
Sepanjang malam Kana terus saja gelisah, ia bahkan tidak bisa memejamkan mata. Meski Kana sudah yakin untuk membalaskan dedamnya, namun sebaagi seorang wanita, tetap saja Kana memiliki rasa takut.
Kana terduduk diatas ranjang nya, wanita itu melirik jam yang tergantung pada dinding. Saat ini jarum jam sudah menunjukan hampir pukul enam pagi. Entah mengapa tiba-tiba saja Kana ingin mencari tahu akun sosisal media milik Revan.
Kana menyambar ponselnya, dia memutuskan mencari tahu apa saja keseharian Revan dari akun sosial media milik nya. Kebanyakan para pembisnis sukses mempunyai akun sosial media untuk mengabadikan moment-moment keseharian mereka.
Wanita cantik itu mengawali dengan mencari tahu dari beberapa sumber media bisnis. Terpampang dengan jelas biodata Revan Mahardika dan satu akun sosial miliknya, melihat itu Kana tersenyum senang, dengan segera Kana mencari akun milik Revan.
"Sial, akun nya dikunci," umpat Kana kesal. Namun Kana tidak kehabisan ide, iya membuat akun lain dengan nama orang lain agar Revan tidak menyadari siapa dirinya.
Entah sebuah keberutungan atau apa, Kana langsung bisa melihat beberapa postingan pada akun Instagram Revan. Kebanyakan pria itu hanya memposting soal bisnis dan jarang ada fotonya disana.
Kana kembali mengamati dengan teliti, dia menemukan foto Revan yang baru saja di upload dua hari lalu, dimana pria itu berdiri dibalik jendela besar.
Aku Berharap kita bertemu lagi, aku masih menunggu mu disini..
Sebuah caption berbahasa inggris menyertai foto itu. Meski sudah berlalu beberapa tahun, namun Kana masih bisa mengingat jika kamar Hotel dimalam itu memiliki desain jendela seperti pada foto Revan. Entah lah mungkin hanya perasaan nya, Kana merasa ucapan itu ditujukan untuk dirinya.
Kana kembali menggulir layar ponselnya kebawah, hampir dua ratus postingan, namun hanya ada enam foto Revan. Satu foto yang diposting dua hari lalu, dan empat lagi diposting dengan tanggal yang sama namun dengan tahun berbeda. Tanggal dimana malam terkutuk itu terjadi. Kana mendesis, sekarang dia yakin, jika caption foto Revan yang baru ditulis ditunjukan untuk nya.
"Apakah kamu benar-benar menunggu pertemuan kita?" guman Kana.
Foto terakhir yang Kana lihat adalah foto Revan sewaktu balita, mungkin usianya masih lima atau enam tahun. Wajah pria itu sangat mirip dengan putranya. Kana yakin jika Revan melihat Arfa, pasti dia akan langsung tahu jika Arfa darah daging nya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu bertemu dengan putra ku," ucap Kana lagi, dia begitu kesal mengapa wajah Arfa harus sama persis dengan wajah sang Ayah.
Kana meletakan ponselnya, berbagai rencana sudah berlalu lalang memenuhi kepala. Kana sudah meyakinkan diri jika ia akan memulai aksinya. Enak sekali hidup Revan, selama empat tahun pria itu bisa menikmati hidup dengan tenang, karir nya semakin melejit, berbeda dengan Kana yang harus menderita akibat ulah bejat Revan.
"Mari kita bertemu, aku ingin tahu seperti apa rekasi mu," guman Kana lagi. Kana mengubungi Anton, meminta pria itu mencari tahu dimana lokasi Revan saat ini, dan apa yang tengah pria itu lakukan.
***
Esok Hari..
Didalalm kamar Hotel seorang pria tampan baru saja terbangun, sudah 4 hari ini dia bermalam dikamar Hotel itu. Kamar dimana dia pernah menghabiskan malam indah dengan seorang wanita. Wanita yang sampai saat ini masih Revan tunggu kehadiran nya.
Hari-hari membosan kan selalu Revan habiskan dengan bermalam dihotel itu, entah apa yang ada didalam fikiran nya, mengapa juga dia terus berharap bisa bertemu dengan gadis di malam itu.
Usianya sudah menginjak 32 tahun, dimana kebanyakn pria seusia Revan sudah menikah dan memiliki anak. Namun entah lah, Revan sama sekali belum tertarik untuk menjalin komitmen. Sepanjang waktu hari-hari nya selalu dihabiskan dengan bekerja dan bekerja.
Sebenarnya Revan merasa bosan, apa lagi jika harus berdebat dengan Rayan prihal prusahaan. Tuduhan Tirana jika ia ingin merebut Eigle corp dari tangan Rayan, benar-benar memuakan untuk Revan.
Revan berjalan malas menuju balkon, cuaca pagi ini benar-benar cerah, namun tidak secerah kehidupan nya. Pandangan Revan menyapu sekeliling pantai yang terletak tepat disisi Hotel.
Ombak lautan mengikis pepasiran, membuat setiap mata memandang merasa senang. Begitu indah ciptaan Tuhan, laut membentang bak sebuah lukisan.
"Apa kamu sudah menikah? Apa kamu hidup dengan baik?" guman Revan seraya mengingat-ingat wajah Kana saat tengah tersenyum.
"Pasti saat ini kamu sudah menikah!" Pria tampan itu terus mengoceh seperti orang gila.
Revan meregangkan tangan, merasakn hembusan angin laut yang menerpa wajahnya. Pria itu memutuskan kembali masuk dan membersihkan diri, mungkin jalan-jalan di bibir pantai bisa membuatnya sedikit fresh.
Usai membersihkan diri Revan memutuskan berjalan-jalan diarea pantai. Selama ini Revan selalu membatasi diri, sehingga ia tidak memiliki teman dekat.
Revan berdiri tepat dibawah pohon rindang, hembusan angin pantai terasa sangat kencang disiang ini. Pria itu mencari tempat duduk yang tidak terlalu ramai orang.
Dua hari lagi masa cuti nya berakhir, dan dia harus kembali melakukan rutinitas nya yang sangat amat membosankan. Mungkin orang-orang berfikir jika Revan penyuka sesama, karena belum pernah sekalipun terdengar berita Revan tengah berkencan dengan seoranng wanita. Bahkan Tirana menyerah membuat Revan tergoda dengan wanita-wanita suruhan nya. Sudah berkali-kali Tirana mengganti asisten Revan, namun tidak ada satupun dari mereka yang mampu mendekati nya.
Revan memejamkan mata, menikamti semilir angin itu. Entah mengapa tiba-tiba bayangan malam panas itu kembali menari-nari dalam ingatan nya. Membuat sekujur tubuh Revan meremang, malam itu untuk pertama kalinya Ia menggauli seorang wanita, dan sampai saat ini Revan belum pernah melakukannya lagi. Bukan karena dia tidak memiliki nafsu, namun karena tidak ada satu wanitapun yang mampu membuat Revan tergoda.
Sebagai pria dewasa yang sudah pernah melakukan aktifitas seperti itu. Tentu saja terkadang jiwa kelelakian nya meronta meminta disalurkan. Namun lagi-lagi tidak ada yang bisa membuat Junior nya mampu berdiri tegak.
Revan berdecak kesal, kepada wanita yang mahir menggoda pun dia tidak bisa merasakan apapun. Namun hanya dengan membayangkan kenangan malam empat tahu lalu adik-nya mampu bereaksi.
"Awww.." pekik seorang wanita yang beridiri tidak jauh dari Revan.
Mendengar itu Revan membuka matanya, Tidak jauh darinya seorang wanita tengah menunduk, entah apa yang terjadi, wanita itu sepertinya terluka karena terus mengguman. Rambut panjang nya tergerai indah menutupi sebagian wajahnya. Revan yang merasa kasihan karena wanita itu terus mengaduh, bergegas berjalan mendekat.
"Anda tidak apa-apa Nona?" tanya Revan.
Wanita itu mendongak, tatapan mereka saling beradu. Keduanya nampak terkejut, terutama Revan, dia bahkan sampai berkali-kali mengucek kedua matanya sangking tidak percaya dengan apa yang dilihat nya.