
"Ada apa Pak?" tanya Kana.
"Kita harus meeting Ren! Tapi Sera malah pergi begitu saja, sedangkan semua berkas-berkas nya belum disiapkan," sahut Revan dengan raut wajah kesal.
"Semua berkas sudah aku siapakan, kita bisa menghadiri meeting sekarang!" sarkas Kana.
Revan menatap Kana. Alisnya bertaut mendengar ucapan wanita itu. "Siapa yang menyiapkan semuanya?" tanya nya.
"Aku," sahut Kana singkat, membuat Revan terkejut dengan pengakuan wanita itu.
"Kamu?" tanya Revan. Bukan karena tidak mempercayai Kana, namun Kana baru saja datang bekerja hari ini. Bagaimana mungkin Kana bisa mengerjakan semua nya.
Kana mengangguk, membenarkan tebakan Revan. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelsaikan pekerjaan Sera. Kana hanya bisa berdoa semoga semua pekerjaan itu benar.
"Aku tahu mungkin kamu tidak yakin dengan kemampuan ku Van, tapi waktu meeting akan segera dimulai dan tidak ada waktu lagi untuk mengurus semuanya," jelas Kana.
Revan terdiam mencerna ucapan Kana. Benar yang Kana katakan, waktu meeting akan dimulai lima menit lagi. Dan sudah tidak ada waktu jika dia harus menyiapkan semua berkas-berkasnya. Jika tahu Sera akan meninggalkan tugas nya seperti ini sudah tentu Revan yang akan menyiapkan sendiri.
"Ya sudah, kita keruang meeting sekarang. Kamu tidak perlu menjelaskan apapun, biar aku yang menjawab setiap pertanyaan mereka," ucap Revan mengintrupsi.
Kana hanya mengangguk merespon ucapan pria itu. Merek berjalan beriringan menuju ruang meeting yang terletak dilantai lima.
Revan memasuki ruang meeting diikuti Kana dari belakang. Pandangan semua orang yang ada disana tertuju pada Kana. Mereka merasa asing dengan wanita cantik yang ada dibelakang Revan.
Rayan yang tadi sudah bertemu Kana tersenyum menyeringai. Matanya bergerak awas memperhatikan Kana yang berdiri dibelakanh Revan.
Begitupun dengan Tirana. Dia menelisik penampilan Kana dari atas hingga bawah. Semua yang Kana kenakan adalah barang-barang branded.
Sedangkan Radit tersenyum dalam hati. Usia Revan tidak lagi muda, dan ini baru pertama kalinya dia melihat sang putra dekat apa lagi memperhatikan wanita seperti ini.
"Siapa nama mu?" tanya Radit pada Kana.
Kana tersneyum. "Rena Zafira," ujar Kana memperkenalkan diri dengan nama samaran. Beruntung selama ini dia tidak tinggal ditanah air, sehingga orang-orang tidak akan tahu siapa dia yang sebenarnya.
Cukup lama menunggu. Akhirnya meeting itu dimulai tepat pukul 14:30. Kana meletakan berkas-berkas itu kehadapan Revan. Beruntung materi yang akan Revan sampaikan sudah tertulis didalam berkas. Kana hanya tinggal membuat rincian dan mengcopy semuanya agar bisa dibagikan kepada dewan direksi.
Revan merasa ragu untuk menyampaikan materi meeting kali ini. Bagaimanapun Kana yang mengerjakan salinan untuk dibagiakan kepada rekan meeting lainnya.
Melihat Revan yang tidak kunjung membuka suara membuat sudut bibir Tirana terangkat. Dia yakin kini Revan tengah pusing karena materi yang dia sampaikan tidak ada salinananya. Mana mungkin Kana bisa mengerjakan hal itu dihari pertamanya bekerja.
"Mana materi nya? Kenapa malah diam saja," pancing Tirana, membuat beberapa orang yang sedari tadi menunggu ikut membuka suara.
"Tunggu sebentar!" Revan membuka hasil ringkasan yang sudah Kana buat. Dia tidak ingin Kana disudutkan, lebih baik Revan malu dari pada Kana terpojokan.
Revan melirik Kana yanh berdiri disisinya. Dia ingin bertanya bagaimana bisa Kana membuat ringkasan dengan sangat baik. Namun tentu Revan tidak akan menanyakan itu didepan direksi apa lagi Tirana.
"Lama sekali," grutu Tirana. Wanita itu bangkit dan membagikan berkas ringkasan materi yang ada dihadapan Revan.
Tirana begitu bersemangat. Dia yakin jika Kana tidak akan bertahan lama mendampingi Revan. Apalagi jika dihari pertamanya bekerja sudah mendapatkan cacian dan tekanan seperti ini.
"Ayo dimulai," pinta Tirana dengan semangat empat lima.
"Saya akan menerangkan materi yang sudah saya buat. Silahkan dilihat ringkasan yang asisten saya siapkan!" ucap Revan, pria itu mulai menjelaskan meteri prihal proyek pengembangan yang akan diselenggarakan beberapa bulan mendatang.
Kana mencatat apa saja yang Revan katakan. Bahkan dia sudah menyalin semua berkas-berkas itu untuk dia serahkan pada Anton.
Semua yang ada didalam ruang neeting memberikan tepuk tangan pada Revan. Tidak diragukan, semua yang Revan kerjakan selalu membuat mereka puas.
"Luar biasa, materi kali ini sangat saya setuji. Ringkasan yang sudah dibuat pun tidak bertele-tele menjelaskan semua secara terperinci," ucap salah satu dewan direksi yang hadir disana.
Lagi-lagi pujian terus Radit berikan pada Revan. Anak sulung nya tidak pernah mengecewakan. Lain halnya dengan Tirana dan Rayan, apa yang mereka harapkan tidak sesuai yang diinginkan. Bukannya mendapat cacian namun kini mereka harus mendengar pujian untuk Revan dan asisten barunya.
"Semua ini asisten saya yang menyiapkan," puji Revan.
"Pak Revan memang luar biasa, asitennya pun terlihat sangat cerdas. Anda tidak salah dalam memperkerjakan orang, tidak seperti yang sebelumnya," cibir salah satu direksi saat mengingat Sera.
Tirana bangkit dan meninggalkan ruang neeting begitu saja. Dia sangat kesal, jika seperti ini sudah pasti akan semakin sulit baginya mengawasi Revan. Tirana tidak ingin asisten Revan bertahan lama bekerja diperusahan nya. Jika saja bukan karena Radit yang meminta dia memberikan kebebasan kepada Revan sudah tentu Tirana tidak akan pernah menyetuji Revan memperkerjakan Kana.
Meeting itu ditutup dengan hasil yang sangat memuaskan. Revan hanya tinggal melakukan pengembangan, berharap tender berikutnya mereka akan mengalahkan Wijaya group lagi.
"Aku bangga pada mu Van. Aku yakin kamu bisa kembali mengalahkan widjaya group dalam tander mendatang. Seperti tender kemarin," sarkas Radit seraya menepuk bahu putranya.
Kana yang masih setia berdiri dibelakang Revan mendongak menatap tajam Radit yang baru saja menyebut perusahaan Papanya.
"Kita lihat siapa yang akan menang. Tander kemarin kalian bisa mengalahkan perusahaan ku, tapi tander berikutnya aku pastikan kalian yang akan kalah," batin Kana.
Tander yang kini menjadi pembahasan merupakan tander terbesar dari proyek-proyek sebelumnya. Sudah tentu ini akan menjadi ajang perusahan-perusahaan besar untuk memperebutkan nya.
"Anda tidak perlu memuji ku Tuan Radit Eigle. Bukankan ini sudah kewajiban ku untuk memajukan perusahaan istri mu," sahut Revan dengan nada kesal. Pria itu berlalu begitu saja setelah mengatakan itu.
Melihat Revan pergi, Kana pun bergegas mengejarnya. Entah mengapa Kana merasa ada yang aneh dengan percakapan Revan dan Tuan besar Eigle. Kana merasa ucapan Revan tadi seperti sindiran untuk Radit.
Meski Revan menjadi orang penting didalam wilayah Eigle, harusnya dia tidak berkata demikian. Bukankah itu tidak sopan, terkecuali Jika Revan dan Radit memiliki hubungan keluarga.
Kana terkekeh. Dia mendapat tugas tambahan untuk mencari tahu hubungan Revan dan Radit. Kana yakin jika mereka memiliki hubungan lebih dari sekedar atasan dan bawahan.