
"Maaf mengganggu waktunya," ucap Revan kepada dua petugas itu.
"Ahh, iya pak. Ada yang bisa dibantu?" tanya mereka.
Revan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas, pria itu menunjukan foto Kana yang berhasil dia ambil secara candid.
"Saya tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Kalau boleh tahu, wanita yang anda maksud tadi, apakah wanita ini?" tanya Revan seraya menunjukan foto Kana.
Salah satu petugas bernama Rudi mengambil ponsel Revan, pria itu menelisik foto seorang wanita yang ada didalam ponsel itu. "Iya benar pak, wanita ini yang tadi pagi minta saya antarkan," jawab Rudi.
"Kemana? Kemana anda mengantar nya?" tanya Revan tak sabaran.
"Tadi dia meminta diantar ke apartemen yang ada dikawasan Senayan, setelah itu minta diturunkan di bundaran HI," jelas petugas itu.
Revan mengernyitkan dahi. Itu artinya Kana sempat datang ke apartemen terlebih dahulu. Mungkin ada sesuatu yang ia ambil, atau memang sebenarnya saat ini dia masih diapartemen. Tapi petugas itu mengatakan Kana meminta diturunkan dibundaran HI.
"Maaf pak, apa anda tahu kenapa dia minta diantarkan ke bundaran HI?" tanya Revan lagi.
"Saya tidak tahu pak, saat sampai disana sudah ada mobil mewah yang datang menghampiri, sepertinya client wanita itu," sahut Rudi lagi.
Revan menghela napas kasar. Dia tidak ingin menduga-duga, Revan yakin jika Kana bukan wanita seperti itu. Beruntung kini dia sudah memiliki foto dan tahu nama Kana, sehingga bisa memudahkan nya mencari keberadaan wanita itu. Revan yakin Kana masih bersembunyi di Jakarta.
Revan melajukan mobil nya menuju apartemen, dia harus memastikan keberadaan Kana terlebih dahulu, barulah mendatangi rumah sakit. Dia harus menyelesaikan urusan nya dengan Rayan terlebih dahulu. Barulah Revan bisa dengan tenang mencari Kana sembari menyelesaikan pekerjaan nya, namun dalam hatinya, Revan sangat berharap bahwa saat ini Kana masih berada di apartemen nya.
Mobil itu ia parkirkan didepan lobby. Revan berjalan cepat menuju unit apartemen Kana, pria itu begitu tergesa. Sampai di depan pintu apartemen Kana, Revan segera membukanya.
"Ren, Rena," seru Revan seraya berjalan kesana kemari. berharap mendapati keberadaan Kana disana. Namun lagi dan lagi Kana pergi tanpa meninggalkan jejak apapun. Didalam kamar itu masih tersusun rapi barang-barang yang Revan berikan untuk Kana. wanita itu tidak membawa apapun, bahkan ponsel pun ia tinggalkan, membuat Revan semakin frustasi.
Revan terduduk di atas ranjang aroma parfum Kana masih dapat iya rasakan, membuatnya terbayang kenangan indah semalam, di mana Kana menerima sentuhannya tanpa penolakan. Namun sial, pagi hari wanita itu sudah pergi tanpa jejak meninggalkannya seorang diri seperti empat tahun yang lalu.
"Rena," pekik Revan seraya mengacak-acak rambutnya.
Siang hari Kana sudah rapih dengan penampilan barunya. Celana dasar putih serta jas putih membalut indah tubuh Kana. Tadi dia meminta Anton membawakan pakaian kerja untuknya. Rencananya siang ini Kana akan datang mengunjungi perusahaan, sekaligus mencari asisten wanita untuk dia sendiri.
Sudah hampir dua pekan Kana tidak pulang ke rumah orang tuanya, dan rencananya nanti setelah pulang dari kantor dia akan datang mengunjungi kediaman orang tuanya. Kana akan memberitahukan kedatangan Yasmin kepada papa dan Mamanya. Dia yakin jika sang Mama akan sangat senang mendengar kabar tersebut.
"Apa berkas-berkas yang aku kirim sudah disalin Ton?" tanya Kana pada tangan kanan Widjaya group itu.
Kana menganggukan kepala. "Jika sudah selesai cepat ajukan proposal kita! Jangan sampai Eigle mendahului, bisa saja orang akan mengira kita yang mengcopy berkas mereka," ucap Kana menginterupsi.
"Baik non," sahut Anton mantab.
Dengan malas Revan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit di mana Rayan dirawat. Saat ini dia sama sekali tidak bersemangat, tidak peduli apa yang akan Tirana maupun Papanya lakukan. Jika pada akhirnya Tirana memintanya berhenti dari Eigle, maka dengan senang hati Revan akan mengundurkan diri. Toh dia juga sudah sangat lelah menuruti kemauan Radit dan Tirana. Revan bisa kembali ke New York menemani sang Mama sembari mencari keberadaan Kana.
Setelah memarkirkan mobilnya Revan berjalan masuk mencari ruang rawat Rayan. Tadi sang Papa sudah memberitahu di mana Rayan di rawat. sampai di ruangan itu dia sudah disambut tatapan tajam Tirana.
"Anak kurang ajar, dasar anak haram. Apa yang sudah kau lakukan pada anak ku? Ibu dan anak sama saja,"seru Tirana melihat Revan masuk kedalam ruang perawatan putranya.
Ucapan Tirana membuat amarah Revan memuncak, dia bisa menerima jika Tirana memaki atau menghina dirinya. Namun Revan tidak akan pernah bisa terima jika ada yang berani menghina Mamanya.
Tangan Revan mengepal hingga buku jarinya memerah. Tatapan nya begitu tajam menelisik Tirana yang kini sedikit menciut melihat kemarahan diwajah Revan.
Revan melangkah kan kaki mendekati Tirana, membuat Tirana bringsut mundur. Wanita paruh baya itu menatap sekeliling mencari sesuatu untuk berjaga-jaga barang kali Revan berbuat nekat. Apa lagi saat ini Radit tengah keluar membeli sesuatu, hanya ada dia dan Rayan yang masih tertidur disana.
"Apa yang kamu mau Revan?" bentak Tirana saat Revan semakin mendekatinya.
Tangan Revan terulur mencekik leher Tirana. "Jangan pernah hina ibu ku! Harusnya kau salahkan suami mu, bukan ibu ku," tekan Revan tidak terima.
"Revan," seru Radit yang baru saja masuk kesana. Dia begitu terkejut mendapati putra sulungnya mencekik leher Tirana.
Tirana menghela napas, lidah nya terasa kelu tak mampu berucap. Meski Revan mencekik nya tidak terlalu kuat, namun itu membuat leher Tirana sakit, dia bahkan begitu takut dengan aksi nekat anak tirinya.
"Uhuk.. Uhuk.." Sudut mata Tirana mengeluarkan air mata, wanita itu semakin membenci Revan apa lagi ibunya. Dalam hati dia terus mengucapkan sumpah serapah.
"Apa-apaan kamu? Kenapa kamu mencekik ibu mu?" bentak Radit.
Revan terkekeh. "Ibu ku hanya ada satu, jadi jangan pernah mengatakan dia ibu ku. Urus istrimu itu! agar bisa menjaga lidahnya dan tidak menghina ibu ku yang begitu baik." Revan berlalu meninggalkan ruang rawat Rayan, pria itu menghempaskan pintu dengan sangat kuat, membuat Tirana dan Radit terlonjak kaget. Bahkan Rayan yang tengah terlelap ikut terjaga.
"Anak haram tidak tahu diuntung. Lihat itu anak mu yang paling baik, yang terus kau puja-puja," ucap Tirana dengan kesal.
Radit menghela napas. Belum selesai satu permasalahan, dan kini sudah timbul masalah lain. Sebagai seorang ayah dan suami tentu Radit merasa sangat gagal. Dia tahu betul seperti apa Revan, anak sulung nya tidak mungkin melakukan hal nekat jika Rayan maupun Tirana tidak memancing nya.