One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 41. Rindu Tak Berujung



"Manusia brengsek." Revan memukul kemudi melampiaskan amarah nya. Pria itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan keselamatan nya.


Revan memutuskan melajukan mobilnya ke Hotel dimana dia Kana bermalam empat tahun lalu. Tidak ada tempat untuk nya mengadu atau bahkan pulang. Ingin rasanya Revan memutuskan kembali ke New York menemani sang Mama. Namun entah mengapa, setiap kali Revan ingin berhenti dan kembali, sang Mama selalu melarang. Rasa bersalah membuat Mamanya menuruti permintaan Radit agar Revan membantu Eigle. Padahal semua yang terjadi bukan salah Mamanya, wanita paruh baya itu tidak mengetahui jika Radit sudah menikah, hingga dia melakukan dosa dengan cara menikahi suami orang lain.


"Dasar tua bangka tidak berguna," maki Revan pada ayahnya.


Kana berjalan beriringan bersama Anton, banyak pegawai menatap penuh tanya pada wanita cantik yang berjalan bersama asisten Tuan besar Wijaya itu.


Tidak banyak yang tahu jika Kana merupakan anak tunggal dan pewaris widjaya grup. Hanya pertinggi-petinggi dan sebagian karyawan saja yang tahu. Rencananya Wijaya akan memberitahu pada media setelah kondisinya pulih. Dia juga akan menyerahkan kursi jabatan nya pada Kana.


"Selamat siang pak." Para karyawan membungkuk hormat menyambut kedatangan Anton.


Anton mengangguk. "Tolong minta bagian HRD keruangan ku," printahnya pada salah satu staf yang ada dilobby.


"Baik pak," sahut pegawai itu.


Anton dan Kana menaiki lift menuju ruangan Kana. Anton berjalan terlebih dahulu untuk membukakan pintu. "Silahkan non," ucap Anton.


Kana melenggang masuk. Pandangan nya menyapu setiap penjuru ruangan. Mungkin ada beberapa hal yang akan Kana tambahkan dan ubah diruangan itu.


Tidak lama terdengar suara seorang wanita menginterupsi dari arah pintu. "Selamat siang pak Anton," sapa kepala bagian HRD yang Anton minta datang.


Kana menjatuhkan bobot tubuhnya diatas kursi. Di ikuti Anton yang berdiri tidak jauh darinya. "Masuk," printah Anton.


"Ada apa pak?" tanya wanita itu.


Anton mulai memperkenalkan siapa Kana pada pegawai itu. Wanita yang bertubuh gempal itu mendongak, cukup terkejut mengetahui Kana adalah anak tunggal Tuan Wijaya. Usianya terlihat masih sangat muda, wajahnya yang cantik dan proposional bak model pastinya akan membuat siapa saja memujinya.


Kana mengangguk. "Siska, tolong carikan saya asisten wanita! Kriteria yang saya mau pastinya cerdas, gesit dan berpendidikan tinggi." Baru saja Kana menyebutkan persyaratan untuk menjadi asisten nya.


Siska mengangguk patuh. "Siap buk," jawab wanita itu.


Cukup lama mereka berbincang-bincang, tak lama Siska kembali keruangan nya karena hari mulai sore, pegawai itu sebentar lagi mulai meninggalkan gedung Widjya group.


Usai memesan kamar Hotel, Revan berjalan ketepi pantai dimana dia dan Kana bertemu beberapa waktu lalu. pria itu duduk diatas pepasiran memandangi lautan yang terbentang luas sembari menenggak minuman kaleng yang ia bawa.


Pandangan nya nanar menatap Matahri yang hampir terbenan. Lagi dan lagi dia harus merasa kecewa, andai Kana tidak pergi lagi, mungkin Revan tidak akan merasa sesakit ini. Baru saja hidupnya akan berwarna, namun kini harus kembali gelap gulita.


Revan mengeluarkan ponselnya. Pria itu mencoba meminta seseorang mencari keberadaan Kana. Dia tidak ingin tinggal diam, jika memang apa yang petugas Hotel itu katakan, maka Revan yakin jika Kana masih berkeliaran di Jakarta.


"Halo," sapa seorang pria dari sebrang telpon.


"Halo bro, maaf menganggu. Apa gua bisa minta tolong?" tanya Revan pada seorang teman.


"Wah, boleh banget. Minta tolong apaan sih?" tanya pria itu.


Revan menjelaskan maksud dan tujuan nya. Tentu pria itu menyambut dengan senang hati permintaan Revan. Revan mengirimkan foto dan nama samaran Kana pada kenalan nya. Selesai dengan urusan nya, Revan memutuskan sambungan telpon itu.


Revan terdiam. Hingga tak lama dering ponselnya mengudara membuyarkan keheningan. Lagi-lagi Radit menghubungi nya. Revan membiarkan saja tanpa berniat menjawab panggilan dari sang ayah. Pasti pria paruh baya itu akan memaki dirinya karena telah meyakiti Rayan dan Tirana. Revan tidak ingin perduli, saat ini dia hanya ingin mencari ketenangan meski sebenarnya kegelisahan yang ia dapatkan.


Revan mengernyitkan dahi, tiba-tiba saja dia mengingat kontrakan yang sempat Kana tempati beberapa waktu lalu. Pria itu bangkit, dan bergegas kembali ke Hotel untuk mengambil mobilnya. Revan harus memastikan kesana, barang kali saat ini Kana kembali ketempat itu. Tidak ada salahnya berusaha mencari, dia tidak ingin hanya berdiam diri. Banyak hal yang ingin Revan tanyakan, apa dan mengapa Kana pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan bahkan membawa barang-barang pemberian nya. Jika Kana memang wanita malam seperti dugaan petugas Hotel itu. Seharus nya Kana merampas barang-baranya dan membawa semua pemberian dia. Namun ini Kana bahkan meninggalkan ponsel yang ia berikan. Tentu Revan begitu penasaran apa alasan Kana bersikap seperti ini.