
Lama Kana berdiri diluar dengan dingin yang begitu menusuk tubuhnya, bruntung dia sudah mempersiapakan diri dan menggunakan pakaian yang lumayan bisa menghangatkan tubuhnya.Tidak lama Pintu itu terbuka, menampakan Yasmin yang sepertinya sehabis mandi.
"Kana," pekik Yasmin, wanita itu begitu senang mendapati keponakan satu-satunya sudah berada dihadapannya, apa lagi Kana sementara waktu akan tinggal dengannya.
"Tante Yasmin," Kana memeluk tubuh Yasmin erat. Lama mereka tidak berjumpa, terakhir mereka bertemu saat Kana datang untuk berlibur ketika dia masih kelas sepuluh sekolah menengah atas.
"Uh..the most beautiful aunt niece" ucap sang tante dengan membawa Kana masuk kedalam rumah sembari menyeret koper Kana di tangannya.
"How are you darling? Tante kangen banget, gimana juga kabar mama sama papa kamu?" tanya sang tante sebari membuatkan minuman hangat untuk mitha.
"Kana baik tan, Mama dan Papa juga baik kok," jawab Kana sembari melepaskan mantelnya.
"Syukur deh, tante senang dengarnya.. ni diminum dulu biar badan kamu hangat, sehabis ini kamu bersih-bersih, mandi dan makan, terus istirahat ya," Yasmin mengintrupsi.
Kana tersenyum seraya menganggukan kepala, sikap Yasmin dan sang Mama sama protektifnya. "Oh ya, tante gimana pekerjaannya?" tanya Kana seraya menyeruput teh hangat yang baru saja Yasmin sajikan.
"Lancar sayang.. tante happy tinggal disini, pokonya kamu juga harus happy tinggal disini ya Na," Ucap sang tante yang sudah duduk disebelahnya.
Kana terkekeh mendengar ucapan Yasmin, padahal gadis itu tahu betul, jika Yasmin memilih tinggal diluar negri karena tidak ingin menikah.
"Ya udah tan, Kana bersih-bersih dulu ya," pamit gadis itu, menempuh perjalanan yang cukup jauh membuat seluruh tubuhnya letih. Belum lagi hati, Jiwa dan raganya yang masih menyisakan trauma.
"Ya udah sana.. habis itu keluar makan ya, tante sudah masak, kalau udah makan baru kamu istirahat, mama kamu udah pesen sama tante buat jagain kamu, dan ngingetin kamu supaya gak telat makan terus, soalnya kamu punya asam lambungkan?" ujar Yasmin mengintrupsi.
Kana terkekeh mendengar ucapan tantenya. "Uhhh.. Mama gak dirumah gak disini bawelnya nyampe aja," keluh Kana sebari mengerucutkan bibirnya berpura-pura sebal pada sang mama. Membuat tante Yasmin tertawa melihat tingkah keponakan nya itu.
***
"Selamat pagi bos.. sapa sang asisten yang sedang membawakan kopi untuk Revan. Ini kopinya, tanpa gula," Ucap Anita dengan nada centil yang dibuat-buat.
Sedangkan Revan hanya menganggukan kepala sebagai respon. Reva sendiri menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) biasanya adalah posisi jabatan yang berada persis di bawah CEO. COO juga dapat duduk di bangku jajaran direksi bersama dengan CEO. Sedangkan untuk posisi CEO dipegang oleh Rayan Mahardika Eigle yang merupakan anak sah dari Radit Mahardika dan tentunya calon pewaris dari Eigle corp.
Namun sayangnya Rayan hanya bisa bersenang-senang dan menghambur-hamburkan uang, hobynya setiap hari hanya bergonta ganti pasangan dan melakukan balap liar. Itu lah yang membuat Radit pada akhirnya memutuskan menarik Revan dari Amerika untuk membantu memajukan Eigle crop. karena melihat karir Revan yang bagus didunia bisnis terutama Realestat, dan pada akhirnya membuat sang istri sah Tirani Eigle menyetujui memperkerjakan anak dari simpanan suaminya, dengan syarat Revan harus bisa memajukan perusahan dan tidak boleh naik di kursi CEO apapun yang terjadi.
Revan sendiri mau menyetujui karna sang ibu yang memintanya membantu sang ayah, meskipun Revan sudah dengan tegas menolak permintaan ayah nya itu, namun apa mau dikata, ibu nya terus memaksa Revan membantu prusahan sang Papa. Walau kadang perlakuan buruk dari anak dan istri sah sang ayahnya membuatnya muak.
Meski begitu Tirana mengakui jika kemampuan Revan benar-benar hebat, dia mampu memajukan prusahaan dengan begitu cepat, dan saat ini sudah setara dengan Dhanijaya group. yang merupakan prusahan realestat terbesar di Indonesia saat ini.
"Apa jadwal kita hari ini?" Tanya Revan pada asitennya, atau lebih tepatnya mata-mata yang Tirana kirim untuk mengawasi setiap gerak gerik Revan. Namun meski mrngetahui itu, Revan bersikap biasa saja, dan seolah berpura-pura tidak mengetahui sepak terjang ibu Tirinya itu.
"Hari ini kita ada meeting dengan direksi bos" jawab sang asisten.
"Oke, kamu siapkan berkasnya sekarang, aku tunggu diruang meeting," ucap Revan seraya meninggalkan ruangan itu begitu saja, membuat Tisa mengerucutkan bibirnya.
"Sulit sekali mendekati pria itu," grutu sang asisten bernama Tisa itu.
Setelah kejadian malam kelam nan istimewa itu Revan terus berusaha mencari keberadaan gadis itu, dia sangat takut jika wanita itu mengandung dan tidak bisa menemukan keberadaannya. Tentu saja Revan akan sangat berdosa dan merasa bersalah, apa lagi dia juga tahu betul, bagaimana rasanya tumbuh besar tanpa didampingi sosok Ayah. Berkali-kali dia kembali kehotel itu, dan menanyakan informasi pada receptionis, namun tak juga mendapatkan info apa-apa, padahal dia sudah mau mengeluarkan dana untuk membayar mahal mereka agar mau membuka mulut, namun tetap saja tidak bisa.
Revan menghempaskan bokongnya di kursi ruang meeting, sebagian kursi diruangan itu masih banyak yang belum terisi. Tak lama datang sang ayah, dan juga istrinya Tirana, duduk dikursi direktur, disusul dewan direksi lainnya.
"Mah, kenapa Rayan belum juga datang dimeeting kita hari ini?" Tanya Radit pada sang istri.
"Tunggu sebentar dong Pah, mama sudah memberitahukan kalau hari ini kita ada meeting, pasti sebentar lagi dia datang," jawab sang istri dengan tersenyum mengejek kearah Revan.
Tidak lama pintu yang ada diruangan meeting terbuka, menampilkan Rayan yang masih mengenakan pakaian balapnya. "Halo pah, halo mah..! Dan halo semuanya," Sapa nya tanpa rasa bersalah karena telah membuat banyak orang menunggu kedatangannya.
Tentu saja sikap Rayan membuat para Dewan Direksi tidak suka. Berbeda dengan Tirana yang nampak bahagia dengan kehadiran putranya.
"Hei Rayan, kenapa kamu baru datang sekarang? Sungguh anak yang tidak disiplin, membuat semua orang menunggu mu," omel Radit kesal, seraya melirik tajam putra bungsu nya.
"Ayolah Pah, Rayan juga kan ada kesibukan lain," Bela sang mama. "Yang pentingkan sekarang dia sudah disini," sambung Tirana lagi.
Membuat Radit mendengus, jika tidak didepan umum seperti ini sudah pasti Ia akan mendisiplinkan anak itu.
"Baiklah.. hari ini urusan apa yeng membutuhkan bantuan Rayan memutuskan?" Ucapnya santai tanpa rasa bersalah, telah membuat seisi ruangan menunggunya.
"Bisa kita mulai sekarang Pah? Jangan buang-buang waktu ku," tambahnya. Membuat semua orang semakin kesal melihat tingkahnya.
"Rayan," bentak Radit penuh emosi.
"Ada apa sih pah?" Potongnya.
Revan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah saudara tirinya itu, benar-benar mengesalkan, pada akbirnya dia ikut membuka suara, malas sekali melihat perdebatan yang tidak bermutu seperti itu. "Saya fikir karna semuanya sudah berkumpul, mari kita mulai meetingnya.." ucap Revan memotong pembicaraan tidak penting ayah dan adik tirinya.
Radit menghela nafas, menatap putra tertuanya. "Baiklah.. lanjutkan Van.." sang papa menginstruksi
"Tahun ini saya akan mengusulkan membuat rencana yang baik untuk triwulan prusahan," Revan memulai meeting.
"Agar kita bisa menang dalam proyek besar yang akan datang, sehingga menarik minat investor untuk bergabung dalam perusahan kita, karna bagaiman pun kita harus bisa melemahkan pesaing lainnya terutama Widjaya group," tambahn Revan lagi.
"Bagus," Radit menganggukan kepala, sangat setuju dengan usulan Revan.
"Bagaimanpun kita harus membuat mereka tidak bisa bertahan diindustri ini. Karena yang papa tahu, saat ini Widjaya group sedang dalam penurunan, jika kamu bisa melakukan itu, Papa akan memberimu hadiah yang besar," ucap Radit dengan bangga.
Tirana dan Rayan menatap tidak suka kepada Revan, setelah Radit Mahardika mengatakan itu, tentu saja sebagai pemilik sah Eigle crop,mereka ingin nama Rayan lah yang dikenal para pembisnis lain. "Kita semua bekerja sebagai tim, jadi sudah jelas kita harus saling membantu. Papa tidak bisa hanya memuji satu orang saja, dan saya sebagai Direktur mempercayakan Rayan untuk membantu mengurus proyek-proyek tersebut," ucap Tirana pada dewan direksi dan suaminya, dia merasa tidak terima mendengar pujian suaminya.
"Bukankah memiliki banyak orang hebat diperusahaan akan lebih baik", tanya Tirana pada direksi. "Saya harap kamu tidak ada masalah Revan?" Tanya Tirana memandang Evan sengit.
"Woww.. itu ide yang bagus Mah, bukan hanya orang kesayangan papa saja yang mampu menghasilkan pendapatan yang besar bagi perusahaan, orang lain pun bisa jika diberi kesempatan," Ucap Rayan dengan pedenya.
"Yaahh.. itu benar sayang, karna bagaimanapun kamu adalah pemilik asli Eigle corp, jangan biarkan orang lain mengambilnya," Sindir Tirana sembari melirik Revan yang hanya diam saja dengan wajah datarnya.
Revan menghela nafas. "Jangan hawatir, saya turut senang mendengar itu, dan dengan senang hati, sata akan membantu Rayan agar dia mengerti pekrjaan yang ditugaskan untuknya," sahut Revan santai.
Tentu saja jika Revan bisa menerima, berbeda dengan dewan direksi yang menolak usulan Tirana, mana mungkin mereka bisa menyerahkan tander prusahan yang baegitu besar kepada Rayan.