
"Kana," melihat keberadaan sang putri membuat kesadaran Amanda kembali seutuhnya. Wanita paruh baya itu terduduk diatas sofa, menangkub wajah Kana penuh kerinduan, ia masih tidak percaya jika wanita cantik dihadapan nya saat ini adalah anak semata wayang nya.
"Benar ini kamu sayang?" Amanda mengucek mata, dia takut jika apa yang ada dihadapan nya saat ini hanyalah hayalan semu.
Kana mengangguk, wanita itu memeluk tubuh sang ibu dengan sangat erat. "Ini Kana Mah," ujarnya meyakin kan.
Mendengar itu tangis Amanda pecah, sungguh semua ini seperti mimpi. Empat tahun lamanya menahan kerinduan kepada sang putri,dan akhirnya kini Kana ada dihadapan nya.
"Akhirnya kamu pulang sayang, Mama kangen banget An," ucap Amanda seraya mengecup pipi Kana dengan penuh sayang.
Begitu besar kerinduan yang Mamanya rasakan, sungguh Kana merasa bersalah, karena tanpa sadar telah menyiksa kedua orang tuanya sendiri. Membiarkan mereka menahan rindu karena tidak bertemu dengan nya.
"Maafin Kana Mah, maaf," ucap Kana penuh penyesalan, kejadian 4 tahun lalu sudah menghancurkan masa depan dan hidupnya. Sampai-sampai ia merelakan memendama rindu kepada kedua orang tuanya.
"Jangan pergi lagi An, jangan tinggalkan Mama dan Papa, kami butuh kamu, kami kesepian," mohon Amanda, tangisnya semakin terdengar pilu.
Kana melepaskan dekapan nya, wanita cantik itu mengusap air mata Amanda. "Kana janji Mah, Kana akan tetap disini bersama Papa dan Mama," ucap Kana yakin.
Amanda mengangguk, dia tidak akan sanggup jika Kana harus pergi lagi. Apa lagi kondisi Wijaya tengah memprihatinkan seperti ini.
"Gimana kondisi Papa Mah?" tanya Kana seraya melirik ranjang dimana Ayah nya terbaring tidak sadarkan diri.
"Belum ada perubahan sayang," jelas Amanda, mereka berjalan beriringan mendekati ranjang.
Kana kembali terhenyak melihat kondisi sang Papa, pria yang selalu terlihat tegas, berwibawa serta ramah itu kini tengah melawan rasa sakitnya.
"Pah, ini Kana, Papa cepat sadar ya, Papa ingin Kana pulang kan, lihat, Kana sudah pulang Pah, Kana janji akan membantu Papa diprusahaan, asal Papa segera sadar," bisik Kana tepat ditelinga Wijaya.
Meski mata Wijaya tertutup, namun Kana yakin jika Papa nya mendengar apa yang ia katakan. Sungguh Kana tidak sanggup jika terjadi sesuatu kepada sang Papa.
***
Ditempat lain Eigle corp. Tengah berbahagia, karena mereka lagi-lagi mampu mengalahkan Dhanijaya group. Tentu hal itu membuat nama Revan terus mendapat sanjungan, bukan hanya Dewan Direksi dan Papa nya. Namun juga para pembisnis lain yang tahu akan kemenangan itu.
Sampai saat ini belum ada yang tahu, jika Wijaya sedang tidak sadarkan diri akibat syok. Dhanijaya group sengaja tidak membiarkan hal ini bocor, apa lagi sampai ada colega atau pesaing nya yang tahu. Sudah tentu jika sampai ada yang tahu, banyak orang akan memanfaat kan kesempatan ini. Apa lagi saham Prusahaan Dhanijaya tengah menurun.
"Sial, lagi-lagi anak haram itu yang mendapatkan. Sanjungan," umpat Tirana.
"Sudah lah Mah, jangan marah-marah terus," ucap Rayan dengan santainya.
"Kamu ini, terus saja seperti itu. Meski kamu pewaris Eigle, tapi kalau kamu haya bersantai seperti ini, mana mungkin Direksi menyetuji kamu mengendalikan prusahaan, Rayan!" bentak Tirana, terkadang ia sangat kesal menghadapi sikap putra nya. Namun ia juga tidak mungkin bersantai membiarkan nama Revan menjadi topik perbincangan seluruh pembisnis.
Tirana pergi begitu saja meninggalkan putranya, dan berjalan menghampiri Suaminya. "Pah, dimana Revan?" tanya Tirana, sedari pagi dia tidak melihat keberadaan Revan dilingkungan Prusahaan.
Radit yang tengah fokus menatap laptop-nya mendongak. "Papa memberi dia cuti selama sepekan, ya hitung-hitung bonus karena dia sudah memenangkan tander," sahut Radit, membuat Tirana terbelalak.
"Loh, kok Papa tidak izin dulu kepada Mama, bagaimana pun Revan itu bekerja disini Pah, jadi tidak bisa seenak nya," omel Tirana.
"Sudah lah Mah, tidak perlu diperbesar, kalau bukan karena Revan apa Mama fikir kita bisa mengalahkan Dhanijaya," Radit berusaha membela putra sulung nya.
Bruakk...
Melihat itu Radit hanya menggelengkan kepala, sikap Tirana terus saja begitu. Mungkin jika prusahaan ini bukan milik orang tua Tirana, sudah sedari dulu Radit pergi meninggalkan wanita menyebalkan seperti istri nya itu.
***
Dua hari berlalu pasca kembali nya Kana dari NYC, bersyukur kemarin Wijaya sudah sadarkan diri. Tentu pria paruh baya itu begitu senang, mendapati putrinya ada disana. Bahkan Wijaya tidak sabar ingin segera kembali kerumah.
"Sabar ya Pah, nanti setelah kondisi Papa sudah lebih baik, pasti Papa boleh pulang kok," saat ini Kana tengah menyuapkan bubur untuk Ayah nya.
"Hah.. Rasanya Papa sudah tidak sabar untuk segera pulang Nak," ucap Wijaya.
Amanda dan Kana tersenyum, mereka sangat bersyukur karena kondisi Wijaya sudah berangsur pulih.
"Nanti setelah ini, Papa ingin kamu bergabung diperusahan," ujar Wijaya, pria itu menatap Kana penuh permohonan.
Kana mengangguk, meski awalnya dia tidak ingin ikut andil mengurus prusahaan, namun setelah melihat Papanya seperti ini, mau tidak mau Kana menyetujui keinginan Wijaya.
"Iya Pah, Kana akan menuruti keinginan Papa," ucap Kana yakin.
Sungguh hal itu membuat Wijaya begitu senang, Dia yakin jika Kana bisa mengembalikan ekstitensi prusahaan.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu membuat perbincangan mereka terhenti. "Masuk," pekik Amanda.
Anton yang bekerja sebagi tangan Kanan sekaligus orang kepercayaan Wijaya berjalan masuk kedalam ruangan itu.
"Maaf mengganggu Tuan," ucap Anton sungkan.
Wijaya mengangguk. "Ada apa?" tanya nya.
Anton menyodorkan Majalah bisnis yang baru saja ia dapatkan. Terpampang jelas dalam surat kabar hari ini, jika saham prusahaan Dhanijaya menurun akibat kalah dalam lelang melawan Eigle corp.
"Surat kabar hari ini Tuan," ucap Anton, sebenarnya dia sedikit takut memberikan kabar itu, namun bagaimanapun Wijaya harus tahu. Meski Mereka telah berusaha meredam berita yang beredar, namun sudah pasti ada beberapa lawan bisnis yang memanfaatkan itu.
Wijaya membuka setiap lembar surat kabar tersebut. Emosinya terasa kembali menggebu, beruntung Kana segera mengambil alih majalah tersebut, dia tidak ingin kondisi sang Ayah kembali menurun karena membaca berita itu.
"Sungguh pemuda itu sangat pintar, andai saja kita bisa membuat Revan berkerja diperusahaan, sudah pasti Dhanijaya akan semakin maju," ucap Wijaya, seraya membayangkan wajah berwibawa Revan lawan bisnis nya. Dia sama sekali tidak tahu jika Revan anak simpanan dari Radit.
Kana membuka setiap lembar majalah tersebut, nama Revan berkali-kali disebutkan dalam setiap judul majalah. Membuat Kana penasaran akan sosok pria itu.
Revan, Pria berusia 32 tahun, pembisnis muda nan tampan yang tengah menjadi incaran para pengusaha. Salah satu judul Majalah yang baru Kana baca.
Kana membuka lembar berikutnya, terpampang jelas foto seorang pria disana, membuat Kana terkejut. Tangan nya bergetar sangking kagetnya. Sampai-sampai Kana menjatuhkan majalah tersebut, dan membuat mereka kaget. Meski tidak mengingat jelas, namun Kana yakin akan sesuatu.