberadaan mu, bahkan aku sering menghabiskan malam-malam ku di Hotel ini, berharap kamu datang mencari ku, meminta pertanggung jawaban ku, tapi tidak pernah sekalipun aku bisa menemukan kamu." Revana menatap debur ombak yang menepi dibibir pantai. Dia tidak sanggung melihat raut kesedihan diwajah Kana.
"Selama empat tahu aku juga sedang berusaha membangun kembali hidup ku yang sudah hancur, diusir oleh orang tua, bahkan dijauhi sahabat-sahabat ku," bohong Kana.
"Hidup ku begitu menderita, aku tidak memiliki apapun dan siapapun," ujar Kana penuh kesedihan, membuat Revan terhenyak. Begitu besar dampak perbuatan nya dulu kepada wanita cantik itu.
"Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?" pertanyaan yang sedari dulu sudah Revan siapkan jika bertmu dengan Kana.
Kana menatap Revan sekilas. "Rena," bohong Nya.
"Jadi nama mu Rena!" Revan mengulang nama Kana, dalam hati Revan merasa beruntung karena kembali dipertemukan dengan Kana, setidaknya dia bisa mempertanggung jawabkan perbuatan nya.
"Rena, sebanyak apapun aku membela diri, kenyataan nya aku memang bersalah, aku pria brengsek dan pecundang! Aku tidak bisa mengembalikan semuanya seperti dulu tapi izin kan aku mempertanggung jawabkan semuanya," mohon Revan.
Kana tercengan mendengar permintaan Revan. Wanita itu tengah menduga-duga, pertanggung jawaban apa yang ingin pria itu lakukan. "Tidak perlu, kamu tidak perlu bertanggung jawab, toh tidak ada yang perlu dipertanggung jawabkan, kamu sudah membayar tubuh ku bukan!" tolak Kana.
"Tolong jangan bicara seperti itu Ren, sebagai laki-laki aku akan mempertanggung jawabkan perbuatan ku," sahut Revan.
Kana terdiam, ia tengah menimbang-nimbang apa yang harus dilakuan nya. Karena sepertinya Revan pria yang sangat pemaksa. Tidak mungkin Kana meminta Revan bertanggung jawab dengan Memberinya uang, sudah tentu Revan akan menganggap Nya wanita murahan.
"Apa pun yang kamu minta, aku akan berusaha untuk menuruti," ucap Revan lagi. Dia berhapan Kana mau menerima pertanggung jawabnya.
Kana masih tidak membuka suara, pertemuan kembali itu terlalu cepat untuk mengutarakan keinginan Kana yang lainnya. Kana tidak ingin Revan curiga karenanya.
Revan menghela nafas. "Apa kamu sudah menikah?" tanya Revan memastikan.
Kana menggeleng. "Siapa yang mau menikah dengan wanita kotor seperti ku," sahut Kana kemudian.
Mendengar itu Revan semakin yakin untuk mempertanggung jawab perbuatan nya kepada Kana. Meski mereka baru saling mengenal, namun Revan sudah yakin dengan keputusan nya.
"Tolong Ren, tolong beri aku kesempatan, aku tahu kita baru mengenal, bahkan Belum ada satu hari, namum aku bersungguh-sungguh ingin mempertanggung jawabkan perbuatan bejad ku." Revan masih belum menyerah memohon agar Kana mau menerima pertanggung jawaban nya.