
Yasmin terdiam, sedetik kemudian dia baru menyadari jika belum memeriksa toilet yang ada disamping taman. Sontak saja wanita itu langsung berjalan kesana, berharap bisa menemukan keberadaan keponakannya ditaman maupun toilet belakang.
"Kana," seru Yasmin. Matanya memindai sekeliling taman, mencari keberadaan Kana, hingga samar-samar rungunya mendengar gemercik air dari dalam toilet. Sontak Yasmin segera mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Kana! Kamu didalam sayang?" pekik Yasmin, namun tetap tidak ada sahutan dari dalam, padahal pintu itu terkunci.
Yasmin mencoba membuka pintu itu secara paksa, namun apalah daya, dia hanya seorang wanita, tentu sedikit sulit baginya agar bisa membuka pintu itu.
Yasmin berjalan masuk kedalam, mencari kunci cadangan yang mungkin masih dia simpan, wanita itu sedikit tergesa, fikirannya sudah tak karuan, takut sesuatu yang buruk terjadi kepada keponakannya. Hingga akhirnya dia menemukan apa yang dicari, Yasmin kembali berjalan menuju toilet membuka pintu itu dengan sedikit tergesa.
Bruak..
Mata Yasmin membola, manakala mendapati Kana duduk dibawah guyuran shower dengan tangan memegang pisau yang diarahkan pada pergelangan tangannya. "Kana Dhanijaya," pekik Yasmin panik.
Yasmin mengambil pisau yang ada ditangan Kana. Wanita itu menangkub bahu Kana, membantu gadis itu berdiri, dan menyelimutkan handuk pada kepalanya. Yasmin menangis tersedu, entah apa yang terjadi dengan Kana, sehingga dia nekat melakukan aksi gila seperti ini. Yasmin merangkuh bahu Kana, menuntunya keluar, dan mendudukan diatas gazebo. Sedangkan Kana hanya diam saja, bahkan air matanya pun tidak lagi mau menetes, rasanya dia sudah sangat lelah, bahkan lidahnya terasa kaku untuk sekedar mengucapka sepatah kata. Pandangannya kosong menatap lurus kedepan. Membuat Yasmin hawatir bukan main.
Darah segar mengalir dari bekas sayatan yang Kana buat, bruntung pisau itu belum sampai menyayat urat nadinya. Jika itu terjadi, entah apa yang harus Yasmin lakukan. Apa juga yang harus dia katakan kepada kakaknya, bagaimanapun Amanda sudah mempercayakan Kana padanya.
Yasmin berlari masuk kedalam rumah, wanita itu mengambil kotak obat dan kembali lagi kebelakang menghampiri keponakannya. "What are you doing dear?" ucap Yasmin dengan air mata yang belum juga surut.
"What really happened Kana?" Yasmin kembali melontarkan pertanyaan, namun Kana sama sekali tidak mau membuka mulut.
Usai mengobati luka pada pergelangan tangan Kana, Yasmin membawa gadis itu masuk kedalam kamar nya, wanita itu menyiapkan pakain, agar Kana bisa segera berganti, bagaimanapun Yasmin tidak ingin keponaknnya itu sampai sakit.
"Ayo ganti pakaianmu dulu sayang," pinta Yasmin.
Kana tidak membantah, pada akhirnya gadis itu berlalu masuk kedalam toilet yang ada didalam kamarnya. Yasmin menatap punggung Kana yang sudah mengilang dibalik pintu toilet, wanita itu menghela nafas, berbagai pertanyaan berputar dikepalanya. apa jadinya jika tadi dia sampai terlambat pulang? bisa dipastikan Kana mungkin sudah tidak lagi bernyawa. Wanita itu duduk tepat disisi ranjang, hingga matanya tanpa sengaja menangkap sebuah benda tergeletak diatas ranjang, sebuah benda yang amat asing baginya.
Yasmin mengambil benda itu, tadi sewaktu dia mencari keberadaan Kana, Yasmin tidak melighat benda tersebut. Tangannya begetar, meski dia belum pernah menikah, namun dia sangat faham, apa fungsi dari benda itu. Seketika tubuh Yasmin bergetar, saat mengetahui penyebab keponakannya ingin mengakhiri hidup seperti tadi.
Walaupun baru 2 bulan mereka tinggal bersama, namun Yasmin faham betul seperti apa keponakannya itu, bahkan Kana sendiri pernah mengatakan, jika dia belum pernah memiliki kekasih, dan ingin seperti dirinya. Lantas apa yang menyebabkan Kana bisa seperti ini? semakin banyak pertanyaan berputar diepala Yasmin.
Wanita itu bangkit dari ranjang, seraya menggenggam alat tes kehamilan yang baru saja ia temukan, Yasmin menunggu dengan gelisah didepan pintu toilet, dia berharap apa yang ada dalam fikirannya saat ini salah.
Cklek..
"Kana, apa ini?" tanya Yasmin dengan raut wajah tidak percaya, masih berharap jika semua hanya kesalah fahaman semata.
Kana menundukan kepala, gadis itu begitu malu, air matanya kembali luruh tak lagi mampu ia bendung. Kana fikir dirinya sudah tidak bisa menangis, namun ternyata saat melihat alat tes kehamilan itu, gadis itu kembali tersedu.
"Ayo jawab Kana Dhanijaya!" seru Yasmin penuh penekanan.
Kana masih terdiam, dia bingung harus memulai darimana mengatakan semua ini pada tantenya.
"Fine, if you do not want to open your mouth! Maka tante akan menghubungi Mama mu, dan mengatkan semuanya," ancam Yasmin.
Sontak hal itu berhasil membuat Kana membuka mulutnya. "Kana mohon tante, jangan beri tahu Mama!" pinta Kana seraya bersimpuh dihadapan Yasmin, membuat Yasmin kembali meneteskan air mata.
"Lantas, jika tante tidak melakukan itu, apa kamu mau membuak mulut? tidak kan!" sarkas Yasmin, sebenarnya dia begitu kasihan melihat Kana seperti ini, namun apa mau dikata, Kana tidak akan membuka mulut jika dia tidak mengancamnya.
Kana mendongak. "Kana janji akan menceritakan semuanya tan, tapi tolong jangan beri tahu Mama ataupun Papa," pintanya memelas.
Yasmin menghela nafas, wanita itu menghampiri Kana dan membantunya bangkit, lantas menuntun tubuh gadis itu menuju pembaringan. Yasmin menghapus air mata yang masih terus mengalir membasahi pipi mulus gadis itu.
"Don't cry anymore honey," Yasmin mencoba menenagkan Kana, bagaimanapun kini Kana sudah menjadi tanggung jawabnya.
"Jadi sekarang, beritahu tante, siapa laki-laki itu?" tanya Yasmin.
Kana terdiam, apa yang harus dikatakan, sedangkan dia sendiri tidak tahu siapa laki-laki itu, meski samar-samar Kana masih sedikit mengingat wajah tampannya. Pada akhirnya Kana menggeleng kan kepala, membuat Yasmin semakin heran. "Apa maksud mu menggelengkan kepala?" tanya Yasmin tidak faham.
"Kana tidak tahu siapa laki-laki itu tan," ucapnya, membuat Yasmin terkesip.
"Hah.. bagaimana mungkin kamu hamil dan tidak tahu siapa yang menghamili mu Kana?" protes Yasmin.
"Kana memang tidak mengetahui siapa laki-laki itu," jawabnya, air matanya kembali luruh, mengingat malam kelam yang telah membuatnya sampai seperti ini. Kana mulai menceritakan malam laknat yang telah mengahancurkan masa depannya itu, mengatakan apa penyebab hingga dia bisa sampai seperti ini, sontak apa yang Kana katakan membuat Yasmin turut emosi. Yasmin menelan ludah, lidahnya terasa kelu, jika sudah begini apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Yasmin mengutuk siapapun yang telah berbuat keji terhadap keponakannya itu. Wanita itu menghela nafas, saat ini yang terpenting, bagaimana cara agar orang tua Kana tidak mengetahui prihal ini. "Jadi, apa rencana mu selanjutnya sayang?" tanya Yasmin pada akhirnya.
Kana terdiam, gadis itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini, jalan satu-satunya yang mungkin bisa diambilnya saat ini, hanyalah menyingkirkan janin itu. "Kana akan menggugurkan janin ini," ucapnnya.