One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 18. Rencana



Flashback..


Usai menghubungi Anton, Kana memutuskan membersihkan diri, dia harus bersiap-siapa kerumah sakit mengantarkan pakaian ganti serta makanan untuk Mamanya. Setelah itu barulah Kana datang mengunjungi Prusahaan, bagaimanapun Kana harus mulai belajar bisnis, karena nantinya ialah yang akan mengambil alih semua bisnis Widjaya group.


Kana memeperhatikan penampilan nya didepan cermin, wanita itu tersenyum miris, meski cantik dan Kaya raya, namun siapa yang mau menikah dengannya, wanita yang sudah tidak suci, bahkan memiliki anak diluar nikah.


"Revan Mahardika mari kita mulai perang ini," guman Kana, wanita itu berlalu meninggalkan kamarnya.


Dentingan high heels saling beradu menapaki anak tangga. Kana turun dengan perlahan, seraya menenteng hand-bag ditangannya.


"Non Kana sudah mau kerumah sakit ya?" tanya Minah.


Kana mengangguk. "Iya mbok, Kana sarapan dirumah sakit saja, apa semua nya sudah siapa?" tanya Kana.


"Sudah Non." Minah memberikan dua buah paper-bag, satu berisis makanan, dan satu lagi pakaian ganti Mamanya.


"Ya sudah, Kana pamit mbok" ucap Kana, dan mendapat repon anggukan dari Minah.


"Hati-hati Non," seru Minah.


Pagi ini Kana sengaja meminta supir yang mengantarnya, dia sudah memberikan tugas lain kepada Anton untuk mencari tahu keberadaan dan aktifitas Revan saat ini. Wanita itu ingin memulai aksinya dengan cepat, Kana tidak ingin menunda lagi, apa lagi prusahaan nya sedang diambang kehancuran.


Mobil itu berhenti tepat didepan lobby Rumah Sakit, Kana bergegas turun diikuti sang sopir yang membuka pintu untuknya. Kana meminta sopirnya kembali pulang, karena nanti dia akan kembali bersama Anton.


"Langsung pulang saja Pak, tidak perlu menunggu," titah Kana.


Sopir itu mengangguk, dan kembali masuk kedalam mobil meninggalkan area Rumah Sakit.


Kana berjalan cepat menuju Ruang rawat sang Papa, wanita itu menampilkan wajah ceria, meski dalam hati nya tidak. Bagaimana pun Kana tidak ingin kedua orang tuanya tahu prihal apa yang tengah difikirkan nya.


"Selamat pagi," pekik Kana.


"Pagi sayang," kompak kedua orang tuanya menyahut.


Amanda tengah menyuapkan bubur untuk sang Suami, semenjak kepulangan kana ke Tanah Air, hari-hari mereka menjadi lebih tenang dan bersemangat, tidak ada lagi yang perlu mereka hawatirkan jika Kana ada disana.


"Pah, gimana kondisi Papa?" Kana duduk tepat disamping Wijaya, wanita itu mengecup punggung tangan Wijaya.


"Papa sudah lebih baik An, Papa juga ingin segera pulang, tolong pinta Dokter agar mengizinkan Papa pulang," mohon Wijaya, dia sudah tidak tahan berada didalam kamar Rumah Sakit seperti ini.


"Pah, sabar dong, tunggu kesehatan Papa lebih setabil dulu," timpal Amanda.


Kana tersenyum. "Benar apa yang Mama katakan Pah, sebentar lagi ya!"


"Hah.." Wijaya mendesah frustasi, berbaring diatas ranjang pesakitan seperti ini membuat Wijaya bosan. Meski raganya terbaring disana, namun jiwanya sudah berkelana memikirkan prusahaan.


"Papa harus segera kembali mengurus prusahaan An," ucap Wiajaya kemudian.


"Papa jangan mikirin prusahaan dulu ya, biar itu menjadi urusan Kana, Papa cukup memulikan kondisi Papa dengan maksimal," sahut Kana, dia berharap Papanya sedikit tenang mendengar ucapannya.


Amanda dan Wijaya saling tatap, mereka mulai menduga jika Kana sudah bersedia mengurus prusahaan. "Apa kamu sudah mengambil keputusan An?" tanya Amanda.


Kana mengangguk seraya menyunggingkan senyum. "Iya, Kana sudah siap membantu Papa mengurus prusahaan," ujar Kana, membuat Wijaya terpekik senang.


"Akhirnya...!"


"Pah," Protes Amanda karena suaminya terlalu berlebihan.


Dalam hati Kana begitu bersyukur melihat kesembuhan Papanya. Jika dengan ini Kana bisa membuat Papanya bahagia, maka Kana akan melakukan apapun, sudah terlalu banyak kebohongan yang Kana buat, bahkan dengan itu Kana harus menyiksa orang tuanya sendiri. Ini lah saatnya untuk Kana bangkit dan membalaskan semua deritanya.


Tok..tok..tok..


"Selamat pagi Nona," sapa Anton.


"Pagi," sahut Kana.


Kana tidak langsung mempersihlahkan Anton masuk, wanita itu lebih dulu menahan Anton dibalik pintu. "Tolong jangan beri tahu Papa tentang apa yang aku pinta, aku tidak ingin Papa hawatir," mohon Kana.


Anton mengangguk. "Saya faham Nona," jawab nya.


Kana membuka pintu dengan lebar setelah mendengar persetujuan dari Anton. Mereka berjalan beriringan menghampiri ranjang dimana Wijaya terbaring.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya," sapa Anton seraya membungkukan kepalanya.


"Selamat pagi Ton," sahut Wijaya, sedangkan Amanda hanya mengangguk merespon sapaan Anton.


"Ada berita apa?" tanya Wijaya.


Anton melirik Kana sejenak, lalu kembali menatap majikan nya. "Tidak ada berita terbaru Tuan," sahut nya.


Merasa hawatir jika Papanya akan lebih banyak mengajuakn pertanyaan, Kana memutuskan bangkit dan berlalu menuju Prusahaan.


"Pah, Kana hari ini kekantor dulu ya," pamit nya.


Wijaya mengangguk. "Anton akan mendampingi kamu, jika ada yang kamu tidak mengerti, langsung katakan kepada dia, atau jika ada yang ingi kamu ketahui, pinta Anton mencari tahu untuk mu," ujar Wijaya mengintruksi.


"Jaga putri ku dengan baik Ton," pesan Wijaya.


Anton mengangguk. "Siap Tuan," sahut Nya.


Kana mengambil tangan Papanya, mencium punggung tangan pria paruh baya itu dan Mamanya secara bergantian. "Kana berangkat ya Mah, Pah," pamit Nya.


Amanda dan Wijaya mengangguk. "Hati-hati sayang," pekik Amanda.


Didalam mobil Anton mulai melaporkan apa yang Kana pinta tadi. "Saya sudah mendapatkan informasi Non," ujar Anton.


Kana yang tengah fokus mempelajari berkas-berkas mendongak. Dia tidak menyangka jika Anton akan mendapatkan info secepat ini.


"Jadi, apa yang anda dapatkan?" tanya Kana pansaran.


"Tuan Revan tengah menikamati cuti disalah satu Hotel yang masih berada dibawah naungan Prusahaan kita Non, karena beliau memenangkan tander pihak Eigle memberikan cuti selama sepekan, dan Tuan Revan sudah menginap diHotel selama empat hari," jelas Anton.


Kana terdiam, dia mulai menebak-nebak Hotel yang Anton maksud, hingga tiba-tiba saja Kana mengingat potingan Revan dua hari yang lalu, dia menduga jika Revan masih bermalam di Hotel itu. Namun Kana sama sekali tidak percaya jika Hotel dimalam itu masih dibawah naungan prusahaan Papanya.


"Hotel mana Pak?" tanya Kana memastikan.


"Dipesisir pantai Anyer Non," jelas Anton. "Ohya Non, jangan panggil saya Pak, panggil saja Anton," pinta Nya.


Kana mengangguk. "Baik Ton, ada rencana yang ingin saya jalanan kan, apa kamu mau membantu," ujar Nya.


"Tidak perlu ditanya. Saya pasti akan selalu siap Non," sahut Anton yakin.


Kana mulai menceritakan rencananya. Meski Anton sedikit terkejut dengan rencana yang sudah Kana susun, namun dia tetap menyetujii permintaan wanita itu.


"Tapi ingat, jangan sampai Papa tahu, saya tidak ingin membuat kondisi Papa semkain drop," pinta Kana.


Anton mengangguk. "Siap Non."


Flashback off..