
Menempuh perjalan kurang lebih selama 21 jam lamanya. Akhirnya Kana kembali menginjakan kaki di Tanah Air, untuk pertama kalinya Kana kembali pulang ke Negaranya, setelah 4 tahun menempuh pendidikan di New York.
Wanita cantik itu menyeret kopernya menghampiri orang kepercayaan Wijaya yang ditugaskan untuk menjemput dia di Bandara. Kana sedikit bingung, karena sudah lama sekali dia tidak menginjakan kaki di Bandara SOETTA, pandangannya memindai sekeliling, mencari keberadaan seseorang yang mungkin tengah mencari dirinya juga.
Hingga tiba-tiba tubuh tinggi tegap berdiri tepat disampingnya, pria itu membungkukan sedikit kepala memberi hormat kepada Kana. "Non Kana?" tanya pria itu memastikan. Membuat Kana menganggukan kepala sebagai respon.
"Saya Anton, orang kepercayaan Tuan besar, saya diminta Nyonya besar menjemput Non Kana secara langsung," jelas pria yang mengenakan kacamata dan jaket hitam itu.
Pria bernama Anton itu menyeret koper Kana menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Memasukan koper Kana kedalam bagasi dan membuka pintu agar Kana masuk kedalam mobil. Dirasa semua sudah siap, Anton mulai melajukan mobil itu meninggalkan area Bandara.
"Bagaimana kondisi Papa saya?" tanya Kana seraya melirik luar jendela.
"Belum ada prubahan Non," jelas Anton singkat.
Kana terdiam mendengar ucapan pria itu, dan kembali fokus menatap bangunan yang dia lewati. Empat tahun bukan waktu yang sebentar, bahkan kini Jakarta saja sudah banyak sekali perubahan, hanya satu yang tidak berubah. Jalanan disana tetap macet.
Mungkin jika Kana mengendarai mobil dijalanan Jakarta, dia akan sedikit bingung, karena sudah banyak sekali yang berubah disana. Kana menghela nafas dalam, tidak disangka jika dia akan kembali menginjakan kaki diKota kelahirannya, padahal Kana sudah memutuskan untuk melanjutkan hidup di NYC bersama tante dan anaknya. Namun keadaan membawa dia kembali ke kota yang penuh dengan kenangan pahit dan manis itu.
Awalnya Kana sedikit bingung, karena dia tidak mungkin meninggalkan Arfa disana, sedangkan dia berada jauh di Indonesia, namun Yasmin meyakinkan Kana untuk kembali.
Flashback,,
"An, apa yang sebenarnya terjadi?" Yasmin ikut panik mendengar kabar mengejutkan itu. Dia masih belum percaya dengan perkataan Kakak nya.
Kana menggeleng, dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disana, karena Mamanya belum mengatakan dengan jelas. Amanda hanya meminta dia kembali ke Indonesia dengan segera. "Kana juga nggak tau tan," jawab Kana yang nampak masih bingung.
"Lebih baik sekarang kamu kembali ke Tanah Air An," Yasmin mengintruksi, meminta Kana segera pulang menemui orang tuanya.
Sebenarnya Kana memang ingin kembali, namun dia dilema, rasanya sangat berat meninggalkan Arfa. Dia juga tidak bisa membawa bocah itu kembali bersama dengannya, jika Kana melakukan itu, sama saja dia ingin membuat sakit Jantung Papanya semakin parah.
"Kamu jangan fikirkan Arfa, dia aman bersama tante, tante akan merawatnya seperti biasa," ucap Yasmin. Sepertinya dia bisa mengerti kehawatiran Kana, karena Wanita itu hanya diam saja dengan raut cemas dan hawatir.
Mendengar penuturan Yasmin, Kana menatap wanita yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya itu. Dia tahu Yasmin akan melakukan apapun untuk menolongnya. "Ta-tapi tan!" sahut Kana terbata.
Wanta cantik itu terdiam, menimbang-nimbang perkataan tantenya. Kana menatap sekilas Arfa yang tengah asik memainkan mainannya. Akhirnya dia mengangguk setuju.
"Jika memang menurut tant Yasmin begitu baik nya, maka Kana akan mendengarkan usulan tante," seloroh Kana kemudian.
"Bereskan dulu semua masalah disana, jika nanti waktunya telah tiba, maka tante dan Arfa akan menyusul kamu," Yasmin memeluk tubuh keponakannya, berharap Kana bisa sedikit tenang dan tidak lagi gelisah memikirkan Arfa.
Setelah menimbang-nimbang dengan seksama, Malam itu juga Kana memutuskan kembali ke Tanah Air. Kana sengaja memesan taksi untuk mengantarkan ia menuju Bandara.
Kana menghujani wajah Arfa dengan kecupan, rasanya begitu sedih harus meninggalkan putranya disini. Apa lagi selama ini Kana tidak pernah pergi jauh. Kana menghela nafas dalam, dia tidak boleh cengeng, di Indonesia ada orang tua yang sangat membutuhkan kehadiran Kana. Toh Kana yakin, Yasmin dan Mrs. lena akan merawat putranya dengan baik.
"Mami berangkat sayang, sabar ya, tunggu Mami," bisik Kana tepat ditelinga Arfa yang sudah terlelap.
"Kana berangkat tante, titip Arfa, dan tolong katakan kepda Mrs. Lena, Kana harus kembali ke Indonesia, maaf karena tidak sempat berpamitan," ucap Kana.
Yasmin mendekap erat tubuh wanita cantik itu. "Iya sayang, hati-hati dijalan, dan jangan hawatir, karena tante akan menjaga Arfa sebaik mungkin," sahut Yasmin.
Flasback off...
"Kita sudah sampai Non," suara Anton membuat lamunan Kana buyar, sontak dia hanya menganggu karena masih bingung.
Anton membuka pintu untuk Kana, mempersilahkan anak majikannya untuk turun. "Mari saya antar menuju ruangan Tuan," ujar Anoton sopan, pria itu berjalan disisi Kana dengan jarak lumayan jauh.
Lagi-lagi Kana hanya merespon dengan anggukan kepala dan mengikuti kemana langkah Anton. Mereka berhenti tepat didepan ruang VVIP, meski Wijaya tengah dalam kondisi kritis, namun Amanda meminta Wijya dibuatkan ruangan khusus untuk VVIP, dan menolak ditempatkan pada ruang ICU.
Perlahan Kana membuka pintu ruangan bercat putih itu, sedangkan Anton tetap berdiri diluar. Pandangan Kana menyapu sekeliling, dimana nampak Mamanya tengah terlelap diatas sofa, sedangkan Papanya masih dalam penangan khusus, karena terlihat begitu banyak alat medis pada tubuhnya.
Mata Kana berkaca-kaca melihat kondisi Papa dan Mamanya. Empat tahun mereka tidak bertemu, dan kini mereka kembali berjumpa namun dengan kondisi Papanya yang memprihatinkan. Kana berjalan menghampiri Amanda yang masih terlelap diatas sofa, wanita paruh baya itu belum menyadari kehadiran Kana disana.
Kana mengusap wajah Amanda dengan lembut, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Nampak sekali guratan kesedihan dan lelah dari wajah tua Mamanya. Sungguh melihat semua ini membuat Kana merasa bersalah. Kana tidak bisa membayangkan jika sampai terjadi sesuatu dan kana sedang tidak berada didekat mereka. Kana jadi berfikir, apakah selama ini dia egois, hanya karena takut dan tidak mau masa lalu kelamnya sampai tercium orang tuanya. Kana bahkan sampai tega tidak pernah mengunjuni mereka, dan sebaliknya, Kana juga tidak mengijinkan kedua orang tuanya datang berkunjung.
"Mah," isak tangis Kana terdengar pilu, membuat Amanda mulai mengerjapkan mata.