One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 10. Dendam dan Harapan



"Apa!" pekik Yasmin terkejut.


"Apa kamu sudah gila Kana Dhanijaya? Bagaimana mungkin kamu bisa memiliki fikiran keji seperti itu?" bentak Yasmin.


Sebagai seorang wanita, Yasmin faham betul apa yang saat ini ada dalam fikiran Kana, namun jika Kana mengambil keputusan itu, tentu saja Yasmin tidak akan setuju. Selain karena aborsi perbuatan tercela, itu juga sangat membahayakan.


"Tante tidak setuju, jika kamu nekat melakukan itu, maka tante akan memberi tahu orang tua mu," ancam Yasmin.


Sontak ucapan Yasmin kembali membuat Kana menitikan air mata. "Lalu apa yang harus Kana lakukan tante?" tanya Kana bingung.


Yasmin menghela nafas, sebenarnya dia juga tidak tahu harus melakukan apa, namun menurutnya aborsi bukan lah pilihan yang tepat. Yasmin terdiam, mereka harus mengambil keputusan dengan benar, agar tidak menimbulkan penyesalan dikemudian hari.


"Lahirkan anak itu An, dia tidak bersalah, dia juga ingin hidup, nanti setelah dia lahir, kota berikan kepada orang pain," ucap Yasmin kemudian.


Kana terperangah mendengar ucapan tantenya, bagaimana mungkin dia bisa melahirkan bayi ini? Bagaimana jika nantinya orang tua nya sampai tahu.


"Jangan hawatir, tante akan menutup ini dari Mama mu, tante juga tidak akan membiarkan mereka datang kesini, dan selama satu tahun kedepan, jangan kembali ke Indonesia dahulu," ucap Yasmin, wanita itu faham apa yang tengah membuat Kana hawatir.


Kana menghela nafas, mungkin hanya itu jalan satu-satunya yang bisa Ia pilih, selagi Yasmin mau membantunya, Kana merasa beban nya sedikit berkurang.


Pada akhirnya gadis yang tidak lagi perawan itu menganggukan kepala. "Kana ikut apapun yang menurut tante Yasmin benar," sahut Kana kemudian, membuat Yasmin tersenyum haru.


Yasmin memeluk tubuh Kana. "Bersabarlah sayang, nikamati setiap prosesnya dengan penuh ketenangan, tante akan selalu ada untuk mu," ucap Yasmin menenangkan.


Kembali Revan bermalam dikamar Hotel itu, pria itu berdiri dibalik jendela besar, memandangi debur ombak yang menyapu pasir. Hampir 1tahun dia terus melakukan ini, berharap bisa kembali bertemu dengan wanita itu. Selama satu tahun pulan Revan selalu bertanya kepada Receptionis tentang sekumupulan wanita yang dahulu mengadakan ladies night, namun tetap pihak Hotel tidak membuka suara.


Bahkan segala cara sudah Ia lakukan, termasuk mencari keberadaan wanita yang telah menjual temannya itu. Andai waktu itu Revan menyimpan foto gadis itu, mungkin kini tidak terlalu sulit mencari dirinya.


Revan menghisap sebatang roko, menghembuskan asap nya keudara, masih tergambar jelas, senyum dan wajah cantiknya. Ahh.. Sial, lagi-lagi tubuh Revan memanas jika mengingat malam itu.


Karir nya didunia bisnis semakin cemerlang, namun tidak dengan percintaannya. Diusia nya yang sudah menginjak 29 tahun, belum juga ada wanita yang bisa meluluhkan hatinya. Bahkan sang Papa terus saja menjodohkan Revan dengan banyak wanita dari kalangan atas, berharap dia mau menerima salah satu dari mereka. Tentu saja, dia menolak mentah-mentah permintaan Papanya.


Belum lagi Rayan yang terus menerus membuat keributan dan memancing emosinya. Hah.. Jika bukan karena perminta sang Ibu, tentu Revan tidak akan mau tinggal diIndonesia, semua karena sang Ibu yang terus meminta dia membantu Papanya.


Terkadang Revan begitu sakit, saat melihat Papa dan istri sahnya, mereka hidup bahagia, bergelimang harta, sedangkan ibunya hanya hidup sederhana di Amerika.


Revan melepaskan jam tangan dan jas nya, pria itu berjalana keatas ranjang, matanya terpejam, menghisap dalam aroma parfum milik wanita itu, yang sampai saat ini masih bisa Revan rasakan seperti apa aromanya.


Tidak pernah Revan temukan wanita ssemenarik itu. Wajahnya begitu ayu, hidung mancung, bulu mata lentik dan jangan lupakan bibirnya yang begitu manis dan seksi.


"Shitt..." umpat Revan, hanya dengan membayangkan wajah gadis itu saja sudah membuat dirinya terbakar gairah. Pria itu bangkit dari ranjang, melepaskan seluruh pakaiannya, menyisahkan celana pendek, dan berdiri dibawah guyuran shower.


***


"Kana, tante sudah menemukan orang yang mau mengadopsi anak mu," ucap Yasmin, wanita itu baru saja kembali dari bekerja.


Kana yang tengah memompa Asi terhenyak. Sebenernya dia tidak rela melepaskan anak yang telah dilahirkannya, namun mau bagaimana lagi, semua harus dilakukan, agar tidak membuat orang tuanya kecewa.


Kana tersenyum. "Syukurlah Tan, Kana juga haru segera kembali kuliah," sahut gadis itu.


Tiga bulan lalu Kana melahirkan secara Secar disalah satu Rumah Sakit ibu dan anak. Hampir tiga bulan juga Kana mengurus anaknya seorang diri, sedangkan Yasmin hampir 5 bulan ini sangat sibuk dengan pekerjaannya. Namun setiap malam Yasmin masih mengurus bayinya jika Kana sudah kelelahan. Bruntung bayi itu tidak terlalu rewel, sehingga tidak terlalu menyulitkan.


Bayi itu memiliki wajah yang sangat tampan, benar-benar sempurna. Namun tidak ada sama sekali yang meniru wajah Kana. Meski hanya sekilas, namun Kana masih bisa meningat wajah pria itu. Pria yang telah menghancurkan masa depannya, yang telah membuat kesengsaraan untuk Kana, sehingga melahirkan bayi tidak berdosa seperti ini.


Mungkin saat ini laki-laki itu hidup tenang dan damai, hidup bahagia dan sudah menikah, memiliki anak- anak yang lucu, berbeda dengan dia yang harus menanggung sengsara hampir satu tahun ini. Bahkan Kana sampai harus membuang jauh rasa rindunya kepada Papa dan Mamanya.


Kana bersumpah, jika nanti dia telah menyelsaikan study nya, dan kembali ke Indonesia, maka Kana akan mencari laki-laki itu dan membalaskan semua deritanya. Bahkan jika pria itu sudah menikah, Kana akan menghancurkan rumah tangganya.


"Dua hari lagi mereka kemarin An," jelas Yasmin, membuat Kana terkejut.


"Secepat itu?" tanya Kana.


Yasmin mengangguk. "Bukankah lebih cepat lebih baik," jawab Yasmin. "An, apa kamu tidak mau mempertimbangkan lagi untuk tetap mengurus Arfa! Apa kamu tidak akan menyesal, jika nantinya dia telah dibawa orang lain?" sambung Yasmin, dia yang tidak melahirkan Arfa saja merasa tidak rela jika cucunya akan diambil orang lain. Apa mungkin Kana begitu tega jika sampai anaknya diadopsi oleh orang.


Kana mengehela nafas berat, mana mungkin dia tega menyerahkan anak ini, meskipun dulu dia sempat hampir menggugurkannya. Namun kali ini keputusan Kana sudah bulat, dia harus menyelsaikan study nya dengan cepat, dia juga tidak mau membuat orang tuanya kecewa.


Kana mengusap pipi Arfa yang begitu menggemaskan, siapapun orang yang melihat bayi itu, pasti akan langsung jatuh hati. "Kana tetap akan memberikan anak ini tan, tidak ada pilihan lain, Kana harus melanjutkan hidup Kana yang kemarin sudah hancur. Kana harus membuat Papa dan Mama bangga."