One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 16. Keputusan Kana



"Ada apa An?" tanya Amanda, wanita paruh baya itu mengambil majalah yang terjatuh diatas lantai.


Kana menghela nafas, sebisa mungkin kana harus bersikap biasa, dia tidak ingin orang tuanya curiga. "Kana nggak papa Mah," elak Kana.


Jantung Kana berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya. Selama empat tahun Kana berusaha melupakan bayangan wajah pria yang sudah merenggut masa depannya, namun nihil, bayangan seorang pria tertidur lelap disisinya masih tergambar jelas. Dan kini Kana harus kembali diingatkan dengan kenangan pahit itu.


"Pah, apa laki-laki didalam majalah itu yang sudah mengalahkan prusahaan kita?" tanya Kana dengan gugup.


Wijaya mengangguk. "Iya, maka dari itu, Papa berharap kamu mau membantu Papa diperusahaan. Papa yakin jika kamu mampu bersaing dengan Revan, kalian masih sama-sama muda, mungkin pemikiran anak-anak muda seperti kalian yang lebih disukai dizaman moderen seperti saat ini," jelas nya.


Tiba-tiba saja keringat membasahi dahi Kana, apa mungkin dia sanggup bertemu dengan pria itu. Mengingatnya saja sudah membuat Kana melemas.


"Papa dengar dia masih lajang An," ucap Wijaya lagi.


Kana mendongak menatap Wijaya, dia belum bisa berkomentar apa-apa. Rasanya masih tidak percaya jika takdir harus mempertemukan dia dengan ayah kandung Arfa. Padahal Kana selalu berharap jika dia tidak akan pernah bertemu dengan pria itu lagi.


"Coba kamu fikirkan An, kapan kira-kira kamu siap terjun menjalankan Prusahaan, Papa berharap secepatnya," desak Wijaya.


"Papa! tolong jangan terlalu memaksa Kana, bagaimana pun Kana masih harus banyak belajar," ucap Amanda kurang setuju.


"Kana putri kita yang cerdas, dia tidak akan membutuhkan waktu lama untuk belajar bisnis, apa lagi ada Anton yang akan mendampingi nya," ucap Wijaya yakain.


"Boleh Kana minta waktu untuk berfikif dulu Pah," pinta nya.


Wijaya mengangguk. "Tentu, Papa memberi mu waktu," sahut nya.


Kemarin Kana sudah menemani Papanya bermalam dirumah sakit, dan malam ini tiba giliran Amanda yang bergantian menemani Wijaya. Kana menatap setiap bangunan yang ia lewati, fikirannya tengah berkelana, memikirkan apa yang kan terjadi jika ia bertemu dengan pria itu.


"Sepertinya anda tengah gelisah Nona?" tanya Anton.


Kana menatap kedepan, dimana Anton tengah duduk dikursi kemudi. Pria itu melirik kana dari kaca rear-vision mirror, sedari tadi anak majikan nya itu nampak cemas memikirkan sesuatu. Sehingga Anton memberanikan diri bertanya.


"Tidak Pak, aku hanya lelah," jawab Kana mengelak.


"Jika ada yang ingin anda tanyakan, ada boleh bertanya pada saya," ucap pria berusia 46 tahun itu.


Kana tersenyum. "Baik, saya akan bertanya jika ada hal yang ingin saya ketahui," sahut Kana.


Kana berbaring diatas ranjang nya. Meski sudah di Jakarta selama tiga hari, namun baru hari ini dia kembali tidur diranjang nya. Semua ingatan masa lalu tiba-tiba kembali menghampiri dirinya. Rindu, Kana sangat merindukan msa-masa dulu. Merindukan sahabat-sahabat nya, usia nya sudah menginjak 26 tahun, mungkin teman-teman Kana sudah menikah, dia bahkan sengaja memutuskan komunikasi dengan semua sahabat-sahabat nya. Hanya karena tidak ingin ada orang yang tahu tentang kehidupan Kana di New York.


Kana menyambar ponsel yang tergeletak diatas nakas. Wanita itu menghubungi Yasmin, dia sudah sangat rindu pada putranya, rasanya Kana ingin sekali membawa Arfa ke Jakarta, namun semua tidak mungkin dia lakukan dalam waktu dekat. Apa lagi kondisi sang Papa tidak setabil. Sepintar apapun Kana menyimpan bangkai, pastilah akan tercium juga baunya, dan Kana belum siap jika Mama dan Papa nya tahu apa yang selama ini Kana rahasiakan. Apa lagi Kana baru saja mendapat kenyataan yang sangat mengejutkan, dimana Ayah kandung Arfa, laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya, pria itu juga musuh perusahana Dhanijaya.


"Hallo Mami," sapa suara mungil dari sebrang telpon.


"Hallo Boy, What are you doing?" tanya Kana.


"I'm coloring Mami," ucap Arfa antusias seraya menunjukan hasil mewaraninya.


"Good job Boy," ucap Kana mengapresiasi.


Cukup lama Kana berbicang-bincang, menanyakan kondisi Yasmin, Arfa serta Mrs. Lena. Wanita itu menyudahi panggilan telpon nya, karena hari sudah semakin larut. Kana bergegas membersihkan diri sebelum menyantap makan malam nya.


Kana melangkahkan kaki kebawah, meski tidak nafsu untuk makan, Kana harus menjaga diri agar tubuhnya tetap baik-baik saja.


"Non Kana mau makan malam?" tanya Minah.


Kana mengangguk, suasana rumah sudah sangat sepi, hanya tinggal Minah disana, wanita paruh baya itu sepertinya tengah membuat MIe instan. "Non Kana mau makan apa?" tanya Minah.


"Sama kayak yang mbok buat saja," ucap Kana.


"Non Kana yakin mau memakan mie instan?" tanya MInah tdak percaya, apa lagi dulu Kana selalu dilarang oleh Ibunya jika ingin menyantap mie instan.


Kana kembali mengangguk. "Kana yakin, sudah lama Kana tidak makan mie instan mbok," jelas nya.


Minah mengangguk, wanita paruh baya itu menuruti apa yang Kana mau. Mereka makan bersama, Minah banyak bercerita kondisi rumah saat tidak ada Kana disana, lagi-lagi ucapan MInah membuat Kana bersedih. Apa lagi saat Minah mengatakan Mamanya sering melamun seorang diri, dan terkadang sering tidur dikamar Kana sat Papanya dinas diluar Negri maupun luar kota.


Kana menyantap mie instan itu dengan deraian air mata, tidak mampu ia bayangkan seperti apa suasana rumah sebesar ini jika Mama nya hanya seorang diri. Meski banyak ART disini, namun tetap saja jika malam mereka akan beristirahat ditempat masing-masing.


Kebencian dihati Kana untuk Revan semakin besar, jika bukan karena Revan, tidak mungkin Kana tega melakukan ini pada Papa dan Mamanya. Kana membulatkan tekat, dia sudah meyakinkan diri akan membantu Papanya memimpin prusahaan. Kana akan membalas semua derita yang selama ini sudah keluarganya rasakan. Kana ingin bersikap Masa bodo, walau pria itu ayah kandung Arfa, namun Kana sudah yakin akan melakuakn semua ini.


Kana ingin bangkit, Kana ingin membalas semuanya, dia yakin jika dengan melakukan ini bisa sedikit mengurangi sesak dihatinya. Dia tidak ingin lagi bersembunyi dan lari dari semua derita ini. Ini saat nya Revan menyesali perbuatan nya pada Kana, karena telah membuat hidup Kana sengsara selama empat tahun ini.


"Revan Mahardika, kamu akan merasakan sakit yang aku rasakan selama ini," guman Kana dalam hatinya.