One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 30. Rencana Sera



"Selamat pagi Pak Rayan," sapa Sera masih dengan nada manjanya.


Sedangkan Kana hanya membungkukan sedikit badannya memberi hormat kepada laki-laki yang kini ada dihadapan mereka.


Rayan menelisik Kana dari atas hingga bawah. Wajah Kana yang cantik membuat Rayan terpana, meski Kana tidak mengenakan pakaian seksi namun itu sama sekali tidak bisa menutupi bentuk tubuhnya yang menggoda.


"Wow, Revan Mahardika ternyata seperti ini selera mu," sarkas Rayan memancing Revan agar keluar dari ruangannya.


Revan yang baru saja membuka notebook tersentak kaget saat mendengar suara Rayan. Pria itu meletakan notebook nya dan berjalan keluar, Revan takut Rayan mengatakan hal yang tidak-tidak pada Kana.


Terlihat jika Rayan tengah berjalan mengitari Kana. Tatapan nya bak induk singa yang tengah mencari mangsa. "Apa yang membawa Tuan muda Eigle kemari?" Revan menatap tajam Rayan, membuat Rayan menghentikan aktifitas nya.


Rayan terkekeh. Biasanya Revan tidak pernah memperdulikan siapapun, namun kali ini Revan langsung datang menghampiri dirinya hanya karena mendengar suara Rayan menggoda Kana.


"Hey COO kita yang paling tampan, aku hanya kebetulan lewat dan menyapa asisten baru mu," sarkas Rayan setengah mengejek.


Revan mendengus. "Rena, bisa masuk keruangan ku sebentar! Ada yang ingin ku beri tahu," ucap Revan mengintruksi. Pria itu kembali masuk kedalam ruangannya, dia sangat malas jika harus meladeni Rayan. Sudah tentu percakapan mereka hanya akan berakhir perdebatan.


Kana mengangguk. "Permisi Pak," ujar Kana seraya berlalu meninggalkan Rayan dan Sera.


"Menarik," batin Rayan, dia merasa memiliki mainan baru untuk memancing emosi Revan. Rayan yakin jika asisten baru yang Revan bawa pastilah orang yang sangat penting untuknya.


"Awasi mereka!" ucap Rayan pada Sera.


"Baik Pak," timpal Sera seraya menganggukan kepala.


"Apa yang bisa saya lakukan pak?" tanya Kana saat sudah berada didalam ruangan Revan.


Revan menghela napas. Mencoba mengontrol emosinya, Rayan selalu bisa membuat Revan kesal. Setelah ini Rayan pasti akan terus menggunakan Kana untuk memancing nya.


"Jangan pernah bicara dengan pria tadi Ren! Apapun yang dia katakan jangan di hiraukan!" tekan Revan.


Kana mengangguk. "Baik Pak," sahut Kana.


Revan mendongak menatap wajah Kana. "Pelajari semuanya! Nanti saat ada meeting kamu yang akan menemani aku," seloroh Revan.


Kana kembali mengangguk. Sebagai seorang bawahan Kana hanya bisa menuruti perkataan Revan. Dia kembali melangkah keluar menghampiri Sera yang tengah merias wajahnya. Padahal dandanan Sera sudah sangat menor. Namun wanita itu masih saja menambahkan lipstik pada bibirnya.


Baru saja Kana menjatuhkan bobot tubuhnya ketas kursi, namun Sera sudah menyodorkan tumpukam berkas kehadapan Kana. Awalnya Sera berniat membantu Kana, namun dia ingat pesan Tirana, jika harus membuat asiten Revan tidak betah bekerja disana.


"Itu tugas mu! Pelajari saja nanti siang akan ada meeting, kamu urus semua keperluan pak Revan!" titah Sera, dia sengaja mengembankan semua tugasnya pada Kana. Tidak perduli Kana bisa mengerjakan atau tidak. Sera hanya ingin membuat Kana malu dihadapan direksi. Tentu saja jika berkas yang Kana siapkan tidak benar itu akan menimbulkan kemarahan Revan.


Kana terbelalak. Dia baru mulai bekerja hari ini, mana mungkin Kana bisa mengerjakan semuanya tanpa bimbingan Sera. Apa lagi semua materi harus ia selesaikan sebelum meeting.


"Apa anda tidak salah? Bagaimana mungkin saya bisa mengerjakan ini sendiri tanpa bimbingan anda!" tekan Kana.


Sera menghentikan aktifitasnya. Wanita seksi itu menatap tajam Kana yang juga tengah menatap dirinya. "Kamu bisa masuk kemari tanpa melalui tes, itu artinya kamu mampu menjadi asisten pak Revan. Atau jangan-jangan kamu memberikan tubuh mu agar bisa duduk dikursi ini!" tuduh Sera, membuat deru napas Kana memburu karena ucapannya yang sangat mengesalkan.


Kana memutar kursi kerjanya. Wanita itu menyalakan laptop dan mulai mempelajari semua berkas-berkas yang ada dihadapannya.


"Rasakan, aku ingin lihat apa kamu bisa mengerjakan semua nya! Pasti kamu hanya akan membuat Pak Revan malu," batin Sera mencibir. Wanita itu bangkit dan berlalu meninggalkan Kana seorang diri. Masa bodoh jika Kana tidak bisa mengerjakan semuanya. Toh dia memiliki Tirana untuk membela jika nanti Revan menyalahkan dia karena tidak membantu Kana.


Kana mulai mempelajari semua berkas-berkas yang ada. Berkali-kali Kana menghela napas, dia merasa kesal dengan sikap menyebalkan Sera.


Dua jam berlalu, namun Sera belum juga kembali kesana. Entah kemana perginya wanita itu. Revan pun belum juga keluar dari dalam ruangannya.


Didalam ruangannya Tirana tengah merencanakan akal liciknya. Dia sengaja meminta Sera meninggalkan asisten baru Revan. Tirana sengaja ingin membuat Kana terkucilkan, nanti disaat meeting berlangsung pastilah wanita itu akan kebingungan, apa lagi ini hari pertamanya bekerja.


"Nanti saat meeting akan dimulai, izinlah pada Revan! terserah kamu ingin membuat alasan apa. Yang penting kamu jangan ada dikantor! Biarkan wanita itu yang menggantikan kamu untuk memberi persentase didepan direksi," ucap Tirana mengintruksi.


Berbeda dengan Tirana. Sedari tadi Rayan hanya diam saja, dia masih membayangkan wajah cantik Kana. Rayan sedang menyusun rencana agar asisten Revan itu bisa dimiliki olehnya.


Rasanya Rayan tidak bisa menahan diri jika melihat wanita cantik. Apalagi wanita yang kini sedang dia incar asisten dari Revan. Rayan yakin jika mereka memiliki hubungan tersembunyi. Revan yang terkenal dingin dan tidak menyukai wanita tiba-tiba saja memperkerjakan asisten wanita tanpa melalui HRD. Benar-benar sesuatu hal yang patut Rayan curigai.


"Rayan Eigle," bentak Tirana. Sudah berkali-kali dia menyerukan nama Reyan, namun putranya tidak juga menyahut, entah apa yang tengah Rayan fikirkan.


"Ahh, iya Mah," sahut Rayan tanpa dosa.


"Apa sih yang kamu fikiran? Dari tadi Mama menyerukan nama mu tapi kamu hanya diam saja seperti patung," kesal Tirana.


Rayan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sang Mama tidak boleh mengetahui rencana Rayan untuk meniduri Kana. Pastilah Mamanya akan memaki Rayan bahkan melarangnya melakukan hal itu.


"Rayan sedang berfikir siapa sebenarnya wanita itu Mah. Mengapa dia dan Revan terlihat sangat dekat," elak Rayan.


Tirana terdiam. Dia juga belum mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang Revan jadikan asisten. "Mama menugaskan kamu untuk mencari tahu siapa perempuan itu! Dan cari tahu dimana dia tinggal serta siapa keluarga nya! Barang kali kita bisa mengancam dia dengan keluarganya," ujar Tirana dengan akal liciknya.


Sedari pagi hingga jam makan siang Revan tidak juga menampakan batang hidungnya. Pria itu sama sekali tidak keluar atau hanya sekedar menghubungi Kana. Begitupun dengan Kana, dia bahkan tidak sempat makan siang karena harus menyelesaikan semua pekerjaan Sera yang dilimpahkan padanya.


Tepat pukul dua siang Revan keluar dari ruangannya. Cuti selama sepekan sudah membuat pekerjaan Revan menumpuk. Pria yang gila kerja itu bahkan tidak mengingat jika ada Kana disana.


"Rena, apa kamu sudah makan siang?" tanya Revan, wajahnya nampak hawatir.


Kana menggeleng. Selain sibuk Kana juga merasa belum lapar.


"Astaga, aku sampai lupa jika kamu sudah mulai bekerja. Maaf kan aku Ren, aku tidak memperhatikan kamu," seloroh Revan merasa bersalah.


Kana tersenyum. "Tidak apa-apa Pak, nanti setelah meeting aku akan makan siang, toh aku juga belum lapar," jelas Kana.


Revan menghela napas, sungguh dia benar-benar lupa jika ada Kana disana. Pandangan Revan menelisik sekeliling mencari keberadaan Sera.


"Dimana Sera, Ren? Apa dia sudah menyiapkan semua berkas-berkas meeting hari ini?" tanya Revan seraya melihat jam tangannya.


"Sera sudah pergi dari tadi Pak, aku juga tidak tahu dia kemana," sahut Kana.


Mendengar itu Revan tersentak kaget. Meeting akan dimulai lima belas menit mendatang, dan kini Sera pergi entah kemana.


Revan merogoh ponsel yang ada didalam saku celananya. Pria itu hendak menghubungi Sera, namun sebuah notkfikasi pesan terlebih dulu masuk. Sera tiba-tiba meminta izin.


"Banyak alasan! Benar-benar asisten tidak becus," grutu Revan namun dengan jelas Kana bisa mendengarnya.