One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 22. Situasi Menegangkan



"Kenapa Dokter itu tidak juga keluar," guaman Anton yang masih mengawasi dari jarak cukup jauh.


Tidak lama Dokter muda yang bertugas diruang UGD keluar. Anton tidak mendengar dengan jelas apa yang Revan dan Dokter itu bicarakan. Karena Anton memanfaatkan kesempatan tersebut untuk masuk kedalam ruang UGD, sebelum Revan yang lebih dulu masuk kesana.


Pandangan Anton menyapu sekitar, mencari keberadaan sang majikan, langkahnya terhenti tepat diujung ruangan. Nampak Kana terbaring dengak kaki yang baru saja diperban.


"Anda jangan hawatir Tuan! karena sepertinya istri anda hanya kelelahan saja. Luka dikakinya juga sudah kami bersihkan dan kami perban, pesan saya jangan terlalu banyak berjalan dulu ya!" ucap Dokter Maya mengintruksi.


Sudut bibir Revan terangkat. Entah mengapa mendengar kata istri membuat Revan tersenyum tak jelas. Bak anak ABG baru merasakan jatuh cinta, yah mungkin benar dia memang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.


"Trimakasih Dok, apa saya sudah boleh masuk?" tanya Revan.


Dokter Maya mengangguk. "Silahkan! pasien juga sudah sadar, nanti setelah obatnya siap sudah boleh pulang!" jelas Dokter itu.


Revan melangkah masuk kedalam ruang UGD, matanya menelisik sekitar, ada beberapa pasien didalam sana, setiap pasien hanya tersekat tirai. Pria tampan itu melangkah semakin dalam mencari keberadaan Kana.


"Non Kana," sapa Anton yang sudah berdiri tepat disamping ranjang. Tentu saja kehadiran Anton disana membuat Kana terkejut.


"Kenapa Anda kemari?" tanya Kana seraya melirik arah masuk ruang UGD.


"Anda tidak kenapa-napa Non, saya panik, takut jika terjadi hal yang darurat kepada non Kana," ucap Anton panjang lebar.


Kana menggelengkan kepala. "Saya tidak kenapa-napa Ton, anda lebih baik keluar sebelum Revan masuk kemari dan melihat keberadaan anda disini," usir Kana.


Derap langkah berjalan semakin mendekat. Dari bawah tirai Kana bisa melihat jika itu sepatu Revan. Tentu saja Anton dan Kana menjadi panik karenanya. Mereka saling tatap, sebelum akhirnya Anton menyelinap dan membuka tirai sebelahnya.


"Rena," sapa Revan.


Kana membuka kedua matanya. Jantungnya masih berdebar tak karuan, ia sangat takut jika Revan melihat Anton menemuinya. Tentu saja Revan yang cerdas akan langsung bisa menebak siapa Kana sebenarnya. Sebagai seorang pembisnis tentu saja Revan pastinya mengenali Anton sebagai tangan Kanan Wijaya group.


"Ya," sahut Kana singkat.


Revan menyentuh telapak kaki Kana yang baru saja dibalut kain kasa. Beruntung luka dikaki Kana tidak terlalu lebar, sehingga tidak mengeluarkan banyak darah.


Melihat itu Kana membuang pandangan nya kearah lain. Sikap Revan yang sedemikian membuat Kana mengumpat dalam hatinya. Pastilah Revan pandai merayu wanita-wanita dengan sikap manis itu. Mungkin sudah tidak terhitung berapa wanita yang Revan tiduri.


"Aku ingin pulang," ucap Kana kemudian.


"Tunggu sebentar ya, kita tunggu obatnya," sahut Revan.


Kana menghela nafas dalam. Berada dalam tempat sempit dengan jarak yang dekat seperti ini membuat Kana tak nyaman. Ingin rasanya Kana mengusir Revan, namun tentu Kana harus menahan egonya.


Tidak lama seorang nakes muda datang menghampiri mereka. Meminta Revan membayar biyaya pengobatan Kana, dan mengambil obatanya.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman Kana mereka saling diam. Ingin sekali Revan membawa Kana ke Apartemennya. Agar bisa mengawasi dan merawat wanita itu. Namun tentu Revan yakin jika Kana tidak akan mau menerima usulannya. Alhasil Revan hanya bisa mengantarkan Kana menuju rumah kontrakannya saja.


"Tunggu disini." Pesan Revan sebelum ia turun dari mobilnya. Pria itu menghentikan mobil tepat didepan sebuah counter ponsel. Kana hanya mengangguk dan tidak banyak bertanya.


Tidak lama Revan kembali membawa paper-bag ditangannya, dan meletakan bag tersebut dijok belakang. Pria itu kembali melajukan mobilnya membelah jalanan. Namun tak lama Revan kembali berhenti didepan sebuah cafe.


Revan tersenyum. "Aku tahu, tunggu sebentar!" ujar pria tampan itu dan kembali turun dari mobil masuk kedalam cafe.


"Kenapa juga dia harus berhenti-berhenti," grutu Kana yang sudah tidak tahan berlama-lama dengan Revan.


Dari kejauhan nampak pria itu berjalan meninggalkan cafe sembari membawa dua buah bok makanan. Kana tidak ingin banyak bertanya, dia membiarkan saja Revan dengan aktifitasnya.


"Maaf lama," ucap Revan seraya melirik Kana, namun wanita cantik itu tidak menyahut.


Menempuh perjalanan selama 35 menit. Mobil itu kembali berhenti tepat didepan gang rumah sewaan Kana. Revan turun terlebih dahulu, pria itu berlari kecil memutari mobil dan membuka pintu untuk Kana.


"Silahkan," ucap Revan dengan senyum manisnya, membuat Kana muak sendiri.


Kana hanya tersenyum tipis, senyum yang sangat dipaksakan. "Trimakasih sudah mengantar ku. Untuk biyaya yang sudah anda keluarkan, aku akan menggantinya. Tapi nanti, saat aku sudah mendapat pekerjaan," ujar Kana.


Revan mengangguk, dia tidak ingin membantah. Biarlah Kana berfikir masih memiliki hutang padanya. Agar Kana tidak pergi begitu saja. "Tidak masalah," sahut Revan.


Mendengar jawaban Revan, Kana memutar tubuhnya melangkah kan kaki menuju kontrakan.


Kana kembali dibuat terkejut, manakala Revan sudah berjalan tepat disamping nya. Kana pikir Revan tidak akan mengikuti dia, namun kenyataan nya Revan sudah ada disamping nya.


"Kenapa anda masih mengikuti saya?" tanya Kana heran.


Revan menunjukan barang bawaan yang ada ditangannya. "Aku membawakan obat dan makanan mu," selorohnya memberi alasan, membuat Kana mendengus kesal.


"Biarkan saya membawanya sendiri, anda tidak perlu repot-repot untuk datang ketempat kumuh seperti ini. Jadi silahkan anda pulang!" usir Kana.


Bukan Revan namanya jika menyerah begitu saja. Pria itu tidak mengidahkan perkataan Kana. Revana malah semakin mempercepat langkahnya.


"Kenapa dia terus mengikuti aku." Batin Kana menggerutu.


"Yang mana kontrakan mu?" tanya Revan. Pandangan nya menyapu sekitar, rumah-rumah disana begitu kecil dan sangat amat sempit, jangan lupakan tumpukan sampah disekitarnya.


Kana tidak menjawab. Dia membuka salah satu pintu kontrakan yang ada disana. Wanita itu berjalan masuk dan diikuti Revan dari belakang. Jika melihat wajah ayu dan penampilan Kana yang rapih, orang tidak akan percaya jika Kana tinggal dipemukiman kumuh seperti itu.


Revan masih menampilkan ekpresi yang sama. Namun tentu sulit untuk dibaca. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Mungkin Revan tidak menyangka jika Kana akan tinggal ditempat seperti ini.


"Anda sudah boleh pergi," ujar Kana membuat Revan tersadar dari lamunan nya.


Tidak ada kursi atau karpet didalam rumah itu. Menbuat Revan bingung harus duduk dimana.


"Ambil ini, dan tolong jangan ditolak," Revan menyodorkan paper-bag berisi ponsel dan dua box makanan.


Kana menyipitkan mata. Entah apa maksud Revan memberikan ponsel yang sangat mahal untuknya. Meski Kana belum membuka paper-bag tersebut, namun melihat dari logo nya saja orang sudah bisa menilai jika barang yang ada didalam paper-bag tersebut pastilah barang mahal. Bahkan ponsel yang Revan berikan sama seperti miliknya saat ini.


"Aku tidak bisa menerimanya," tolak Kana.