
"An, tante sudah mendapatkan pengasuh untuk Arfa," pekik Yasmin, wanita itu buru-buru menghampiri Kana.
Kana terkejut mendengar penuturan Yasmin "Secepat itu?"
"Iya, kamu tahu nggak siapa yang mau membantu kita merawat Arfa?" tanya Yasmin, semakin membuat Kana penasaran.
"Siapa?" tanya Kana akhirnya.
"Mrs Lena! itu loh yang rumah nya diujung gang," jelas Yasmin.
Kana terkesip, sedikit tidak percaya jika wanita paruh baya yang beberapa kali pernah berbincang dengan nya mau membantu mengurus Arfa. "Hah.. tante yakin Mrs Lena mau?"
Yasmin mengangguk. "Setiap pagi Mrs Lena akan datang kemari menjemput Arfa," sambungnya.
Kana merasa bersyukur, karena ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan, bahkan kini Kana bisa menyelsaikan study nya dengan tenang, meski entah akan seperti apa akhirnya nanti.
Yang Kana tahu jika Mrs Lena tinggal seorang diri, dan ia pernah bercerita jika memiliki putra yang tinggal di Indonesia, mungkin karena merasa kesepian sehingga Mrs Lena mau membantu mereka merawat Arfa.
***
"Van, bagaimana dengan pelelangan Hotel yang ada di Lombok? apa kamu sudah mempersiapkan diri agar bisa memenangkan proyek itu," tanya Radit.
"Sudah, anda tidak perlu hawatir," sahut Revan datar.
Hari yang Revan lalui terasa hampa, sulit untuknya membuka diri, bahkan sampai hampir 4 tahun ia masih berharap bisa bertemu dengan wanita itu, mungkin jika nanti mereka telah bertemu dan wanita itu sudah hidup bahagia maka Revan bisa dengan tenang melanjutkan pula hidupnya.
"Ayolah Van, sampai kapan kamu akan terus berbicara dengan nada seperti itu kepada Papa mu?" tanya Radit, pria itu mulai kewalahan menghadapi sikap putra Sulunya itu.
30 tahun lalu Radit menikahi ibu dari Revan secara sirih, dan membawanya keluar Negri agar Tirana dan keluarganya tidak mengetahui perselingkuhan itu. Radit menikahi Tirana hanya karena orang tua Tirana kaya raya, sedangkan ibu dari Revan cinta pertamanya sedari mereka remaja dulu.
Dua tahun setelah menikah dengan Tirana wanita itu belum juga mau mengandung, dengan alasan takut melahirkan dan lainnya, membuat Radit terpaksa memilih jalan pintas dengan cara menikahi kekasihnya, pada saat itu ibu Revan tidak mengetahui, jika dia telah menikah dengan Tirana. Dia baru mengetahui jika Radit telah menikah setelah Revan berusia 5 tahun. Pada saat itu Tirana datang mengikuti Radit ke New York.
Tirana tidak pernah menerima perselingkuhan suaminya, namun karena rasa cinta yang teramat dalam untuk Radit, pada akhirnya Tirana tidak mengatakan kepada keluarga besarnya, jika Radit memiliki keluarga lain di New York. Puncaknya 8 tahun lalu, saat Eigle corp ditinggalkan ayah kandung Tirana dan hampir mengalami kebangkrutan. Itulah yang membuat Radit memutuskan meminta Revan datang ke Indonesia untuk membantu prusahan mertuanya.
Dengan berbagai macam pertimbangan dan syarat yang Tirana ajukan, pada akhirnya wanita itu memberi izin agar Revan bisa membantu prusahaan.
"Papa? anda mengatakan Papa? tidak salah?" cibir Revan.
Radit bangkit dari kursi kebesarannya, pria itu berjalan menghampiri Revan dan berdiri tepat dihadapan pria itu. "Apa kamu belum bisa memaafkan Papa Van?" tanya Radit nelangsa. Mungkin jika tidak karena ibunya memaksa Revan datang kemari, tidak mungkin Revan mau membantunya memajukan prusahaan seperti saat ini, apa lagi kini Eigle corp. telah berdiri diurutan teratas dan sebentar lagi bisa mengalahkan Widjaya group.
Revan tidak menjawab, pria itu sudah lelah jika harus terus membahas hal seperti ini. Hampir delapan tahun tinggal di Indonesia, belum pernah sekalipun Revan tinggal satu atap bersama Ayahnya, padahal dulu ia selalu memimpikan hidup bahagia bersama ayah dan ibunya.
"Jika tidak ada yang perlu dibahas lagi, saya harus pergi," Revan berlalu begitu saja, membuat Radit termangu.
Baru saja Revan keluar dari ruangan Papa nya, dia harus kembali dibuat geram, manakala melihat raut muka Rayan yang sangat menyebalkan.
"Ohh, ada anak kesayangan rupanya," ejek Rayan setengah berbisik.
Revan tak mengidahkan ucapan pria itu, dia meyenggol bahu Rayan, dan berlalu menuju ruangnnya. "Manusia menyebalkan, anak dan ayah sama saja," grutunya.
Lebih baik dia kembali keruangannya, dan mempersiapkan semua berkas-berkas untuk menghadiri lelang besok. Terlepas dari apapun masalah yang ia hadapai, Revan selalu profesioanl dalam pekerjaan.
"Bos, ini berkas-berkas nya, silahkan dicek," Anita meletakan beberapa berkas diatas meja, pakaiannya begitu seksi, terkadang membuat Revan merasa jijik melihatnya.
"Kamu boleh keluar," ucap Revan karena Anita masih tetap berdiri disana.
Gadis itu tersenyum. "Tidak membutuhkan bantuan bos?" tanya Anita dengan nada manja. Sontak membuat Revan yang mulai membuka berkasnya mendongkak.
"Jika kamu tidak keluar, maka saya yang akan keluar," ancam Revan, dan berhasil membuat Anita keluar dari ruangan itu.
Gadis itu menghentakan kaki, hampir satu tahu bekerja dengan Revan, namun sangat sulit menggoda pria itu, bahkan sang Nyonya sudah menjanjikan impalan yang sangat fantastis, jika sampai dia bisa meluluhkan hati Revan.
"Sepertinya bos memang tidak normal," grutu Anita kesal.
Malam ini Revan serta salah satu Dewan Direksi menghadiri lelang pembangunan Hotel yang nantinya akan menjadi Hotel terbesar di Lombok. Tentu saja selaam ini prusahaan yang paling sulit Eigle crop. Kalahkan hanya Widjaya group, namun Revan yakin, malam ini Ia bisa memenangkan pemborongan proyek itu.
Terlihat ballroom hotel yang menjadi tempat diselenggarakannya lelang itu sudah sangat ramai, bukan hanya dalam Negri bahkan prusahaan Luar Negeri pun turut hadir mengikuti lelang tersebut.
"Pak Revan, itu Tuan Wijaya," bisik Doni salah satu dewan direksi yang duduk tepat bersebelahan dengan Revan.
Revan mengikuti arah pandangan Doni, Tuan Wijaya duduk dibarisan VVIP paling depan, tentu saja pria paruh baya itu masih menjadi tamu ke Hormatan bagi semua kalangam pembisnis.
"Tenang saja, malam ini pasti kita bisa memenangkan tender hotel itu," timpal Revan yakin.
Semakin malam suasana semakin riuh, banyak pengusaha yang akhirnya harus pulang dengan kekecewaan, termasuk Wijaya group. Sang pemiliki sampai berkali-kali menggerutu kesal, bagaimanapun ini kesempatan yang Wijaya harapkan bisa kembali menaikan eksitensi Prusahaan, namun lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan, karena Eigle crop lah yang menang sebagai pemborong Hotel terbesar itu.
"Sial, memalukan," grutu Wijaya, sesaat setelah tiba dirumah, tentu saja membuat Amanda keheranan.
"Adapa apa sih Pah?" tanya Amanda, wanita itu menghampiri suaminya dan membantu melepaskan jas serta dasi yang ia kenakan.
"Kit-" belum sempat Wijaya meneruskan ucapannya, tiba-tiba saja telpon nya berdering, sang asisten memberitahukan jika saham Widjya group turun mencapai 15 % hanya dalam waktu beberapa jam, sontak membuat Wijaya terkejut. Pria paruh baya itu sampai memegangi dadanya sangking kagetnya.
Amanda menjerit histeris, saat suaminya luruh kebawah, seraya memegangi dadanya. "Pah, Papah," pekik Amanda panik, membuat seluruh penghuni rumah berhamburan menghampiri sang majikan.