One Night Stand With Enemy

One Night Stand With Enemy
Bab 23. Rindu



"Tolong terima Ren! Jangan menolak nya, kita butuh berkomunikasi," jelas Revan setengah memaksa.


"Ini terlalu mahal untuk ku," sahut Kana.


Mendapat penolakan dari Kana, tentu saja Revan tidak menyerah. Pria itu terus memaksa agar Kana mau menerima ponsel pemberian nya.


"Kamu bisa mengembalikan uang nya jika nanti sudah bekerja," ucap Revan memberi saran.


Kana terdiam. Sepertinya akan percumah jika dia terus menolak Revan, kini yang Kana inginkan agar Revan segera pergi dari sana. Alhasil Kana menuruti apa yang pria itu katakan. "Baik, aku menerimanya. Nanti setelah aku mendapatkan pekerjaan, aku akan mengganti semua uang mu. Tapi saat ini bisakah kamu pergi! Aku ingin beristirahat," usir Kana.


Revan menghela napas. Niat hati ingin menyantap makan siang bersama Kana. Namun belum apa-apa gadis itu sudah mengusir nya. Revan tidak ingin membantah. Wajar jika Kana masih bersikap seperti itu, ini awal pertemuan mereka, pastilah wanita itu merasa tidak nyaman karenanya.


"Aku akan pergi. Tapi tolong pakai ponsel itu! Makan makanan ini dan minum obat mu!" pintanya.


Kana mengangguk, mengiyakan ucapan Revan berharap dia segera pergi dari sana. "Kamu tidak usah hawatir! Aku bisa menjaga diriku sendiri," ujar Kana.


Revan tersenyum. Dengan berat hati ia melangkah meninggalkan rumah kontrakan itu. "Pakai ponsel itu! Aku akan memberi kabar tentang pekerjaan," seru Revan.


Sepeninggal nya Revan Kana segera menghubungi Anton untuk datang menjemputnya. Tentu Kana harus segera datang menemui sang Papa, karena Papa nya meminta Kana datang.


Pandangan Kana menelisik beberapa paper bag yang tergeletak diatas lantai. Tidak sama sekali Kana berniat membuka nya. Namun setelah menimbang-nimbang, pada akhirnya Kana membuka paper bag berisi ponsel yang Revan berikan. Tentu saja dia membutuhkan ponsel itu untuk berkomunikasi dengan Revan, agar pria itu tidak curiga.


"Hah.. Pandai sekali dia merayu wanita. Pasti dia selalu mencari mangsa dengan memberikan iming-iming barang mewah," guman Kana seraya membuka ponsel itu.


Kana hanya mengaktifkan ponsel itu agar Revan tidak merasa curiga. Tertera satu nomor didalam nya, dan itu nomor Revan sendiri. Karena sepertinya pria itu sudah menyimpannya agar memudahkan dia dalam menghubungi Kana.


Hampir setengah jam Kana menunggu kedatangan Anton, dan tak lama terdengar suara pria itu dari luar.


"Non, non Kana," seru Anton dengan lirih.


Kana membuka pintu kontrakan itu, membawa paper bag yang tadi Revan berikan. "Biar saya yang bawa Non," ucap Anton mengambil alih paper bag yang Kana bawa.


Tidak menolak, Kana memberikan saja paper bag itu pada Anton. "Ton, itu makanan nya kasih keorang aja!" ucap Kana mengintruksi.


Tanpa banyak bertanya Anton mengiyakan perintah Kana. Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir sedikit jauh dari gang. Anton sengaja memarkikan mobilnya lumayan jauh, agar tadi Revan tidak menyadari keberadaan mobil itu.


"Non Kana tunggu disini! Saya ambil mobil," ucap Anton.


Kana mengangguk, wanita cantik itu berdiri tepat ditepi jalan. Beruntung lokasi tempat tinggal yang ia pilih tidak terlalu ramai penduduk. Sebagian orang yang tinggal disana akan beraktifitas jika siang hari, bahkan ada yang sampai malam hari. Sehingga tidak ada orang yang memperhatikan dirinya.


"Silahkan Non," ujar Anton sembari membukakan pintu mobil untuk Kana.


Masih teringat jelas saat pertama kali Revan melihat Kana. Meski empat tahun telah berlalu, namun Revan merasa tidak ada yang berubah. Hanya saja menurutnya Kana semakin cantik dengan tubuh sedikit berisi.


Tekat Revan sudah bulat untuk memperkerjakan Kana dibawah naungannya. Revan tidak ingin lagi Kana menghilang dari pantauan nya, sehingga sebisa mungkin Revan akan berusaha membuat Kana tetap ada disamping nya.


Revan bergegas mengemasi semua barang-barangnya. Rencana nya hari ini dia akan menemui sang Papa. Diizinkan atau tidak, Revan akan tetap memperkerjakan Kana sebagi asistennya. Meski sudah ada Graita tangan kanan Tirana.


"Apa Papa tahu soal ini Ton?" tanya Kana seraya melirik Anton yang nampak fokus mengemudi.


Anton menggeleng. "Tidak non, saya tidak memberi tahu Tuan besar," sahut Nya.


"Lebih baik begitu, biarkan ini menjadi urusan ku," tekan Kana.


"Kalau boleh tahu, apa sebenarnya rencana non Kana? Jika saya perhatikan tuan Revan begitu cemas seperti sangat mengenal non Kana. Apa sebelum nya kalian sudah saling mengenal?" tanya Anton ragu-ragu.


Kana terdiam. Wanita cantik itu mengamati setiap bangunan yang ia lewati. Tidak mungkin Kana mengatakan apa yang sebenarnya pernah terjadi antara dia dan Revan. Biarlah Anton mengira dirinya melakukan ini demi prusahaan.


"Tidak, kami hanya pernah bertemu beberpa tahun lalu," bohong Kana.


Ucapan Kana sama sekali tidak membuat Anton percaya. Dia bukan orang bodoh yang baru saja terjun didunia bisnis. Hampir 12 tahun Anton mendampingi Wijaya, tentu sedikit banyak Anton paham seperti apa sikap dan sifat para pembisnis, terutama Revan. Bukan rahasia jika banyak orang mengatakan Revan penyuka sesama jenis, karena tidak pernah nampak ia berkencan dengan seorang wanita. Tapi setelah melihat perhatian dan kehawatiran Revan kepada Kana, tentu saja Anton tidak percaya dengan rumor tersebut. Namun tentu dia juga tidak kuasa untuk mencecar sang majikan.


"Saya tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Tapi jika boleh saya hanya ingin berpesan, agar non Kana hati-hati," sarkas Anton yang sebenarnya hawatir. Jika Wijaya tahu apa yang tengah Kana lakukan, sudah tentu Anton lah yang akan terkena imbas nya.


"Kamu tidak perlu hawatir! Tetap rahasiakan ini! aku akan pastikan jika prusahaan kita bisa memenangkan tender berikut nya," ujar Kana dengan yakin.


Anton mengangguk. "Akan saya usahakan non," timpal pria itu.


Terdengar sebuah notifikasi dari ponselnya. Nampak nama sang tante terpampang disana, mengirimkan foto Arfa yang tengah menggambar. Seketika membuat Kana menitikan air mata. Sudah sepekan dia dan sang putra tidak bertemu. Bahkan mendengar suaranya pun tidak, tentu saja hal itu membuat Kana terluka.


Sebisa mungkin Kana tetap mengendalikan dirinya. Dia tidak ingin apa yanh sudah disusun nya menjadi kacau. Biarlah rasa rindu ini ia tampung terlebih dahulu, sampai semua urusannya terselsaikan. Dan Kana bisa mengakui Arfa dihadapan kedua orang tuanya.


Kana memandangi layar ponselnya. Foto dirinya dan Arfa menjadi layar utama pada ponsel itu. Sebuah Foto yang diambil ketika Arfa berusia 2,5 tahun.



Kana mengusap foto itu. Terkadang ingin rasanya Kana meminta Arfa datang kemari. Namun tentu Kana tidak bisa melakukan nya. Apa lagi kondisi sang Papa baru saja membaik.


"Sabar ya sayang! Mami akan menyelsaikan semuanya. Maafkan mami meninggalkan kamu disana. Mami janji akan menjemput Arfa jika waktu nya telah tiba," guman Kana lirih dengan setitik air disudut matanya.