
"Arfa, Mami pulang," seru Kana yang baru saja kembali, wanita itu tengah mempersiapkan Wisuda yang akan diselenggarakan pekan depan.
Sepulang dari Kampus Kana lansung datang menjemput putranya.
Mrs Lena yang tengah melakukan panggilan tersentak kaget. "Oh hay Kana, kamu sudah kembali nak," sapa Lena, wanita itu mengakhiri panggilan dengan putranya yang baru saja mengabarkan jika ia memenangkan sebuah Tender.
Kana tersenyum, wanita itu mengangguk dan mengambil Arfa yang tengah bermain. "Sudah Mrs, trimakasih banyak sudah menjaga putraku," ucap Kana tulus.
Mrs. lena tersenyum, kehadiran Arfa seolah menjadi penghibur dalam kesepiannya selama ini. Hampir 3 tahun lamanya Arfa berada dalam pengasuhannya, bahkan Lena sudah sangat menyayangi anak itu seperti cucunya sendiri. Terkadang jika ia memandangi wajah Arfa, dia pasti akan langsung mengingat putranya ketika bayi dulu, sangat mirip, bahkan jika putranya disandingkan dengan Arfa, pasti orang akan menganggap mereka ayah dan anak.
"Tidak perlu sungkan An, tante senang merawatnya, apa lagi saat ini dia semakin pintar," sahut Lena kemudian.
Kana menyungggikan senyum, kini Arfa memang sudah semakin pintar, diusianya yang baru menginjak 3 tahun, bocah kecil itu sudah pandai membaca dan berhitung, sangat luar biasa, membuat Kana merasa bangga, mungkin jika dulu dia tidak mendengarkan nasehati Yasmin, dia tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi Ibu diusia muda, dan menjalani hari-harinya yang sangat amat berat, 4 tahun memendam rindu tanpa pernah betemu dengan orang tuanya. Bahakan Kana selalu melarang jika orang tuanya akan berkunjung menemui dirinya.
"Oh ya, Mrs. Lena sedang menghubungi seseorang ya? Kana jadi tidak enak karena mengganggu," ucap Kana, membuyarkan semua lamunannya.
Lena terkekeh. "Tidak apa-apa nak, biasa putra ku yang selalu sibuka sedang memberi kabar," jelasnnya. Membuat Kana menganggukan kepala sebagi respon.
"Kalau begitu Kana langsung pamit Mrs, sekali lagi trimakasih banyak telah merawat Arfa dengan baik," ujar Kana, wanita itu membungkukan tubuhnya, seraya menggendong Arfa berjalan meninggalkan pekarangan rumah Lena.
Lena mengangguk. Wanita itu memandangi punggung Kana yang sudah berjalan menjauh, dia begitu kasihan melihat Kana. Diusianya yang masih sangat muda dia harus membesarkan anaknya seorang diri tanpa didampingi ayah dari anak itu. Bahkan Kana sendiri tidak tahu siapa ayah dari anak itu.
Sepeninggalnya Kana, Lena kembali menghubungi putranya."Apa tadi itu ibu dari anak yang Mama asuh?" tanya sang putra dari sebrang telpon.
"Iya, Mama sangat kasihan dengan wanita itu. Andai kamu ada disini pasti Mama akan mengenalkan mu dengan nya nak. Dia gadis yang cantik, baik hati, ramah dan lembut sekali," puji Lena, membuat sang putra terkekeh.
"Ayolah Mah, berhenti mengatakan itu," sahut sang putra, dia merasa bosan mendengarkan pujian Mama nya untuk wanita itu. Mereka kembali berbincang-bincang, dan tidak lama Lena memutuskan sambungan telpon itu karena harus pergi keminimarket.
Kana membuka pintu rumah Yasmin, sepertinya wanita itu belum kembali pulang. Karena Kana belum melihat sepatunya. Ibu dan anak itu berjalan beriringan memasuki rumah, Kana benar-benar bahagia menikmati hari-harinya. Bahkan ia sudah memutuskan ingin tetap tiggal dan bekerja disana. Kana ingin terus bersama putranya, dia tidak akan sanggup jika harus berjauhan dengan Arfa.
"Good afternoon boy," pekik Yasmin dari teras rumah, membuat Arfa berlari kecil menghampiri Yasmin.
"Hello Mother," Arfa merentangkan tangan meminta Yasmin menggendongnya. Mereka sengaja mengjarkan Arfa untuk memanggil Yasim dengan sebutan Mother, agar jika orang tuanya datang tidak merasa curiga.
"Hello Boy, ouch kesayangan Mother," Yasmin menghujani wajah Arfa dengan kecupan, membuat anak laki-laki itu terkekeh geli.
"An, kamu juga baru kembali?" tanya Yasmin yang baru saja masuk kedalam rumah.
"Iya tan, Kana sedang mempersiapkan Wisuda pekan depan," jelasnya.
"Mama mu An?" tanya Yasmin.
Kana mengangguk merespon pertanyaan Yasmin. "Kana angkat telfon Mama dulu ya tan," pamitnya sembari berlalu sedikit jauh dari Yasmin dan Arfa.
"Halo Mah," sapa Kana.
"Ka-Kana," Amanda terbata menyebut nama putri semata wayangnya. Hampir 4 tahun dia dan kana tidak bertemu, selain karena kesibukan suaminya, Kana sendiri melarang mereka datang berkunjung. Dengan alasan takut sang ayah lelah. Mereka hanya bisa melepas rindu melalui sambungan video.
Kana mengernyitkan dahi mendengar suara Mama nya yang terbata. "Hallo Mah, Mama kenapa mah?" tanya Kana panik.
"An." Amanda semakin tersedu mendengar suara putri yang amat dirindukannya.
"Mah, jangan bikin Kana panik dong! Mama kenapa sih?" Kana mulai panik karena mendengar sang Mama menangis.
Yasmin berjalan cepat menghampiri keponakannya. Dia sedikit terkejut saat mendengar Kana berteriak. Tentu saja Dia begitu penasaran dengan apa yang terjadi.
Yasmin menatap Kana sembari mengangkat sebelah alisnya meminta jawaban, namun Kana hanya mengedikan bahu, dia juga belum tahu apa yang terjadi dengan Mamanya.
"Papa masuk ruang ICU An, sakit jantung Papa kambuh," ucap Amanda lirih menahan isak tangisnya.
Kana terpaku Mendengar ucapan Mamanya, wanita itu bahkan sampai menjatuhkan ponselnya karena tekejut. Sontak membuat Yasmin semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Yasmin meraih ponsel Kana yang tergeletak diatas lantai. Melihat keponakan sudah berderai air mata. Tentu saja membuat Yasmin ikut merasa hawatir.
"Halo Kak, Sebenarnya ada apa?" tanya Yasmin.
"Mas mu masuk ruang ICU Yas," jelas Amanda, membuat Yasmin terhenyak, ia pun sama dengan Kana, sama-sama tidak menyangka dengan kabar yang baru saja didengar. Yasmin sampai berulang kali menayanyakan apa yang terjadi sangking tidak percaya nya.
Kana menghela nafas dalam, mencoba berusaha tenang agar tidak membuat Mamanya semakin panik. Kana kembali mengambil ponselnya, dan berbicara dengan Amanda lagi.
"Mah, Mama nggak bercandakan?" tanya Kana, ia yakin jika Amanda sengaja mengerjai nya, agar Kana mau kembali pulang ke Tanah Air.
"Mama nggak bercanda An, maka dari itu Mama hubungin kamu. Mama harap kamu mau kembali pulang sekarang juga. Prusahaan mengalami krisis, apa lagi tidak ada Papa. Hanya kamu satu-satunya orang yang berhak menggantikan Papa. Jadi Mama mohon kamu kembali ya sayang," mohon Amanda diiringi isak tangis.
Jantung Kana serasa diremas mendengar tangis pilu sang Mama. Kini Kana yakin jika Mamanya memang tidak sedang berbohong. Tanpa banyak bertanya, Kana mengiyakan permintaan Amanda. Dia harus segera kembali menemui kedua orang tuanya. Kana tidak ingin menyesal dikemudian hari. Mungkin ini memang sudah saat nya untuk dia kembali ke Indonesia.
"Kana akan pulang Mah, tunggu Kana," Kana menangis tersedu mengakhiri panggilan itu.