
"Bukan kah saya tidak pernah meminta apapun? Saat ini saya hanya ingin memilih asisten sendiri? Apa itu salah?" ucap Revan penuh kekesalan.
Usai mengakhiri masa cutinya yang masih tersisa satu hari lagi. Revan bergegas menemui Radit, di izinkan atau tidak Revan akan tetap menempatkan Kana sebagai asistennya. Dia sudah lelah terus saja berada dibawah pengawasan Tirana.
"Heh, kamu bekerja di prusahaan saya. Mau atau tidak kamu harus tetap mengikuti peraturan prusahaan!" seru Tirana dengan lantang. Tentu saja dia menolak permintaan anak dari simpanan suaminya itu. Jika Revan sampai memilih asisten sendiri, sudah tentu itu akan menyulitkan Tirana dalam mengawsi Revan.
Selama ini saja Tirana sangat susah memantau Revan. Bahkan sudah berkali-kali Tirana mengganti asisten Revan, namun tidak ada satupun yang berhasil membuat Revan tahluk.
"Mah," ucap Radit menenangkan. Saat Revan menyampaikan maksud kedatangan nya, bertepatan pula dengan Tirana yang masuk kedalam ruangan Radit.
Pandangan Tirana tertuju pada suaminya. Wanita itu menatap tajam sang suami yang terus saja membela anak selingkuhan nya itu. "Kenapa? kamu mau menyetuji permintaan dia? ingat prusahaan ini peninggalan orang tua ku. Kalian disini hanya bekerja, jangan bersikap seperti pemilik!" seloroh Tirana.
Revan mendesis. Dia muak ada didalam lingkungan Eigle, andai bukan Mamanya yang meminta sudah tentu dari lama Revan pergi meninggalkan Eigle corp. "Terserah, aku tidak ingin memaksa, tapi aku juga punya hak untuk memilih bawahan ku. Jika kalian tidak memberi izin, maka jangan salahkan aku jika proyek berikutnya aku tidak akan turut campur. Urus saja perusahaan mu sendiri! Nyonya Tirana Eigle yang terhormat," tekan Revan, pria itu berlalu meninggalkan ruangan sang Papa dan membanting pintu yang ada disana, membuat Tirana terlonjak kaget.
"Anak tidak tahu diri, benar-benar tidak punya sopan santun," pekik Tirana kesal.
Mendengar ucapan Revan tentu saja Radit menjadi gelisah. Kemajuan perusahaan beberapa tahun ini tentu atas kerja keras Revan. Jika tidak ada anak itu mana mungkin Eigle mampu bersaing dengan Wijaya group. Tidak mungkin mereka bisa mengharapkan Rayan, anak itu hanya bisa menghamburkan uang.
"Mah, cobalah jangan selalu emosi. Revan juga berhak memilih orang kepercayaan nya," bela Radit.
Tirana mendengus. "Siapa yang bisa menjamin jika dia memiliki orang kepercayaan tidak akan merencanakan hal licik," tuduh nya.
"Papa berani menjamin jika Revan tidak akan berani melakukan hal demikian. Coba mama fikir lagi, jika sampai Revan tidak maju pada proyek besar berikutnya, sudah pasti prusaahan kita akan kembali kalah dengan Wijaya Mah," jelas Radit, berharap sang istri mau mendengarnya. Tentu saja nama Radit pun dipertaruhakan jika dalam proyek berikutnya Eigle corp tidak bisa bersaing dengan Wijaya group.
Tirana terdiam. Wanita itu pergi begitu saja, dia butuh waktu untuk mempertimbangkan permintaan Revan, Tirana tidak ingin sampai kecolongan, dan pada akhirnya akan menyengsarakan dia dan Rayan. Jika pun Tirana ingin memberi izin tentu saja dia harus menyusun rencana yang lebih matang. Agar Revan tidak mengelabuhi dia.
****
Dua hari berlalu paska pertemuan Kana dan Revan. Selama dua hari ini Revan terus saja memaksa untuk menemui Kana. Namun tentu Kana tidak mengijinkan nya. Kana beralasan dia tengah ingin beristirahat total tanpa gangguan siapapun.
Rencana nya pagi ini Wijaya sudah diperbolehkan pulang. Tentu saja Kana dan Amanda menyambut bahagia hal itu. Hampir dua pekan Wijaya terbaring dirumah sakit, dan akhirnya kini pria paruh baya itu sudah bisa merasakan ranjang empuknya lagi.
Kana sudah meminta Minah membuat masakan yang sehat dan bergizi untuk sang Ayah. Mulai hari ini mereka harus lebih ekstra mengontrol apapun yang Wijaya makan. Agar kondisinya semakin membaik.
Kana tersenyum. "Aman Pah. Papa tenang aja ya, fokus untuk kesehatan Papa dulu. Kana akan berusaha mengembalikan kejayaan prusahan Kita," seloroh wanita cantik itu.
Wijaya mengangguk, ia menepuk lengan Kana dengan gembira. Kini memang sudah saat nya Wijaya menyerahkan semua urusan perusahaan kepada sang putri.
"Bagaimana jika Papa mengangkat kamu sebagai CEO?" pinta Wijaya penuh harapan.
"Papa," sahut Amanda yang nampak tidak setuju.
"Kana mau kok Pah. Tapi tunggu perusahaan kita memenangkan proyek selanjut nya, ya!" timpal Kana yakin, membuat Wijaya tersenyum bangga. Namun tidak dengan Amanda yang sangat tidak setuju. Apalagi Kana masih sangat muda, bahkan dia juga belum menikah. Amanda tidak ingin Kana terlibat dalam persaingan bisnis.
"Mama nggak setuju An," cegah Amanda.
"Mama jangan hawatir! Kana bisa kok. Masak Mama nggak percaya sih sama Kana!" ucap Kana meyakinkan.
Amanda menghela napas. "Mama hanya tidak ingin kamu terlibat dalam persaingan bisnis An! Dunia bisnis sangat kejam, terkadang teman bisa menjadi lawan," seloroh Amanda penuh ketakutan.
Namun Kana tidak menyerah. Wanita itu terus meyakinkan Mamanya. Berharap Amanda mau merestui niat nya. Bagaimanapun Kana tidak boleh menyerah begitu saja. Yang Kana inginkan saat ini hanyalah kehancuran Revan, dan tentu kejayaan Wijaya group lagi.
Tiga puluh lima menit berkendara. Mobil itu mulai memasuki area perumahan elit. Tempat tinggal para konglomerat Jakarta.
Pagar kediaman Wijaya terbuka secara otomatis. Nampak seluruh pekerja serta security dan sopir berjajar rapih menyambut kedatangan sang majikan mereka.
Salah satu pekerja pria dengan sigap membuka pintu mobil untuk majikan nya. Wijaya tersenyum melihat kesetian dan kerja keras para pekerja kediaman nya.
Terdengar para pekerja menyambut Wijaya dengan penuh syukur. Mereka berjalan beriringan masuk kedalam rumah. Amanda meminta sang suami langsung menuju kamar mereka. Agar pria itu bisa segera beristirahat.
"Papa istirahat Ya! Kana dan Anton akan kekantor," pamit wanita cantik itu.
Wijaya mengangguk. "Hati-hati An," pesannya.
Anton dan Kana kembali melanjutkan perjalanan mereka. Hari ini Revan akan datang menemui dia, sebenarnya Kana ingin menolak. Namun pria itu terus memaksa akan datang kekontrakannya. Revan beralasan dia ingin menyampaikan prihal pekerjaan yang pernah ditawarkan pada Kana. Tentu saja Kana tidak bisa menolak, itu salah satu rencana yang telah Kana susun. Dia berharap bisa masuk kedalam wilayah Eigle, agar memudahkan Kana menghancurkan karir Revan, serta mencari tahu proposal tander mereka berikutnya. Entah apa posisinya nanti, namun Kana berharap itu tidak akan menyulitkan Kana dalam mencari informasi. Bukan kah Revan orang kepercayaan Eigle? Bagaimana jika Kana membuat Revan seolah berhianat? Bukankah itu sangat menarik? Kana tersenyum simpul. Dia berharap bisa melancarkan aksinya tanpa ada halangan apapun. Kana akan menlakukan apa saja agar semua rencananya berjalan lancar.